Suami Rajin Shalat, Tapi Istri ke Mana-Mana Cuma Pakai Daster, Bagaimana?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Islampos AI

DALAM rumah tangga, setiap pasangan memiliki kebiasaan dan karakter yang berbeda. Ada suami yang sangat menjaga ibadah, rajin shalat berjamaah, dan berusaha menjalankan berbagai sunnah, sementara istrinya mungkin lebih santai dalam urusan penampilan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah istri yang merasa nyaman memakai daster hampir sepanjang hari, bahkan ketika keluar rumah atau menemui orang lain.

Daster pada dasarnya hanyalah jenis pakaian dan bukan sesuatu yang otomatis haram. Persoalannya bukan semata-mata apakah seorang perempuan memakai daster, tetapi bagaimana pakaian tersebut ketika digunakan di tempat tertentu, apakah menutup aurat, tidak transparan, tidak memperlihatkan bentuk tubuh secara berlebihan, dan sesuai dengan keadaan ketika berada di hadapan orang yang bukan mahram. Karena itu, masalah ini perlu dilihat secara lebih luas daripada sekadar mengatakan bahwa memakai daster adalah salah.

BACA JUGA: Bolehkah Istri Tidur Membelakangi Suami karena Sedang Kesal?

Daster di dalam rumah berbeda dengan daster ketika keluar rumah

Seorang istri tentu boleh mengenakan pakaian yang nyaman ketika berada di rumah bersama suaminya atau di lingkungan yang aman dari pandangan laki-laki non-mahram. Dalam kondisi seperti itu, pasangan memiliki ruang privasi yang berbeda dengan ketika berada di luar rumah. Bahkan, menjaga kenyamanan dan penampilan untuk pasangan juga dapat menjadi bagian dari keharmonisan rumah tangga.

Namun, keadaan berubah ketika pakaian tersebut digunakan di luar rumah. Jika daster yang dipakai tipis, pendek, ketat, transparan, atau memperlihatkan bentuk tubuh, maka persoalannya bukan lagi sekadar soal selera berpakaian. Seorang muslimah memiliki kewajiban menutup aurat ketika berada di hadapan laki-laki yang bukan mahram sesuai ketentuan syariat.

Karena itu, tidak tepat jika semua daster langsung dianggap haram. Ada daster yang longgar, panjang, dan tidak transparan, tetapi tetap perlu dipertimbangkan apakah model tersebut memenuhi ketentuan pakaian ketika dikenakan di luar rumah. Yang menjadi perhatian utama adalah terpenuhinya prinsip menutup aurat dan menjaga kehormatan, bukan sekadar nama atau jenis pakaiannya.

Suami boleh mengingatkan, tetapi bukan dengan merendahkan

Jika suami melihat istrinya sering keluar rumah dengan pakaian yang menurutnya belum memenuhi ketentuan menutup aurat, suami memiliki tanggung jawab untuk memberikan nasihat. Namun, mengingatkan pasangan tidak berarti suami boleh mempermalukan, menghina, atau terus-menerus mengungkit kekurangan istrinya. Nasihat dalam rumah tangga seharusnya disampaikan dengan cara yang lembut dan mempertimbangkan perasaan pasangan.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 125 agar manusia menyeru kepada jalan Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Prinsip tersebut juga relevan dalam kehidupan keluarga karena orang yang paling dekat dengan kita justru membutuhkan komunikasi yang penuh kasih sayang. Suami dapat menjelaskan alasan agama mengenai pentingnya menutup aurat tanpa menjadikan pembicaraan tersebut sebagai ajang untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih saleh.

Misalnya, daripada mengatakan, “Kamu itu istri orang yang rajin ibadah, masa keluar rumah pakai daster terus,” akan lebih baik jika suami mengatakan bahwa ia khawatir pakaian tersebut belum cukup menutup aurat ketika berada di hadapan laki-laki non-mahram. Pembicaraan seperti ini dapat membuka ruang bagi istri untuk menjelaskan alasan dirinya memilih pakaian tersebut dan mencari solusi bersama.

Jangan merasa lebih baik hanya karena rajin shalat

Suami yang rajin shalat tentu memiliki keutamaan dalam menjaga kewajiban agama. Akan tetapi, rajin shalat tidak berarti seseorang boleh merasa dirinya otomatis lebih baik daripada istrinya dalam seluruh aspek kehidupan. Ibadah kepada Allah seharusnya juga tercermin dalam akhlak, kesabaran, cara berbicara, dan bagaimana seseorang memperlakukan keluarganya.

Begitu pula seorang istri tidak seharusnya menganggap masalah pakaian sebagai persoalan kecil hanya karena suaminya sudah rajin beribadah. Setiap muslim dan muslimah memiliki tanggung jawab masing-masing di hadapan Allah. Jika ada ketentuan agama yang belum dijalankan dengan baik, memperbaikinya merupakan kewajiban pribadi, bukan semata-mata demi memenuhi keinginan pasangan.

Rumah tangga yang sehat bukanlah rumah tangga yang satu pihak merasa menjadi guru sementara pihak lainnya selalu dianggap sebagai murid. Suami dan istri dapat saling mengingatkan dalam kebaikan. Ketika suami mengingatkan soal pakaian, istri juga dapat mengingatkan suami tentang kewajiban atau akhlak lain yang mungkin perlu diperbaiki.

https://s.shopee.co.id/9V1flGBtVf

Bagaimana jika istri merasa daster adalah pakaian paling nyaman?

Kenyamanan merupakan salah satu alasan seseorang memilih pakaian tertentu, dan hal tersebut tidak perlu langsung dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Bisa jadi istri terbiasa memakai daster karena praktis, ringan, mudah dicuci, dan nyaman digunakan untuk melakukan pekerjaan rumah. Persoalannya adalah menyesuaikan pakaian tersebut dengan tempat dan siapa saja yang melihatnya.

Jika istri memang menyukai daster, pasangan tidak harus melarang penggunaan daster secara keseluruhan. Mereka dapat mencari model yang lebih longgar dan panjang untuk digunakan dalam kondisi tertentu, kemudian menggunakan pakaian yang lebih tertutup ketika keluar rumah. Dengan begitu, kenyamanan tetap diperhatikan tanpa mengabaikan batasan syariat.

Suami juga dapat membantu dengan cara yang positif, misalnya mengajak istri memilih pakaian yang nyaman tetapi tetap sesuai dengan ketentuan agama. Cara seperti ini jauh lebih konstruktif daripada sekadar memerintahkan, melarang, atau memarahi. Tujuan akhirnya adalah terciptanya perubahan yang dilakukan dengan kesadaran, bukan karena ketakutan terhadap kemarahan pasangan.

Bagaimana jika istri tetap tidak mau berubah?

Jika setelah dinasihati dengan baik istri tetap mempertahankan kebiasaannya, suami perlu melihat terlebih dahulu masalahnya secara spesifik. Jika pakaian tersebut sebenarnya longgar, panjang, tidak transparan, dan memenuhi ketentuan menutup aurat, maka persoalannya mungkin hanya perbedaan selera dalam berpakaian. Dalam kondisi seperti ini, suami tidak seharusnya memaksakan selera pribadinya seolah-olah semua yang tidak sesuai dengan keinginannya merupakan dosa.

Sebaliknya, jika pakaian yang digunakan memang tidak memenuhi kewajiban menutup aurat ketika berada di hadapan non-mahram, persoalannya berbeda. Suami dapat terus memberikan nasihat secara bertahap dan mengajak istri memahami alasan kewajiban tersebut. Jika konflik semakin besar, pasangan dapat meminta bantuan orang yang dipercaya dan memiliki pemahaman agama yang baik agar persoalan tidak berkembang menjadi pertengkaran yang lebih serius.

Yang juga penting, suami tidak boleh menggunakan kekerasan sebagai cara mendidik istri. Perbedaan dalam menjalankan kewajiban agama harus diselesaikan dengan nasihat, dialog, dan langkah-langkah yang sesuai syariat. Pernikahan seharusnya menjadi tempat bagi dua orang untuk saling membantu menjadi lebih baik, bukan tempat salah satu pihak merasa bebas merendahkan pihak lainnya.

Istri juga perlu memahami posisi suami

Di sisi lain, seorang istri sebaiknya tidak langsung menganggap nasihat suami sebagai bentuk kekangan. Jika suami mengingatkan tentang menutup aurat karena ingin menjalankan ajaran agama, istri dapat mendengarkan terlebih dahulu dan melihat apakah nasihat tersebut memang memiliki dasar syariat. Menjaga aurat bukan semata-mata untuk menyenangkan suami, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab seorang muslimah kepada Allah.

Namun, istri juga berhak mendapatkan penjelasan yang baik, bukan sekadar perintah tanpa alasan. Suami yang ingin keluarganya lebih taat seharusnya juga bersedia belajar dan memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Ketika suami menjaga shalat, akhlak, kesabaran, dan tanggung jawabnya, nasihat yang disampaikan kepada keluarga akan lebih mudah diterima.

BACA JUGA: Emang Bener Istri Boros Bisa Memperlancar Rezeki Suami?

Pada akhirnya, persoalan istri yang sering memakai daster tidak dapat diselesaikan hanya dengan pertanyaan “boleh atau tidak”. Daster bukan pakaian yang otomatis haram, tetapi penggunaannya harus disesuaikan dengan situasi dan ketentuan menutup aurat, terutama ketika berada di luar rumah atau di hadapan non-mahram. Suami boleh mengingatkan jika ada kewajiban yang belum terpenuhi, tetapi hendaknya dilakukan dengan ilmu, kasih sayang, dan keteladanan.

Rumah tangga bukan tempat mencari siapa yang paling saleh dan siapa yang paling banyak salah. Suami yang rajin shalat dapat mengajak istrinya memperbaiki cara berpakaian, sementara istri juga dapat mendukung suaminya untuk terus memperbaiki akhlak dan ibadah. Jika keduanya saling mengingatkan dengan cara yang baik, persoalan pakaian yang awalnya menjadi sumber konflik justru dapat menjadi kesempatan untuk membangun rumah tangga yang lebih dekat kepada Allah. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *