Bolehkah Menjilat Atasan agar Karier Kerja Lancar?

Yudi
By Yudi
16 Min Read
Foto: Unsplash

DI dunia kerja, ada orang yang naik jabatan karena kemampuan dan hasil kerjanya. Ada pula yang kariernya berkembang karena pandai membangun hubungan dengan atasan, sehingga ia lebih mudah mendapatkan kepercayaan dan kesempatan. Namun ada juga orang yang menggunakan cara lain, seperti memuji berlebihan, mencari muka, membela semua kesalahan bos, bahkan menjatuhkan rekan kerja agar dirinya terlihat paling loyal.

Perilaku seperti ini sering disebut “menjilat atasan”. Dalam kehidupan kantor, perilaku tersebut kadang dianggap sebagai strategi untuk bertahan hidup dan mempercepat karier. Tetapi sebagai seorang Muslim, kita perlu bertanya, apakah semua cara untuk mendapatkan perhatian atasan boleh dilakukan demi mendapatkan jabatan dan penghasilan yang lebih besar?

Jawabannya tergantung pada apa yang dimaksud dengan “menjilat”. Jika seseorang hanya berusaha bersikap sopan, menghormati atasan, menjaga komunikasi, menunjukkan loyalitas terhadap pekerjaan, dan memberikan pujian yang memang sesuai kenyataan, hal tersebut tidak otomatis menjadi sesuatu yang haram. Tetapi jika dilakukan dengan kebohongan, kemunafikan, fitnah, menjatuhkan orang lain, atau mengambil hak orang yang lebih layak, maka persoalannya menjadi serius.

BACA JUGA: Suami Nganggur, Istri yang Kerja, Bolehkah dalam Islam?

Menghormati Atasan Bukan Berarti Menjilat

Seorang karyawan memang perlu menghormati atasannya. Berbicara dengan sopan, mengikuti aturan perusahaan, datang tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan baik, dan menjaga komunikasi merupakan bagian dari profesionalitas. Menghargai atasan tidak membuat seseorang menjadi penjilat selama penghormatan tersebut dilakukan secara wajar dan tidak disertai kebohongan.

Kalau atasan berhasil menyelesaikan masalah besar, kita boleh mengapresiasinya. Kalau atasan memberikan arahan yang baik, kita boleh mengucapkan terima kasih, dan kalau hasil kerja atasan memang bagus, kita juga boleh memberikan pujian. Yang menjadi masalah adalah ketika pujian diberikan bukan karena kebenaran, melainkan semata-mata agar kita mendapatkan keuntungan pribadi.

Atasan melakukan kesalahan tetapi kita mengatakan bahwa keputusannya selalu benar. Atasan mengambil keputusan yang buruk tetapi kita membelanya hanya karena takut kehilangan posisi, bahkan kita ikut menyalahkan orang lain agar atasan terlihat tidak bersalah. Jika kebiasaan seperti ini dilakukan terus-menerus, hubungan kerja sudah tidak lagi dibangun di atas kejujuran.

Islam Tidak Mengajarkan Mencari Keuntungan dengan Kebohongan

Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 70, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” Ayat ini mengingatkan bahwa seorang Muslim harus menjaga kejujuran dalam perkataan, termasuk ketika berada di tempat kerja dan berhadapan dengan orang yang memiliki kekuasaan atas dirinya. Jangan sampai kebutuhan terhadap jabatan membuat seseorang menganggap kebohongan sebagai hal yang wajar.

Jika pekerjaan kita memang bagus, tunjukkan hasilnya. Jika memiliki prestasi, sampaikan secara wajar, dan jika memiliki kemampuan tertentu, biarkan kemampuan tersebut menjadi alasan mengapa perusahaan mempertimbangkan kita. Tidak perlu menciptakan citra palsu atau memberikan pujian yang tidak sesuai kenyataan hanya untuk mendapatkan perhatian atasan.

Karier yang dibangun di atas kebohongan mungkin terlihat menguntungkan untuk sementara. Namun ketika kebohongan terbongkar, kepercayaan yang telah dibangun bisa hilang, bahkan kerugian yang muncul bisa jauh lebih besar daripada keuntungan yang pernah didapatkan. Seorang Muslim seharusnya lebih takut kehilangan keberkahan daripada kehilangan sebuah jabatan.

Bagaimana Jika Kita Memang Harus Pandai Mengambil Hati Atasan?

Dalam dunia profesional, kemampuan membangun hubungan memang penting. Kita perlu mengetahui cara berkomunikasi dengan atasan, memahami gaya kepemimpinannya, menyampaikan masalah dengan tepat, dan membangun kepercayaan agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik. Semua itu bukan berarti menjilat, karena hubungan kerja yang sehat memang membutuhkan komunikasi dan sikap saling menghargai.

Perbedaannya terletak pada kejujuran dan tujuan. Orang yang profesional berusaha membuat hubungan kerja menjadi sehat agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik, sedangkan orang yang menjilat cenderung menjadikan hubungan tersebut sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Ia bisa saja mengatakan sesuatu yang tidak benar selama hal itu membuat dirinya mendapatkan posisi yang lebih baik.

Misalnya seorang karyawan berkata, “Menurut saya laporan ini masih perlu diperbaiki karena ada beberapa data yang belum masuk.” Kalimat tersebut mungkin tidak langsung membuat atasan senang, tetapi disampaikan demi kebaikan pekerjaan dan berdasarkan fakta. Sebaliknya, jika laporan jelas-jelas memiliki kesalahan tetapi kita mengatakan “Sudah sempurna, Pak, tidak ada yang perlu diperbaiki” hanya agar mendapatkan pujian, maka kita telah mengorbankan kejujuran demi kepentingan pribadi.

Lebih Berbahaya Jika Menjilat dengan Menjatuhkan Rekan Kerja

Ada bentuk menjilat yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar memuji atasan secara berlebihan. Seseorang ingin mendapatkan promosi, kemudian mulai membicarakan keburukan rekan kerjanya kepada atasan, membesar-besarkan kesalahan kecil, dan sengaja menyembunyikan prestasi orang lain. Tujuannya bukan lagi memperbaiki pekerjaan, melainkan membuat dirinya terlihat lebih baik dengan cara merusak citra orang lain.

Jika informasi yang disampaikan benar pun kita harus berhati-hati dengan niat dan caranya. Apalagi jika seseorang sengaja menyampaikan informasi yang tidak benar, memfitnah, mengadu domba, atau membuka aib rekan kerja hanya agar mendapatkan perhatian pimpinan. Mendapatkan jabatan dengan cara menghancurkan reputasi orang lain bukanlah keberhasilan yang layak dibanggakan.

Seorang Muslim harus takut mengambil sesuatu yang bukan haknya. Jika ada seseorang yang lebih layak mendapatkan promosi karena kemampuan, pengalaman, dan hasil kerja, jangan berusaha menyingkirkannya melalui cara-cara yang tidak jujur. Jabatan bukan hanya fasilitas, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Jangan Memuji Atasan Secara Berlebihan

Pujian dalam Islam tidak berarti selalu dilarang. Kita boleh memuji seseorang karena kebaikannya, keberhasilannya, atau prestasi yang memang benar-benar ia lakukan. Namun pujian yang berlebihan dan tidak sesuai kenyataan bisa menjadi masalah, terutama jika tujuan utamanya adalah mendapatkan keuntungan pribadi.

Misalnya seseorang berkata, “Pak, tidak ada pemimpin sehebat Bapak, semua keputusan Bapak pasti benar.” Padahal sebenarnya ia mengetahui bahwa keputusan tersebut keliru, tetapi ia tetap mengucapkannya karena berharap mendapatkan posisi atau perlakuan khusus. Dalam kondisi seperti ini, pujian bukan lagi sekadar penghargaan, melainkan sudah menjadi alat untuk memanipulasi keadaan.

Lebih baik memberikan pujian yang jujur dan spesifik. Misalnya, “Keputusan Bapak tadi membantu tim menyelesaikan masalah lebih cepat,” jika memang demikian kenyataannya. Pujian yang berdasarkan fakta jauh lebih sehat daripada sanjungan kosong yang hanya bertujuan mengambil hati.

Bagaimana Jika Atasan Memang Suka Karyawan yang Memuji?

Ini adalah realitas yang mungkin ditemukan di berbagai tempat kerja. Ada atasan yang memang senang dipuji dan lebih mudah memberikan perhatian kepada karyawan yang pandai mengambil hati, sementara karyawan yang bekerja diam-diam terkadang justru kurang terlihat. Kondisi seperti ini bisa membuat karyawan yang jujur merasa kalah dalam persaingan.

