MARILAH kita membebaskan diri dari beberapa hal yang dapat menghalangi hati untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Sesungguhnya tanda-tanda itu begitu banyak dan demikian jelas. Namun, tidak setiap orang mampu melihatnya. Ada yang melihat, tetapi tidak menyadari maknanya. Ada yang mendengar, tetapi tidak mengambil pelajaran. Ada pula yang menyaksikan kebenaran dengan sangat jelas, tetapi hatinya tetap berpaling.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT ada atau tidak. Persoalannya adalah apakah hati kita telah siap menerimanya.
Ada beberapa penghalang yang harus kita singkirkan.
1. Kita Bebaskan Diri dari Kesombongan
Allah SWT tidak akan memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada orang yang hatinya dipenuhi kesombongan. Kesombongan membuat seseorang merasa tidak membutuhkan petunjuk. Ia melihat, tetapi tidak mau tunduk kepada kebenaran yang dilihatnya.
Allah SWT berfirman dalam Surah al-A’raf ayat 146:
«”Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.”»
Perhatikan bagaimana kesombongan bukan sekadar persoalan sikap terhadap manusia. Kesombongan juga dapat menjadi penghalang antara manusia dan kebenaran.
BACA JUGA: Kita Semua Didoakan Nabi Ibrahim, Malaikat, dan Mukminin Terdahulu
Orang yang sombong tidak selalu kekurangan bukti. Bisa jadi justru bukti telah berada di hadapannya. Namun, hatinya telah lebih dahulu memutuskan untuk tidak tunduk.
Karena itu, langkah pertama dalam perjalanan mengenal Allah adalah merendahkan hati. Kita harus datang kepada tanda-tanda kekuasaan-Nya bukan sebagai orang yang merasa sudah mengetahui segala sesuatu, melainkan sebagai hamba yang ingin belajar.
2. Kita Bebaskan Diri dari Kezaliman dan Kedustaan
Penghalang berikutnya adalah kezaliman dan kedustaan. Kezaliman membuat seseorang menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, sedangkan kedustaan membuatnya menolak atau memutarbalikkan kebenaran yang telah sampai kepadanya.
Allah SWT berfirman dalam Surah ash-Shaff ayat 7:
«”Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah padahal dia diajak kepada (agama) Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”»
Demikian pula dalam Surah az-Zumar ayat 3, Allah SWT berfirman:
«”Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.”»

Ayat ini mengingatkan kita bahwa seseorang dapat membangun alasan untuk membenarkan apa yang sebenarnya ingin dipertahankannya. Ketika keinginan telah menguasai hati, manusia dapat mencari pembenaran bahkan untuk sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran.
Karena itu, dalam mencari makrifat kepada Allah, kita perlu membersihkan diri dari kecenderungan untuk memaksa kebenaran agar sesuai dengan keinginan kita.
3. Kita Bebaskan Diri dari Perusakan, Pelanggaran Perjanjian, dan Memutuskan Hubungan yang Diperintahkan Allah untuk Disambungkan
Penghalang berikutnya adalah kefasikan yang tampak dalam perilaku: melanggar perjanjian Allah, memutuskan apa yang diperintahkan-Nya untuk disambungkan, dan membuat kerusakan di muka bumi.
Allah SWT berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 26–27:
«”Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, ‘Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?’ Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”»
Di sini kita menemukan hubungan yang penting: kemampuan memahami ayat Allah tidak dapat dipisahkan dari keadaan hidup seseorang.
Seseorang mungkin memiliki kemampuan berpikir yang tinggi, tetapi jika kehidupannya dipenuhi kefasikan, hubungan dengan kebenaran dapat menjadi semakin jauh. Karena itu, melihat tanda-tanda kekuasaan Allah bukan hanya pekerjaan intelektual. Ia juga membutuhkan kesediaan untuk memperbaiki kehidupan.
4. Kita Bebaskan Diri dari Kelalaian
Tanda-tanda kekuasaan Allah SWT sebenarnya berada di sekitar kita. Sebagiannya dapat langsung kita saksikan ketika kita mau merenung. Sebagian lainnya membutuhkan penggunaan akal dan perhatian yang lebih mendalam.
Allah SWT berfirman dalam Surah ar-Ra’d ayat 3:
«”Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.”»
Allah juga berfirman dalam Surah ar-Ra’d ayat 4:
«”Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang, dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan tanaman yang satu dan yang lainnya dalam hal rasanya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.”»
Bumi, langit, pergantian malam dan siang, tumbuh-tumbuhan, air, gunung, dan berbagai keragaman kehidupan semuanya dapat menjadi ayat bagi manusia yang mau memperhatikannya.
Namun, perhatian saja belum cukup. Akal perlu disatukan dengan dzikir.
Allah SWT menggambarkan orang-orang yang memiliki kemampuan seperti itu dalam Surah Ali Imran ayat 190–191:
«”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'”»

Di sinilah terlihat hubungan antara dzikir dan pikir.
Pikir tanpa dzikir dapat membuat manusia berhenti pada fenomena. Ia melihat keteraturan alam, tetapi tidak sampai kepada Sang Pengatur. Sebaliknya, dzikir tanpa pikir dapat kehilangan kedalaman dalam membaca tanda-tanda yang terbentang di hadapan manusia.
Orang yang disebut ulul albab adalah mereka yang menggabungkan keduanya: mengingat Allah sekaligus merenungkan ciptaan-Nya.
Kelalaian membuat manusia kehilangan kemampuan tersebut. Dunia yang seharusnya menjadi tempat membaca tanda-tanda Allah justru berubah menjadi tempat bermain dan bersenda gurau.
Allah SWT berfirman dalam Surah Muhammad ayat 36:
«”Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta hartamu.”»
Dalam Surah al-Anbiya ayat 1–3, Allah SWT juga mengingatkan:
«”Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat). Setiap diturunkan kepada mereka ayat-ayat yang baru dari Tuhan, mereka mendengarkannya sambil bermain-main. Hati mereka dalam keadaan lalai. Dan orang-orang yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, ‘(Orang) ini (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang manusia (juga) seperti kamu. Apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?'”»
Betapa mungkin seseorang berada sangat dekat dengan kebenaran, tetapi tetap tidak melihatnya karena hatinya sibuk dengan sesuatu yang lain.
5. Kita Bebaskan Diri dari Perbuatan Dosa
Dosa bukan hanya meninggalkan bekas pada catatan amal. Dosa juga dapat memengaruhi keadaan hati.
Allah SWT berfirman dalam Surah al-Muthaffifin ayat 14:
«”Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”»
Hati yang terus-menerus dikotori oleh dosa dapat kehilangan kejernihannya. Tanda-tanda kebenaran tetap ada, tetapi hati semakin sulit menangkap pesan yang terkandung di dalamnya.
Allah SWT berfirman dalam Surah al-Hijr ayat 12–13:
«”Demikianlah, Kami memasukkannya (olok-olok itu) ke dalam hati orang yang berdosa. Mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an), padahal telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang terdahulu.”»
Karena itu, perjalanan menuju makrifat bukan hanya perjalanan menambah pengetahuan. Ia juga perjalanan membersihkan hati.
Semakin bersih hati, semakin jernih ia membaca tanda. Sebaliknya, semakin banyak noda yang menutupinya, semakin sulit seseorang membedakan cahaya kebenaran dari bayang-bayang keinginannya sendiri.

6. Kita Bebaskan Diri dari Keraguan Ketika Kebenaran Telah Jelas
Ada keadaan ketika tanda-tanda telah begitu jelas, tetapi manusia tetap memilih untuk ragu. Keraguan semacam ini bukan lagi sekadar proses mencari jawaban. Ia dapat berubah menjadi sikap mempertahankan diri dari kebenaran.
Allah SWT berfirman dalam Surah al-An’am ayat 110:
«”Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan.”»
Di sini kita belajar bahwa hati memiliki kecenderungan. Apa yang berulang kali ditolak dapat membuat manusia semakin sulit menerima kebenaran ketika kebenaran itu datang kembali.
Karena itu, ketika kebenaran telah jelas, yang dibutuhkan bukan sekadar keberanian untuk melihat, tetapi juga kerendahan hati untuk menerimanya.
Allah SWT memberikan gambaran tentang orang-orang yang mendengar tetapi tidak benar-benar menerima dalam Surah al-Ma’idah ayat 41. Mereka mendengar berbagai perkataan, bahkan mengubah kata-kata dari makna yang sebenarnya. Mereka tidak sekadar memiliki persoalan pada pendengaran, tetapi pada kesiapan hati untuk menerima kebenaran.
Rahasianya Terletak pada Kesiapan Hati
Setelah memperhatikan keenam penghalang tersebut, kita dapat memahami satu hal penting: tanda-tanda kekuasaan Allah SWT bukanlah sesuatu yang sedikit.
Tanda-tanda itu ada di dalam diri manusia, di alam semesta, dalam perjalanan sejarah, dan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, kemampuan untuk melihatnya sangat dipengaruhi oleh keadaan hati manusia.
Allah SWT berfirman dalam Surah ash-Shaff ayat 5:
«”Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku! Mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu?’ Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”»
Ayat ini menunjukkan adanya hubungan antara sikap manusia dan keadaan hatinya. Ketika manusia berpaling dari kebenaran, keberpalingan itu dapat membawa hati semakin jauh dari petunjuk.
BACA JUGA: Kemenangan Orang Kafir atas Kaum Mukmin
Dengan demikian, masalahnya bukan karena tanda-tanda kekuasaan Allah SWT terlalu samar. Masalahnya dapat berada pada hati yang tertutup oleh kesombongan, kezaliman, kedustaan, kerusakan, kelalaian, dosa, dan keraguan.
Ibarat seseorang yang sakit mata: air yang jernih tidak berubah menjadi asin hanya karena ia merasakan sesuatu yang berbeda ketika meminumnya. Yang bermasalah bukan airnya, melainkan keadaan dirinya.
Demikian pula dengan tanda-tanda kekuasaan Allah. Cahaya petunjuk tetap ada. Akan tetapi, hati yang tertutup dapat membuat manusia tidak mampu melihatnya.
Karena itu, sebelum bertanya, “Di mana tanda-tanda kekuasaan Allah?”, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah hati kita sudah siap melihatnya?
Allah SWT berfirman dalam Surah al-An’am ayat 55:
«”Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Qur’an, agar terlihat jelas jalan orang-orang yang saleh dan agar terlihat jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.”»
Tanda-tanda itu telah diterangkan. Jalan telah diperlihatkan. Yang tersisa adalah pekerjaan kita: membersihkan hati, menggunakan akal, menghidupkan dzikir, meninggalkan dosa, dan membuka diri kepada kebenaran.
Dengan hati yang demikian, alam tidak lagi sekadar menjadi kumpulan benda yang kita lihat. Ia berubah menjadi hamparan ayat yang mengantarkan kita untuk mengenal kebesaran Allah SWT. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


