Apa Alasan Muslim yang Tak Pernah Baca Al-Quran Satu Ayat Pun dalam Satu Hari?

Yudi
By Yudi
8 Min Read
Foto: Islampos AI

ADA sesuatu yang cukup mengherankan dalam kehidupan seorang Muslim. Dalam sehari, kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bekerja, bermain media sosial, menonton video, membaca berita, bermain game, atau sekadar bersantai. Namun untuk membaca Al-Quran satu ayat saja, terkadang terasa begitu berat.

Padahal Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang disimpan di rak rumah. Bagi seorang Muslim, Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup, bacaan dalam shalat, sumber nasihat, dan pengingat agar manusia tidak kehilangan arah. Tetapi kenyataannya, masih ada orang yang berhari-hari bahkan berminggu-minggu tidak membuka Al-Qur’an sama sekali.

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?

BACA JUGA: Kenapa Harus Terus Baca Al-Quran?

1. Merasa tidak punya waktu

Alasan yang paling sering muncul adalah kesibukan. Pagi bekerja, siang menghadapi berbagai urusan, sore masih di perjalanan, malam sudah lelah. Akhirnya membaca Al-Quran selalu dianggap sebagai kegiatan yang bisa dilakukan nanti ketika ada waktu luang.

Masalahnya, waktu luang sering tidak pernah benar-benar datang. Ketika ada waktu kosong beberapa menit, tangan justru lebih cepat mengambil ponsel. Kita mungkin mengatakan tidak punya waktu membaca Al-Quran, tetapi dalam sehari ternyata bisa menghabiskan puluhan menit atau bahkan berjam-jam melihat konten yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Ini bukan selalu persoalan tidak memiliki waktu, tetapi persoalan menentukan prioritas.

2. Merasa membaca Al-Qur’an harus banyak

Sebagian orang memiliki pemikiran bahwa kalau membaca Al-Quran harus banyak sekalian. Harus satu juz, harus beberapa halaman, atau harus menyediakan waktu khusus yang panjang. Karena merasa tidak sanggup melakukan sebanyak itu, akhirnya tidak membaca sama sekali.

Padahal kebiasaan besar sering dimulai dari sesuatu yang kecil. Membaca satu halaman lebih baik daripada tidak membaca sama sekali. Bahkan jika seseorang hanya mampu membaca beberapa ayat dengan konsisten, itu jauh lebih baik daripada terus menunggu waktu ideal yang tidak kunjung datang.

Jangan biarkan keinginan melakukan banyak hal membuat kita tidak melakukan apa pun.

3. Tidak merasa dekat dengan Al-Qur’an

Ada orang yang sebenarnya ingin membaca Al-Quran, tetapi merasa hubungannya dengan Al-Qur’an sudah jauh. Ketika membuka mushaf, ia merasa asing, sulit memahami makna, atau tidak tahu harus mulai dari mana.

Perasaan tersebut bisa membuat seseorang semakin jarang membaca. Semakin jarang membaca, semakin jauh pula rasa kedekatannya. Akhirnya terbentuk lingkaran yang membuat Al-Qur’an terasa semakin berat untuk disentuh.

Padahal cara mengatasinya justru dengan mulai kembali. Tidak perlu menunggu hati terasa sangat khusyuk. Ambillah mushaf dan mulai membaca sedikit demi sedikit.

4. Merasa bacaan Al-Qur’annya tidak lancar

Sebagian Muslim menghindari membaca karena merasa tajwidnya belum baik atau bacaannya masih terbata-bata. Mereka takut salah dan malu jika diketahui orang lain.

Padahal belajar membaca Al-Quran memang membutuhkan proses. Tidak semua orang langsung mampu membaca dengan lancar. Kesalahan dalam belajar seharusnya menjadi alasan untuk terus memperbaiki diri, bukan alasan untuk meninggalkan Al-Qur’an.

Jangan menunggu bacaan sempurna baru mulai membaca. Justru dengan sering membaca, kemampuan kita akan semakin terlatih.

https://s.shopee.co.id/1qa5hCNGBt

5. Terlalu banyak distraksi dari ponsel

Ponsel telah menjadi salah satu penyebab terbesar perhatian manusia mudah terpecah. Baru beberapa menit ingin membaca Al-Quran, muncul notifikasi. Setelah membuka satu pesan, kita berpindah ke media sosial. Dari satu video menuju video berikutnya, tanpa terasa waktu berlalu begitu lama.

Ironisnya, kita bisa mengetahui berbagai informasi dari seluruh dunia setiap hari, tetapi lupa meluangkan waktu untuk membaca firman Allah.

Teknologi sebenarnya bukan musuh. Ponsel bahkan bisa digunakan untuk membaca Al-Quran, mendengarkan murattal, dan mempelajari tafsir. Masalahnya adalah ketika teknologi mengambil hampir seluruh waktu dan perhatian kita.

6. Hati terlalu sibuk mengejar dunia

Ketika pikiran dipenuhi pekerjaan, uang, bisnis, cicilan, hubungan sosial, dan berbagai keinginan duniawi, Al-Qur’an bisa terasa tidak mendesak. Kita sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki sampai lupa memperhatikan sesuatu yang sebenarnya sangat kita butuhkan.

Dunia memang harus diurus. Mencari nafkah juga merupakan kewajiban. Tetapi jangan sampai kesibukan mengejar kehidupan dunia membuat kita lupa mempersiapkan kehidupan akhirat.

Al-Qur’an seharusnya menjadi bagian dari perjalanan hidup, bukan sesuatu yang baru dicari ketika sedang menghadapi masalah.

7. Baru membaca ketika sedang mendapatkan masalah

Ada pula orang yang baru rajin membaca Al-Quran ketika sedang mengalami kesulitan. Ketika bisnis bangkrut, hubungan rumah tangga bermasalah, sakit, kehilangan pekerjaan, atau menghadapi persoalan berat, Al-Qur’an kembali dicari.

Tidak ada yang salah dengan kembali kepada Allah ketika sedang susah. Justru itu adalah hal yang baik. Tetapi alangkah lebih baik jika hubungan dengan Al-Qur’an dibangun ketika keadaan sedang lapang maupun sempit.

Jangan hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai tempat mencari pertolongan ketika kita membutuhkan sesuatu.

8. Tidak menyadari betapa besar kebutuhan kita terhadap Al-Qur’an

Mungkin inilah alasan yang paling mendasar. Seseorang bisa saja mengetahui bahwa membaca Al-Qur’an adalah ibadah, tetapi belum benar-benar menyadari bahwa dirinya membutuhkan Al-Qur’an.

Kita makan setiap hari karena sadar tubuh membutuhkan makanan. Kita tidur karena sadar tubuh membutuhkan istirahat. Kita bekerja karena sadar ada kebutuhan yang harus dipenuhi.

Lalu bagaimana dengan hati?

Hati juga membutuhkan asupan. Salah satu sumbernya adalah mengingat Allah dan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Jika hati terus-menerus diisi oleh dunia, hiburan, kecemasan, dan berbagai informasi tanpa pernah diberi kesempatan kembali kepada Allah, jangan heran jika hati terasa kosong meskipun kehidupan terlihat baik-baik saja.

Karena itu, jangan bertanya, “Apakah saya punya waktu untuk membaca Al-Qur’an?” Cobalah mengubah pertanyaannya menjadi, “Berapa banyak waktu yang pantas saya berikan kepada Al-Qur’an dalam satu hari?”

Tidak harus langsung satu juz. Tidak harus membaca berjam-jam. Mulailah dengan sesuatu yang realistis. Misalnya setelah shalat Subuh membaca beberapa ayat, setelah Maghrib membaca satu halaman, atau sebelum tidur membaca beberapa ayat beserta terjemahannya.

Yang penting bukan hanya banyaknya halaman yang dibaca, tetapi adanya hubungan yang terus dijaga.

Jangan pula merasa terlalu berdosa sehingga malu kembali kepada Al-Qur’an. Justru ketika kita menyadari bahwa selama ini kita telah jauh, itulah saat yang tepat untuk mendekat kembali.

Bayangkan jika seseorang memiliki surat dari orang yang sangat dicintainya, tetapi surat itu tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun. Bukankah terasa aneh jika ia mengatakan mencintai orang tersebut tetapi tidak pernah tertarik membaca pesannya?

BACA JUGA: Apa Sikap Kita terhadap Imam Shalat yang Bacaan Al-Qurannya Hancur?

Maka, mari kita bertanya kepada diri sendiri: kapan terakhir kali kita membaca Al-Qur’an dengan benar-benar meluangkan waktu, bukan sekadar membacanya ketika ada acara tertentu?

Jika hari ini belum membaca satu ayat pun, mungkin tidak perlu menunggu besok. Ambil mushaf, buka, dan bacalah meskipun hanya beberapa ayat.

Sebab masalah terbesar bukan ketika bacaan kita masih sedikit. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kita sudah tidak merasa membutuhkan Al-Qur’an sama sekali.

Dan mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan, “Mengapa saya tidak pernah membaca Al-Qur’an?” tetapi, “Apa yang membuat saya bisa punya waktu untuk begitu banyak hal, tetapi tidak punya waktu untuk firman Allah?” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *