PERNAH bertemu seseorang yang selalu merasa dirinya paling benar? Ketika berhasil, ia ingin semua orang memujinya. Namun, ketika melakukan kesalahan, selalu ada orang lain yang dijadikan kambing hitam.
Ditegur sedikit, marah. Dikritik, tersinggung. Ketika orang lain bercerita tentang masalahnya, pembicaraan entah bagaimana kembali berputar pada dirinya sendiri.
Perilaku seperti ini sering membuat orang bertanya-tanya: apakah dia narsistik? Jangan-jangan NPD?
NPD merupakan singkatan dari narcissistic personality disorder atau gangguan kepribadian narsistik. Kondisi ini bukan sekadar sifat sombong atau terlalu percaya diri, melainkan pola kepribadian yang menetap dan dapat mengganggu hubungan dengan orang lain maupun kehidupan sehari-hari.
Lantas, apa ciri paling jelas seseorang yang mengalami NPD?
BACA JUGA: 7 Ciri Orang yang Pura-pura Pengen Terlihat Kaya
1. Merasa Dirinya Lebih Istimewa daripada Orang Lain
Salah satu ciri utama NPD adalah perasaan bahwa dirinya lebih penting, lebih hebat, atau lebih pantas mendapatkan perlakuan khusus dibandingkan orang lain.
Ia mungkin sering membanggakan pencapaian, melebih-lebihkan kemampuan, atau merasa hanya orang-orang tertentu yang layak berada di sekitarnya.
Merasa bangga terhadap prestasi sendiri tentu bukan masalah. Begitu pula memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
Yang menjadi perhatian adalah ketika perasaan superior tersebut muncul terus-menerus, disertai kebutuhan untuk selalu diakui dan kesulitan menghargai orang lain sebagai pribadi yang setara.
2. Sangat Membutuhkan Pujian dan Pengakuan
Orang dengan NPD dapat memiliki kebutuhan yang berlebihan untuk mendapatkan kekaguman dari orang lain.
Pujian membuatnya merasa berharga, sedangkan kurangnya perhatian bisa membuatnya kecewa atau tersinggung. Ia mungkin berusaha menonjolkan pencapaian, penampilan, kekayaan, jabatan, atau hal lain yang dianggap meningkatkan status dirinya.
Masalahnya bukan karena seseorang senang dipuji. Hampir semua orang menyukai apresiasi.
Namun, ketika pengakuan orang lain menjadi kebutuhan yang terus-menerus harus dipenuhi, hubungan sosial dapat berubah menjadi ajang pembuktian diri.
3. Sulit Berempati terhadap Perasaan Orang Lain
Ini salah satu tanda yang paling terasa dalam hubungan dekat.
Ketika pasangannya sedang sedih, misalnya, ia justru menganggap kesedihan tersebut berlebihan. Saat temannya mengalami kesulitan, ia mungkin tidak menunjukkan kepedulian yang semestinya, terutama jika persoalan itu tidak berkaitan dengan kepentingannya.
Ia juga dapat kesulitan memahami mengapa perkataan atau tindakannya menyakiti orang lain.
Namun, perlu dipahami bahwa empati bukan sesuatu yang selalu terlihat sama dalam setiap situasi. Seseorang yang kurang peka atau pernah bersikap egois belum tentu mengalami NPD. Yang perlu diperhatikan adalah pola perilaku yang menetap dan dampaknya terhadap hubungan.
4. Sulit Menerima Kritik
Coba perhatikan bagaimana seseorang bereaksi ketika diberi masukan.
Apakah ia bersedia mendengarkan, mempertimbangkan kesalahannya, dan memperbaiki diri? Atau justru langsung menyerang balik, merendahkan orang yang mengkritiknya, bahkan mengalihkan pembicaraan agar dirinya tidak perlu bertanggung jawab?
Orang dengan NPD dapat menunjukkan kepekaan berlebihan terhadap kritik, penolakan, atau kegagalan. Sebagian merespons dengan kemarahan, sementara yang lain menarik diri atau berusaha menyembunyikan perasaan terluka.
Di balik sikap yang tampak percaya diri, bisa terdapat harga diri yang rapuh ketika menghadapi kegagalan atau penilaian negatif.
5. Merasa Berhak Mendapat Perlakuan Khusus
Ciri lainnya adalah perasaan bahwa dirinya berhak mendapatkan perlakuan istimewa, bahkan ketika tidak ada alasan yang membenarkannya.
Ia mungkin mengharapkan orang lain selalu mengikuti keinginannya, memprioritaskan kebutuhannya, atau memberikan kelonggaran yang tidak ia berikan kepada orang lain.
Dalam hubungan, pola ini bisa membuat pasangan merasa harus terus mengalah. Keinginan satu pihak menjadi pusat perhatian, sedangkan kebutuhan pihak lain dianggap tidak terlalu penting.
Jika berlangsung terus-menerus, hubungan dapat terasa berat sebelah.
6. Merendahkan Orang Lain dan Sulit Mengakui Kesalahan
Sebagian orang dengan NPD dapat meremehkan pencapaian orang lain, merasa iri, atau memandang rendah mereka yang dianggap tidak selevel.
Ketika terjadi konflik, ia juga mungkin kesulitan mengakui kontribusinya terhadap masalah tersebut. Kesalahan dialihkan kepada pasangan, rekan kerja, atau keadaan.
Akibatnya, penyelesaian masalah menjadi sulit karena percakapan lebih banyak digunakan untuk menentukan siapa yang menang daripada mencari jalan keluar.
Meski demikian, perilaku manipulatif atau kebiasaan menyalahkan orang lain juga bisa muncul karena berbagai faktor. Perilaku tersebut tidak cukup untuk memastikan diagnosis NPD.
BACA JUGA: Inilah Ciri-Ciri Orang Munafik, Jangan-Jangan Kamu Termasuk?
Jadi, Bagaimana Memastikan Seseorang Mengalami NPD?
Tidak ada satu ciri yang bisa menjadi bukti pasti seseorang mengalami gangguan kepribadian narsistik.
Diagnosis memerlukan penilaian menyeluruh oleh tenaga profesional kesehatan mental, seperti psikiater atau psikolog klinis, dengan mempertimbangkan pola perilaku, riwayat kehidupan, serta dampaknya terhadap fungsi sehari-hari. Dalam kriteria diagnostik DSM-5-TR, seseorang harus memenuhi sedikitnya lima dari sembilan kriteria NPD, tetapi penilaian profesional tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis yang tepat.
Karena itu, jangan terburu-buru menyebut seseorang NPD hanya karena ia egois, suka membanggakan diri, atau pernah menyakiti perasaan orang lain.
Yang tidak kalah penting, kita juga perlu memperhatikan dampak perilaku tersebut terhadap diri sendiri. Jika sebuah hubungan terus-menerus membuat kita merasa direndahkan, takut berbicara, atau kehilangan kepercayaan diri, kita berhak menetapkan batasan yang sehat tanpa harus lebih dulu memastikan diagnosis orang tersebut.
Pada akhirnya, memahami NPD bukan tentang mencari siapa yang pantas diberi label buruk. Tujuannya adalah mengenali pola perilaku yang bermasalah, memahami dampaknya, dan mengetahui kapan bantuan profesional diperlukan.
Sebab, kita tidak perlu menjadi dokter untuk menyadari bahwa sebuah hubungan sedang menyakiti kita. Namun, untuk menentukan apakah seseorang benar-benar mengalami NPD, diagnosis tetap harus diserahkan kepada ahlinya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

