“JIKA dunia pesantren diibaratkan sebuah pohon, maka Imam Syafi‘i adalah akarnya, sedangkan Imam al-Ghazali adalah getah yang mengaliri batang, dahan, dan ranting-rantingnya.”
Kalimat itu sering diulang oleh para kiai ketika menggambarkan betapa dalamnya pengaruh al-Ghazali dalam khazanah Islam Nusantara.
Nama Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) memang lebih dari sekadar ulama besar; ia adalah “hujjatul Islam”, peneguh akidah, sekaligus penghubung antara syariat yang kokoh dan hakikat yang halus. Karyanya, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, adalah kitab yang tidak hanya dibaca, tetapi dihayati dan dijadikan kurikulum ruhani di seluruh dunia Islam — termasuk di kepulauan Nusantara.
Bahkan jauh sebelum kitab-kitab tasawuf lain populer di pesantren, Iḥyā’ dan ringkasannya telah menjadi pedoman para guru untuk menanamkan akhlak, mengajari adab, sekaligus mendidik jiwa. Dari Aceh hingga Banjar, dari Palembang hingga Jawa, jejak Ghazalian selalu hadir dalam suluk, manaqib, dan kitab-kitab karya ulama Nusantara.
—
Jejak Kitab Ghazali dalam Karya Ulama Nusantara
1. Syamsuddin al-Sumatrani (w. 1630 M)
Seorang ulama besar di Kesultanan Aceh, murid dari murid Hamzah Fansuri, dan dikenal sebagai pengikut tarekat Syattariyah.
Meski banyak orang mengenalnya sebagai tokoh wujudiyah, karya-karyanya seperti Mir’āt al-Mu’minīn sarat dengan corak Ghazalian. Ia berbicara tentang penyucian jiwa, akhlak, dan perjalanan ruhani yang mirip dengan bab-bab Bidāyah al-Hidāyah atau Iḥyā’.

2. Nuruddin al-Raniri (w. 1658 M)
Datang dari Gujarat, ia membawa semangat syariat yang tegas, sekaligus memadukan dengan tasawuf. Raniri dikenal sebagai pengikut tarekat Rifa‘iyah.
Karyanya, Bustan al-Salatin, adalah ensiklopedia besar yang memuat sejarah dan nasihat moral. Dalam Hidayat al-Habib fi al-Targhib wa al-Tarhib, ia banyak mengutip dan meringkas bagian dari Iḥyā’. Raniri jelas memperlihatkan kerangka berpikir Ghazalian: ilmu tidak hanya kognitif, tapi harus mengubah jiwa.
3. Abd al-Rauf Singkel (w. 1693 M)
Beliau adalah mursyid besar tarekat Syattariyah di Nusantara. Karyanya Umdat al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufarridin adalah manual tasawuf yang jelas terinspirasi Iḥyā’.
Ia juga menulis Mir’at al-Tullab, kitab fikih Syafi‘i untuk masyarakat Aceh. Tetapi di balik hukum-hukum syariat itu, Abd al-Rauf menyelipkan semangat Ghazalian: fikih bukan hanya aturan, tapi jalan menuju hati yang bersih.
4. Arsyad al-Banjari (1710–1812 M)
Dikenal sebagai ulama besar Kalimantan Selatan, beliau menulis Sabilal Muhtadin, kitab fikih Syafi‘i yang dipakai di seluruh Nusantara. Dalam tasawuf, Arsyad yang dekat dengan tarekat Sammaniyah mengajarkan corak tasawuf akhlaqi ala Ghazali: jihad melawan hawa nafsu, pentingnya ikhlas, zuhud, dan muraqabah.
5. Abdus Shamad al-Palimbani (w. 1789 M)
Inilah ulama yang paling jelas menunjukkan pengaruh Ghazali. Sebagai murid jaringan ulama Hijaz dan pengikut tarekat Sammaniyah serta Khalwatiyah, ia menulis dua kitab besar:
Hidayatus Salikin → adaptasi Bidāyah al-Hidāyah.
Sair al-Salikin → adaptasi Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn ke dalam bahasa Melayu.
Kedua kitab ini menjadikan ajaran Ghazali lebih mudah diakses santri dan masyarakat awam.
6. Muhammad Nafis al-Banjari (w. 1812 M)
Penulis al-Durr al-Nafis, kitab tasawuf populer di pesantren. Meski coraknya wujudiyah, ia tetap menyerap metode tazkiyatun nafs ala Ghazali: membersihkan hati, menjauhi dunia, dan menata niat.
7. Ulama Pesantren Jawa (abad 19–20 M)
Di tanah Jawa, karya Ghazali diolah dalam bentuk terjemahan dan syarah lokal. Ada Minhaj al-Atqiya’ (syarah atas Bidāyah), ada pula terjemahan Iḥyā’ dalam bahasa Jawi. Suluk-suluk Jawa, seperti Suluk Wujil, juga menunjukkan warna Ghazalian: ajakan untuk ikhlas, zuhud, dan kesadaran akan kefanaan dunia.
—
Keropak Jawa Sunan Bonang
Mari kita bergeser sejenak ke abad 16 M. Di Jawa, ada manuskrip kuno yang disebut keropak — berupa naskah di atas kertas atau lontar dengan aksara Pegon. Keropak Sunan Bonang memuat ajaran tasawuf dan adab yang sangat mirip dengan ruh Iḥyā’.
Apa yang khas?
Ada ajakan tazkiyatun nafs, mengingatkan pada Bidāyah al-Hidāyah.
Ada peringatan tentang tipuan dunia, tentang ikhlas, zuhud, dan muraqabah.
Ada wirid dan doa harian yang bernuansa Iḥyā’.
Namun, Sunan Bonang tidak sekadar menyalin. Ia melokalisasi ajaran Ghazali menjadi tembang Jawa (macapat, suluk), sehingga lebih bisa meresap ke hati orang Jawa. Inilah kreativitas ulama Nusantara: ruh Ghazali dipadukan dengan budaya lokal.
—
Syekh Nawawi al-Bantani (1813–1897 M)
Kita loncat ke abad 19. Di Makkah, ada ulama asal Banten yang kemudian dijuluki Sayyid ‘Ulama al-Hijaz. Dialah Syekh Nawawi al-Bantani.
Nawawi menulis ratusan kitab, banyak di antaranya sarat dengan nuansa Ghazalian. Misalnya:
Nashaih al-‘Ibad → syarah atas Lubab al-Iḥyā’, ringkasan dari Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn.
Salalim al-Fudhala’ → kitab akhlak dengan corak Ghazalian.
Tanqih al-Qawl al-Hatsits → syarah hadis yang sering mengutip etika ala Ghazali.
Qami’ al-Tughyan → kitab tauhid yang memadukan kalam Asy‘ariyah dengan tasawuf akhlaqi.
Syekh Nawawi, yang dikenal sebagai pengikut tarekat Syattariyah dan Qadiriyah, menjadikan Ghazali sumber primer dalam menulis kitab akhlak dan tasawuf. Tidak heran jika sampai kini kitabnya diajarkan di ribuan pesantren di Nusantara.
—
Mengapa Ghazali Sangat Kuat?
Di titik ini, kita bisa bertanya: mengapa pengaruh Imam al-Ghazali begitu kuat, bahkan melebihi tokoh-tokoh tarekat yang memang memiliki organisasi resmi seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, atau Syattariyah?
Jawabannya ada beberapa:
1. Ghazali tidak mendirikan tarekat, tetapi mengalir ke semua tarekat.
Berbeda dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani atau Bahauddin Naqsyaband, Ghazali tidak membuat institusi tarekat. Karyanya bersifat universal: bisa dipakai oleh siapa saja, dari tarekat mana saja.
2. Keseimbangan antara syariat dan hakikat.
Ghazali menegakkan syariat sekuat-kuatnya, sekaligus menyingkap rahasia hakikat. Inilah yang membuatnya diterima semua golongan.
3. Bahasa yang membumi.
Iḥyā’ bukan hanya bicara konsep, tapi juga praktik sehari-hari: bagaimana makan, tidur, shalat, bergaul, hingga berdagang dengan hati yang lurus.
4. Ruhaniyah yang relevan sepanjang zaman.
Dari Aceh abad 17 hingga pesantren Jawa abad 20, Iḥyā’ selalu menemukan jalannya. Karena ia bicara tentang hati manusia, dan hati itu tak pernah lekang dimakan zaman.
BACA JUGA: Pasai Pintu Gerbang dan Pusat Mazhab Syafi‘i di Nusantara Nusantara
Refleksi Penutup
Di Aceh, Ghazali hadir melalui Nuruddin ar-Raniri dan Abd al-Rauf Singkel.
Di Palembang, ia hadir melalui Abdus Shamad.
Di Banjar, ia hidup dalam karya Arsyad dan Nafis.
Di Jawa, ia bernafas dalam suluk-suluk Sunan Bonang, lalu diwariskan dalam kitab-kitab pesantren.
Di Banten, ia bergaung dalam pena Syekh Nawawi yang mendunia.
Seolah-olah, Ghazali adalah sungai besar yang mengalir ke berbagai cabang: ada yang menjadi keropak Jawa, ada yang menjadi kitab Melayu, ada yang menjadi kitab kuning, tetapi semuanya tetap bersumber dari mata air yang sama.
Maka benar kata Martin van Bruinessen: “Di dunia pesantren, al-Ghazali adalah otoritas utama setelah Imam Syafi‘i.”
Dan barangkali di sinilah rahasia kekuatan Ghazali: ia tidak melahirkan sebuah tarekat formal, tetapi ia melahirkan “tarekat universal” berupa jalan penyucian hati yang bisa diikuti siapa saja.
Ulama Nusantara lalu menjadikannya guru ruhani, menerjemahkannya ke dalam bahasa lokal, menembangnya dalam suluk, atau mengajarkannya lewat kitab kuning. Dan melalui itulah, ruh Ghazali tetap hidup — dari abad ke abad, dari santri ke santri, dari pesantren ke pesantren. []
Sumber: Maulana La Eda, 100 Ulama Nusantara di Tanah Suci, Aqwam
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