Namun jangan langsung menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah ikut menjilat. Tetaplah profesional, bangun komunikasi yang baik, dokumentasikan hasil pekerjaan, dan sampaikan prestasi secara wajar agar atasan mengetahui kontribusi kita. Jika terjadi ketidakadilan yang serius, gunakan mekanisme yang tersedia sesuai aturan perusahaan daripada membalasnya dengan tindakan yang sama buruknya.

Jangan membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan. Jika orang lain menggunakan cara yang tidak sehat untuk mendapatkan jabatan, kita tidak perlu mengikuti cara tersebut hanya karena takut tertinggal. Percayalah bahwa rezeki seseorang tidak hanya bergantung pada penilaian seorang atasan.

Rezeki Tidak Hanya Datang dari Atasan

Kadang seseorang terlalu takut kehilangan pekerjaan karena menganggap atasannya sebagai pihak yang menentukan seluruh rezekinya. Atasan memang bisa memberikan promosi, kenaikan gaji, atau kesempatan tertentu, tetapi seorang Muslim meyakini bahwa manusia hanyalah salah satu perantara. Allah-lah yang pada hakikatnya menentukan rezeki setiap hamba.

Atasan bisa memberikan promosi, tetapi Allah yang menentukan apakah promosi tersebut benar-benar terjadi. Atasan bisa menahan kenaikan gaji, tetapi Allah memiliki banyak jalan untuk memberikan rezeki kepada seseorang. Bahkan ketika perusahaan mengalami masalah atau seseorang kehilangan pekerjaannya, Allah tetap mampu membuka pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Karena itu, hormati atasan tetapi jangan sampai menggantungkan hati sepenuhnya kepada manusia. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tingkatkan kemampuan, dan jaga hubungan profesional dengan orang lain. Pada saat yang sama, tetaplah berdoa dan bertawakal kepada Allah karena manusia tidak memiliki kuasa mutlak atas kehidupan kita.

Bolehkah Memuji Atasan?

Memuji atasan pada dasarnya tidak otomatis salah. Jika pujian tersebut benar, disampaikan secara wajar, dan tidak bertujuan menipu atau mengambil hak orang lain, maka hal tersebut berbeda dengan menjilat dalam pengertian negatif. Seorang karyawan bahkan seharusnya mampu memberikan apresiasi yang tulus kepada siapa pun yang memang melakukan pekerjaan dengan baik.

Bolehkah dekat dengan atasan? Tentu boleh, karena hubungan yang baik antara pimpinan dan karyawan dapat membantu pekerjaan menjadi lebih efektif. Bolehkah menunjukkan loyalitas? Boleh, selama loyalitas tersebut tidak membuat kita mendukung kebatilan atau melakukan sesuatu yang melanggar aturan dan agama.

Bolehkah berharap mendapatkan promosi? Tentu saja boleh. Yang harus diperhatikan bukan hanya apa yang kita inginkan, tetapi bagaimana cara mendapatkannya. Jangan sampai keinginan terhadap jabatan membuat kita menyuap, memfitnah, berbohong, menjatuhkan rekan kerja, atau mengambil hak orang yang sebenarnya lebih layak.

Jika Atasan Melakukan Kesalahan, Haruskah Kita Diam?

Tidak selalu demikian. Karyawan yang baik bukanlah orang yang selalu mengatakan “iya” kepada atasannya, melainkan orang yang mampu memberikan masukan ketika memang diperlukan. Jika keputusan atasan berpotensi menimbulkan masalah, sampaikan dengan cara yang sopan dan berdasarkan fakta.

Jika ada kesalahan data, koreksi dengan cara yang baik. Jika ada risiko yang belum dipertimbangkan, ingatkan, dan jika ada tindakan yang jelas-jelas melanggar aturan atau merugikan orang lain, jangan ikut melakukannya hanya karena takut karier terganggu. Keberanian menyampaikan kebenaran harus tetap disertai kebijaksanaan agar nasihat tidak berubah menjadi penghinaan.

Menyampaikan kritik juga memiliki adab. Tidak perlu mempermalukan atasan di depan banyak orang jika masalah tersebut sebenarnya bisa dibicarakan secara pribadi, karena tujuan kita seharusnya memperbaiki masalah, bukan menunjukkan bahwa kita lebih pintar daripada pimpinan. Sikap seperti ini justru dapat membuat hubungan kerja menjadi lebih sehat dan profesional.

Karier yang Baik Bukan Hanya Tentang Naik Jabatan

Kadang kita terlalu fokus mengejar jabatan. Kita ingin menjadi supervisor, kemudian manager, kemudian direktur, dan seterusnya, seolah-olah semakin tinggi posisi seseorang berarti semakin sukses kehidupannya. Tidak ada yang salah dengan memiliki cita-cita tinggi, tetapi seorang Muslim perlu melihat kesuksesan dari sudut yang lebih luas.

Tanyakan kepada diri sendiri apakah jabatan tersebut membuat kita semakin amanah. Apakah penghasilan yang diperoleh tetap halal, apakah kita mendapatkan posisi tersebut dengan cara yang benar, dan apakah setelah mendapatkan jabatan kita justru menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena jabatan bukan hanya membawa fasilitas, tetapi juga membawa tanggung jawab.

Gaji yang meningkat memang menyenangkan, tetapi kehilangan kejujuran demi mendapatkan gaji yang lebih tinggi bukanlah keuntungan yang sempurna. Jabatan yang tinggi juga tidak otomatis membuat seseorang mulia jika ia menggunakannya untuk menzalimi bawahan. Kesuksesan seorang Muslim bukan hanya ketika kariernya meningkat, tetapi ketika peningkatan tersebut tetap membawa keberkahan dalam kehidupan.

Lebih Baik Karier Lambat tetapi Halal

Tidak semua orang harus naik jabatan dengan cepat. Ada orang yang kariernya berkembang perlahan karena memilih tetap jujur, tidak mengambil kredit atas pekerjaan orang lain, dan tidak mau mengikuti permainan kantor yang tidak sehat. Mungkin untuk sementara ia terlihat kalah dibandingkan orang yang pandai mencari muka, tetapi perjalanan hidup tidak berhenti pada penilaian manusia.

Ada keberkahan yang tidak selalu terlihat di slip gaji. Ada ketenangan ketika kita mengetahui bahwa penghasilan diperoleh dengan cara yang benar, ada harga diri ketika kita tidak perlu merendahkan orang lain demi mendapatkan posisi, dan ada ketenangan ketika kita tidak takut kebohongan terbongkar. Semua hal tersebut memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar terlihat sukses di mata manusia.

Karena itu, jangan terlalu khawatir jika karier kita berjalan lebih lambat daripada orang lain. Selama kita terus belajar, bekerja dengan baik, menjaga kejujuran, dan memperbaiki kualitas diri, tetap ada nilai dalam perjalanan tersebut. Yang penting adalah jangan sampai ambisi mendapatkan jabatan membuat kita kehilangan prinsip yang seharusnya kita pertahankan.

Jadi, Bolehkah Menjilat Atasan agar Karier Lancar?

Kalau yang dimaksud menjilat adalah bersikap sopan, menghormati atasan, membangun hubungan profesional, memberikan apresiasi yang jujur, dan menunjukkan kinerja terbaik, maka hal tersebut tidak otomatis menjadi sesuatu yang dilarang. Hubungan baik dengan atasan justru dapat membantu komunikasi dan membuat pekerjaan berjalan lebih efektif. Yang harus dijaga adalah jangan sampai hubungan tersebut berubah menjadi kemunafikan dan manipulasi.

BACA JUGA: Benarkah Pekerjaan Semakin Susah, atau Orang Semakin Malas Berusaha?

Namun jika menjilat berarti memuji dengan kebohongan, mencari muka, membela kesalahan atasan, menjatuhkan rekan kerja, memfitnah, memanipulasi penilaian, atau mengambil hak orang lain, maka seorang Muslim seharusnya menjauhinya. Karier memang penting, penghasilan juga penting, dan mendapatkan promosi tentu merupakan sesuatu yang menyenangkan. Tetapi semua itu tidak layak dibayar dengan mengorbankan kejujuran dan keberkahan.

Bekerjalah sebaik mungkin, hormati atasan, bangun hubungan yang sehat, dan tunjukkan prestasi melalui hasil kerja. Jika perlu memberikan kritik, lakukan dengan cara yang bijaksana, dan jika mendapatkan pujian, terimalah tanpa harus membalasnya dengan sanjungan yang tidak jujur. Jangan jadikan menjilat sebagai strategi utama untuk mendapatkan karier.

Lebih baik naik jabatan karena kemampuan daripada naik jabatan karena kebohongan. Lebih baik mendapatkan rezeki dengan cara yang halal meskipun perlahan daripada memperoleh keuntungan besar melalui cara yang membuat hati tidak tenang. Sebab jabatan hanya akan menemani kita selama di dunia, sedangkan kejujuran, amanah, dan amal baik akan menjadi bekal ketika kita kembali kepada Allah. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *