7 Sikap Istri yang Sering Menyakiti Suami, Apa Saja?

Dini Koswarini
4 Min Read
Foto: Freepik

PERNIKAHAN bukan hanya tentang tinggal serumah.
Ia adalah perjalanan dua manusia untuk saling menjaga, menghormati, dan menguatkan.

Namun, dalam kehidupan rumah tangga, terkadang ada sikap-sikap kecil yang dianggap biasa, padahal perlahan dapat melukai hati pasangan.

Seorang istri tentu memiliki hak untuk menyampaikan keluhan, meminta perhatian, bahkan menegur suami ketika ada kesalahan. Tetapi cara menyampaikannya tetap perlu dijaga agar tidak berubah menjadi sesuatu yang menyakiti.

Berikut beberapa sikap istri yang sebaiknya dihindari.

1. Sering Membandingkan Suami

“Suami orang lain bisa begini, kenapa kamu tidak?”

Kalimat semacam ini mungkin keluar karena kecewa. Namun, jika terlalu sering diucapkan, suami bisa merasa bahwa dirinya tidak pernah cukup baik.

Membandingkan suami dengan laki-laki lain juga dapat menghilangkan rasa penghargaan dalam rumah tangga.

Lebih baik sampaikan kebutuhan secara langsung tanpa menjadikan orang lain sebagai ukuran.

BACA JUGA:  Bolehkah Suami “Minta” Saat Istri Sedang Sakit?

2. Meremehkan Usaha Suami

Tidak semua suami mampu memberikan segala sesuatu yang diinginkan istrinya.

Ada yang bekerja keras tetapi penghasilannya terbatas. Ada yang sudah berusaha memberikan yang terbaik, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.

Ketika usaha tersebut terus diremehkan, suami bisa merasa bahwa perjuangannya tidak dihargai.

Padahal, apresiasi sederhana seperti “terima kasih sudah berusaha” dapat menjadi kekuatan besar bagi seorang suami.

3. Membuka Aib Suami kepada Orang Lain

Masalah rumah tangga seharusnya tidak menjadi bahan cerita kepada siapa saja.

Menceritakan kekurangan suami kepada teman, keluarga, atau bahkan di media sosial dapat mempermalukan pasangan dan merusak kepercayaan.

Jika membutuhkan nasihat, pilih orang yang amanah dan benar-benar mampu membantu menyelesaikan masalah.

https://s.shopee.co.id/6ffAxhwoiH

4. Mengungkit Kesalahan Masa Lalu

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan.

Jika suatu masalah sudah diselesaikan dan dimaafkan, jangan terus-menerus menjadikannya senjata ketika terjadi pertengkaran baru.

“Dulu kamu juga pernah begitu.”

Kalimat seperti ini membuat persoalan lama terus hidup.

Rumah tangga membutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah, belajar dari kesalahan, kemudian melangkah kembali bersama.

5. Berbicara dengan Nada Merendahkan

Perkataan yang kasar dapat meninggalkan luka lebih lama daripada yang kita bayangkan.

Suami mungkin tidak selalu membalas ketika hatinya tersakiti. Namun, diam bukan berarti tidak terluka.

Karena itu, ketika sedang marah, tetaplah menjaga lisan. Teguran boleh disampaikan, tetapi penghinaan dan perendahan tidak akan membuat masalah menjadi lebih baik.

6. Mengabaikan Kebaikan Suami

Manusia cenderung lebih mudah mengingat satu kesalahan daripada sepuluh kebaikan.

Seorang istri bisa saja begitu fokus pada kekurangan suami sampai lupa terhadap nafkah, perhatian, perlindungan, dan pengorbanan yang telah diberikan.

Rasulullah ﷺ pernah memperingatkan tentang sikap mengingkari kebaikan pasangan.

Karena itu, biasakan melihat kebaikan suami, bukan hanya kekurangannya.

Wewangian, Asma binti Abu Bakar, Jima, Perceraian, Istri
Foto: Freepik

7. Menjadikan Rumah sebagai Tempat Pertengkaran

Rumah seharusnya menjadi tempat seseorang menemukan ketenangan setelah menghadapi beratnya kehidupan.

Jika setiap kepulangan suami selalu disambut dengan keluhan, kemarahan, atau pertengkaran, rumah bisa kehilangan fungsi tersebut.

Tentu bukan berarti istri harus memendam semua masalah. Tetapi pilihlah waktu yang tepat untuk berbicara.

Sampaikan dengan tenang. Fokus pada masalah, bukan menyerang pribadi.

BACA JUGA:  Istri Tidak Pernah Mau Diajak ke Rumah Orang Tua Suami, Gimana?

Rumah Tangga Membutuhkan Dua Hati yang Mau Belajar

Pada akhirnya, pembahasan ini bukan untuk menyalahkan istri.

Sebab, suami pun memiliki banyak kewajiban untuk menjaga hati istrinya. Pernikahan tidak akan menjadi baik jika hanya satu pihak yang berusaha.

Allah ﷻ berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)

Maka, baik suami maupun istri perlu belajar memperbaiki cara berbicara, mengendalikan emosi, menghargai pasangan, dan menutup aib satu sama lain.

Sebab rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga tanpa masalah.

Melainkan rumah tangga yang ketika masalah datang, keduanya memilih untuk saling memperbaiki, bukan saling melukai. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *