Kenapa Ada Orang yang Hidupnya Mudah Sejak Lahir, Ada Juga yang Susah Seumur Hidup?

Yudi
By Yudi
14 Min Read
Foto: Freepik

PERNAHKAH kita melihat seseorang yang sejak lahir seolah-olah hidupnya sudah dipermudah? Ia lahir dari keluarga berada, mendapatkan pendidikan yang bagus, tidak kesulitan mencari pekerjaan, bahkan ketika ingin memulai usaha sudah ada modal dari orang tua. Sementara di sisi lain, ada orang yang sejak kecil harus berjuang, makan saja harus berpikir, sekolah sambil bekerja, dan setelah dewasa masih harus berjuang keras untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

Melihat kenyataan seperti ini, tidak sedikit orang kemudian bertanya dalam hati, “Kalau Allah Mahaadil, mengapa kehidupan manusia begitu berbeda?” Mengapa ada orang yang sejak lahir mendapatkan banyak fasilitas, sementara orang lain harus memulai semuanya dari nol? Mengapa ada yang baru berusaha sedikit sudah mendapatkan hasil besar, sedangkan yang lain bekerja keras selama bertahun-tahun tetapi kehidupannya masih begitu-begitu saja?

Pertanyaan seperti ini sebenarnya sangat manusiawi. Apalagi ketika seseorang sudah berusaha sekuat tenaga, berdoa setiap hari, tetapi kondisi kehidupannya tidak kunjung berubah. Pada saat yang sama, ia melihat orang lain yang tampaknya tidak perlu berjuang sekeras dirinya justru mendapatkan banyak kemudahan.

Namun dalam Islam, keadilan Allah tidak boleh diukur hanya dari perbedaan kondisi kehidupan manusia di dunia. Allah memang memberikan setiap manusia keadaan, kemampuan, harta, keluarga, kesehatan, dan kesempatan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bukan berarti Allah menyayangi seseorang dan membenci orang lain, karena dunia memang bukan tempat pembagian hasil akhir.

BACA JUGA: Apakah Kesialan dalam Hidup Disebabkan oleh Dosa yang Kita Lakukan?

Allah Memang Memberikan Kehidupan dengan Kadar yang Berbeda

Allah berfirman dalam QS. Az-Zukhruf ayat 32 bahwa Dia telah menentukan penghidupan manusia dalam kehidupan dunia. Ayat ini menunjukkan bahwa keadaan ekonomi dan kehidupan manusia memang tidak dibuat sama rata. Ada orang yang diberikan banyak harta, ada yang diberikan sedikit, ada yang mendapatkan kesehatan yang kuat, dan ada pula yang harus menjalani kehidupan dengan berbagai keterbatasan.

Ada orang yang mendapatkan keluarga yang sangat mendukung sejak kecil, sedangkan orang lain harus tumbuh dalam keluarga yang penuh masalah. Ada yang mudah mendapatkan pendidikan tinggi, sementara yang lain harus bekerja terlebih dahulu sebelum bisa melanjutkan sekolah. Semua perbedaan tersebut merupakan bagian dari kehidupan yang Allah tetapkan sebagai ujian bagi manusia.

Karena itu, jangan langsung menganggap orang yang hidupnya mudah sebagai orang yang paling disayang Allah. Kekayaan bukan otomatis tanda kemuliaan, sebagaimana kemiskinan juga bukan otomatis tanda kehinaan. Ukuran kemuliaan seorang manusia di sisi Allah bukanlah seberapa mudah kehidupannya, tetapi bagaimana ia menggunakan apa yang telah Allah berikan.

Orang Kaya Juga Sedang Diuji

Sering kali kita melihat kehidupan orang lain hanya dari apa yang tampak di luar. Kita melihat rumahnya besar, mobilnya bagus, anak-anaknya mendapatkan pendidikan terbaik, bisnisnya berkembang, dan keluarganya terlihat bahagia. Kemudian kita berkata dalam hati, “Enak sekali hidupnya, sepertinya dia tidak pernah merasakan kesulitan.”

Padahal kita tidak mengetahui seluruh ujian yang sedang dihadapinya. Orang yang memiliki banyak harta akan diuji dengan hartanya, apakah ia mendapatkannya melalui jalan yang halal, menunaikan kewajibannya, membantu orang yang membutuhkan, dan menggunakan kekayaannya untuk kebaikan. Harta yang banyak bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan dengan benar, tetapi bisa pula menjadi sebab beratnya pertanggungjawaban di akhirat.

Begitu pula dengan jabatan, kecerdasan, kesehatan, kecantikan, keturunan, dan berbagai kelebihan lainnya. Semakin banyak nikmat yang diterima seseorang, semakin banyak pula hal yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, kita tidak boleh mengira bahwa orang yang memiliki banyak kenikmatan pasti memiliki kehidupan yang lebih mudah di hadapan Allah.

Orang yang Miskin Bukan Berarti Gagal

Sebaliknya, seseorang yang hidup dalam keterbatasan jangan merasa bahwa Allah telah meninggalkannya. Kemiskinan memang berat dan Islam tidak menyuruh manusia berpura-pura bahwa kekurangan bukan sesuatu yang menyakitkan. Tetapi kemiskinan juga tidak membuat seseorang menjadi hina di hadapan Allah.

Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa. Artinya, seseorang yang rumahnya sederhana, kendaraannya biasa, dan penghasilannya pas-pasan bisa saja memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Sebaliknya, seseorang yang hidup dalam kemewahan bisa saja tidak memiliki kemuliaan jika kekayaannya membuatnya sombong dan jauh dari Allah.

Islam juga tidak mengajarkan seseorang untuk pasrah terhadap kemiskinan tanpa berusaha. Jika tidak memiliki pekerjaan, carilah pekerjaan, jika memiliki usaha, kembangkan dengan cara yang halal, dan jika memiliki kesulitan keuangan, carilah jalan keluar yang dibenarkan syariat. Tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan berusaha sekuat kemampuan sambil menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Apakah Perjuangan Orang yang Hidup Susah Sia-Sia?

Tidak ada kebaikan yang benar-benar sia-sia di sisi Allah. Seseorang yang bekerja keras untuk menafkahi keluarganya mungkin tidak menjadi kaya, tetapi kelelahan yang ia jalani dalam mencari rezeki halal tetap diketahui oleh Allah. Seorang ibu yang bertahun-tahun mengurus anak-anaknya mungkin tidak mendapatkan penghargaan dari manusia, tetapi pengorbanannya tidak pernah luput dari pengetahuan Allah.

Seorang ayah mungkin bekerja puluhan tahun tetapi tetap tinggal di rumah sederhana. Seorang anak mungkin harus mengorbankan banyak keinginannya demi membantu orang tua. Dunia mungkin tidak memberikan penghargaan yang sebanding dengan perjuangan mereka, tetapi Allah mengetahui setiap tetes keringat, kesabaran, dan pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas.

Karena itu, jangan hanya mengukur keberhasilan berdasarkan hasil duniawi. Ada perjuangan yang menghasilkan uang, ada perjuangan yang menghasilkan pengalaman, dan ada perjuangan yang menghasilkan pahala. Bahkan ada perjuangan yang mungkin baru akan terlihat nilainya ketika seseorang berdiri di hadapan Allah pada hari akhir.

Mengapa Ada Orang yang Harus Berjuang Seumur Hidup?

Kita tidak selalu mengetahui hikmah dari sebuah ujian yang Allah berikan. Bisa jadi kesulitan membuat seseorang lebih dekat kepada Allah, lebih peka terhadap penderitaan orang lain, atau lebih menghargai nikmat yang sebelumnya tidak pernah ia sadari. Bisa jadi pula perjalanan hidup yang panjang dan berat justru menjadi sebab seseorang memperoleh kedudukan yang tinggi di akhirat.

Namun, memahami bahwa kesulitan adalah ujian bukan berarti kita harus mempertahankan keadaan buruk tanpa berusaha memperbaikinya. Islam memerintahkan manusia untuk bekerja, mencari rezeki halal, berobat ketika sakit, belajar ketika bodoh, dan mencari solusi ketika menghadapi masalah. Kesabaran dalam Islam tidak sama dengan menyerah, karena seorang Muslim tetap diperintahkan untuk melakukan ikhtiar.

Kalau seseorang miskin, ia boleh berusaha menjadi kaya dengan cara halal. Kalau seseorang tidak memiliki pekerjaan, ia boleh mencari pekerjaan ke berbagai tempat dan belajar keterampilan baru. Kalau seseorang mengalami kegagalan, ia boleh mencoba kembali dengan cara yang lebih baik, karena tidak ada larangan bagi seorang Muslim untuk mengejar kehidupan yang lebih baik selama jalan yang ditempuh tetap halal.

https://s.shopee.co.id/2VqolAvBtQ

Jangan Membandingkan Bab Awal Hidup Kita dengan Bab Tengah Kehidupan Orang Lain

Salah satu sumber kegelisahan manusia adalah terlalu sering membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Kita melihat teman yang dulu biasa saja sekarang memiliki rumah, kendaraan, usaha, atau jabatan yang bagus. Kita kemudian melihat diri sendiri dan merasa tertinggal jauh, padahal setiap orang memiliki jalan hidup dan waktu yang berbeda.

Ada orang yang sukses di usia 25 tahun, tetapi ada pula yang baru menemukan keberhasilannya di usia 40 atau 50 tahun. Ada orang yang memiliki kekayaan sejak muda, sementara orang lain baru menikmati hasil kerja kerasnya setelah melewati puluhan tahun. Karena itu, jangan menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran mutlak untuk menilai apakah kehidupan kita berhasil atau gagal.

Apalagi kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan orang lain. Media sosial membuat kehidupan seseorang terlihat jauh lebih sempurna daripada kenyataan sebenarnya, karena yang ditampilkan biasanya adalah momen-momen terbaik. Bisa jadi orang yang kita iri kepada sebenarnya juga sedang menghadapi masalah yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Keadilan Allah Akan Terlihat Sempurna di Akhirat

Inilah bagian yang paling penting untuk dipahami. Dunia bukan tempat semua ketidakadilan diselesaikan secara sempurna, karena ada orang yang dizalimi tetapi pelakunya tidak pernah dihukum di dunia. Ada orang yang jujur tetapi kehidupannya sederhana, sementara orang yang curang justru terlihat sukses dan hidup dalam kemewahan.

Kalau kehidupan hanya berhenti di dunia, banyak hal memang akan terlihat tidak adil. Tetapi Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak berhenti setelah kematian, karena ada hari ketika semua amal akan diperhitungkan. Pada saat itu, kekayaan, jabatan, popularitas, dan berbagai ukuran duniawi tidak lagi menjadi penentu keselamatan seseorang.

Orang yang selama hidupnya bersabar menghadapi kesulitan tidak akan kehilangan perjuangannya. Orang yang dizalimi tidak akan kehilangan haknya, dan orang yang melakukan kebaikan meskipun tidak dihargai manusia tidak akan dilupakan oleh Allah. Pada hari itulah kita akan memahami bahwa tidak ada satu pun ujian dan amal manusia yang luput dari keadilan Allah.

Adil Tidak Selalu Berarti Semua Orang Mendapatkan Hal yang Sama

Kita sering menganggap keadilan berarti setiap orang harus mendapatkan sesuatu dalam jumlah yang sama. Padahal adil tidak selalu berarti sama rata, melainkan memberikan sesuatu sesuai dengan keadaan, tanggung jawab, dan hak masing-masing. Karena itulah kehidupan manusia tidak harus memiliki kondisi yang identik agar tetap berada dalam ketetapan Allah yang adil.

Seseorang yang memiliki banyak harta memiliki tanggung jawab yang besar terhadap hartanya. Orang yang memiliki ilmu memiliki tanggung jawab untuk mengamalkannya dan memberikan manfaat kepada orang lain, sementara orang yang memiliki kekuasaan akan dimintai pertanggungjawaban atas kekuasaannya. Demikian pula orang yang mendapatkan ujian berat akan dinilai berdasarkan bagaimana ia menghadapi ujian tersebut dengan iman, kesabaran, dan ikhtiar.

Maka jangan iri hanya karena orang lain mendapatkan lebih banyak. Jangan pula merasa hina hanya karena kita mendapatkan lebih sedikit. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah nikmat yang diberikan kepada kita sudah digunakan dengan benar dan apakah kesulitan yang kita alami membuat kita semakin dekat kepada Allah.

Jadi, Apakah Hidup yang Berbeda Itu Adil?

Jawabannya adalah bahwa perbedaan kondisi kehidupan tidak berarti Allah tidak adil. Allah memberikan manusia ujian yang berbeda karena kemampuan, keadaan, dan tanggung jawab setiap orang juga berbeda. Yang menentukan kemuliaan seseorang bukanlah seberapa mudah jalan hidupnya, melainkan bagaimana ia menjalani jalan tersebut di hadapan Allah.

Mungkin ada orang yang sejak lahir sudah memiliki rumah, sementara kita harus bekerja puluhan tahun untuk membelinya. Mungkin ada orang yang mendapatkan pendidikan tinggi dengan mudah, sementara kita harus berjuang sambil bekerja untuk mendapatkan pendidikan yang sama. Tetapi kita tidak pernah tahu, bisa jadi perjuangan panjang yang kita anggap sebagai beban justru menjadi sebab datangnya pahala yang besar.

BACA JUGA: Apakah Komentar Menyakitkan Orang di Media Sosial Akan Dihisab di Akhirat?

Karena itu, jangan habiskan hidup dengan iri terhadap takdir orang lain. Syukuri apa yang sudah diberikan, perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, dan terus berusaha mencari kehidupan yang lebih baik melalui jalan yang halal. Sebab pada akhirnya, bukan siapa yang paling mudah hidupnya yang menjadi pemenang, tetapi siapa yang paling baik melewati ujian yang Allah berikan kepadanya.

Mungkin hari ini hidup kita terasa jauh lebih berat daripada kehidupan orang lain. Mungkin kita harus berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan sesuatu yang bagi orang lain datang begitu saja. Tetapi jangan pernah mengira Allah tidak melihat perjuangan tersebut, karena setiap langkah, kesabaran, doa, dan usaha yang dilakukan karena-Nya memiliki nilai di sisi Allah.

Tetaplah berusaha meskipun hasilnya belum terlihat. Tetaplah berdoa meskipun keadaan belum berubah, dan tetaplah percaya bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir dari segalanya. Bisa jadi sesuatu yang hari ini kita anggap sebagai jalan paling berat justru menjadi jalan yang mengantarkan kita kepada kehidupan yang jauh lebih baik di akhirat. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *