“Perang atas Palestina bukan hanya di medan perang, tetapi juga di halaman-halaman sejarah.”
— Edward Said
—
1. Sebuah Perubahan Sunyi di Dunia Digital
Perubahan kecil dalam satu paragraf di laman Wikipedia mungkin tampak sepele.
Namun ketika laman itu membahas Zionisme — sebuah ideologi yang melahirkan negara Israel dan membentuk salah satu konflik paling kompleks abad modern — setiap kata menjadi politis.
Beberapa pekan terakhir, Wikipedia bahasa Inggris mengubah deskripsi resminya tentang Zionism.
Kini tertulis:
“Zionisme adalah gerakan nasionalis yang muncul di Eropa akhir abad ke-19, yang berupaya membangun dan mendukung tanah air Yahudi melalui penjajahan Palestina … dengan tanah seluas mungkin, orang Yahudi sebanyak mungkin, dan orang Arab Palestina sesedikit mungkin.”
Dengan kata lain, Wikipedia — ensiklopedia daring terbesar di dunia, dibaca miliaran orang — kini menegaskan bahwa Zionisme adalah proyek kolonialis.
Sebuah pergeseran semantik yang kecil, namun mengguncang fondasi narasi global.
—
2. Zionisme: Dari Aspirasi Spiritual ke Proyek Politik
Zionisme lahir di Eropa pada akhir abad ke-19, di tengah kebangkitan nasionalisme dan meningkatnya antisemitisme.
Tokoh utamanya, Theodor Herzl, seorang jurnalis Yahudi Austria, menulis buku Der Judenstaat (Negara Yahudi) tahun 1896. Ia berargumen bahwa keselamatan orang Yahudi hanya mungkin jika mereka memiliki negara sendiri — “sebuah tanah air yang aman bagi bangsa yang telah terusir.”
Bagi Herzl dan generasi awal Zionis, Palestina adalah “tanah tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah.”
Slogan itu kini dianggap menafikan keberadaan ratusan ribu penduduk Arab yang telah hidup di tanah tersebut selama berabad-abad.
Dari sinilah akar kontroversi muncul: apakah Zionisme adalah gerakan pembebasan bangsa yang teraniaya, atau kolonialisme baru yang datang dari Eropa ke Timur Tengah?
—
3. Narasi Resmi vs Narasi yang Direvisi
Versi Wikipedia bahasa Ibrani tetap mempertahankan definisi lama:
“Zionisme adalah gerakan dan ideologi nasional yang bertujuan untuk membangun dan mempertahankan tanah air bagi bangsa Yahudi di Tanah Israel… Ia menegakkan nilai demokrasi dan perdamaian.”
Sedangkan versi bahasa Inggris menambahkan kata-kata seperti “penjajahan Palestina” dan “mengurangi jumlah orang Arab.”
Bagi para pengamat, perubahan ini menandai pergeseran epistemologis — dari narasi teologis menuju analisis kolonial.
Ketua Organisasi Zionis Dunia, Yaakov Hagoel, menilai revisi itu sebagai “distorsi serius terhadap sejarah.”
Ia menegaskan:
“Zionisme lahir dari aspirasi akan kebebasan dan keamanan bagi kaum Yahudi, bukan penjajahan. Mereka yang mencoreng Zionisme sesungguhnya menantang hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya.”
Namun bagi para sejarawan Palestina seperti Rashid Khalidi (The Hundred Years’ War on Palestine) dan Ilan Pappé (The Ethnic Cleansing of Palestine), fakta sejarah menunjukkan sebaliknya:
pendirian Israel pada 1948 adalah hasil pembersihan etnis terencana terhadap rakyat Palestina — bukan konsekuensi perang, melainkan strategi sistematis.
—
4. Kolonialisme Pemukiman: Kategori Baru untuk Kasus Lama
Dalam studi akademik kontemporer, muncul istilah settler colonialism — kolonialisme pemukiman — yang berbeda dari kolonialisme klasik.
Jika kolonialisme biasa bertujuan mengeksploitasi tanah jajahan dari jarak jauh (seperti Inggris di India), maka kolonialisme pemukiman bertujuan menggantikan penduduk asli dengan komunitas baru yang menetap permanen (seperti di Amerika, Australia, dan Israel).
Zionisme, menurut banyak akademisi, masuk kategori kedua.
Profesor Patrick Wolfe, ahli teori kolonialisme pemukiman, menyebutnya:
“Struktur, bukan peristiwa. Ia berlanjut hingga hari ini.”
Artinya, kolonialisme pemukiman tidak berhenti saat bendera dikibarkan, tapi berlanjut melalui kebijakan tanah, hukum kepemilikan, dan sistem keamanan yang terus menyingkirkan penduduk asli.
Inilah yang terjadi di Palestina: dari pengusiran massal 1948 (Nakba), pendudukan Tepi Barat 1967, hingga perluasan pemukiman di abad ke-21.
—
5. Pandangan Para Sejarawan
Beberapa sejarawan menempatkan Zionisme di antara dua realitas yang saling tumpang tindih:
Anita Shapira (Universitas Tel Aviv):
“Zionisme bukan kolonialisme klasik karena tidak dikendalikan metropole. Namun, dalam praktiknya, ia bersifat kolonial terhadap penduduk lokal.”
Avi Shlaim, anggota New Historians:
“Gerakan Zionis memuat unsur pembebasan nasional dan kolonialisme pemukiman sekaligus — dua sisi dari koin yang sama.”
Omar Baddar (Arab American Institute):
“Zionisme adalah kolonialisme eksistensial: tujuannya bukan hanya kekuasaan ekonomi, tetapi penggantian total populasi.”
Edward Said menulis dengan tajam:
“Zionisme tidak hanya proyek kebangsaan Yahudi, tapi juga proyek penyingkiran Arab — kolonialisme dengan nama moralitas.”
—
6. Perang Narasi: Dari Akademi ke Dunia Digital
Selama puluhan tahun, narasi Zionisme didominasi versi Barat: kisah heroik bangsa yang selamat dari Holocaust dan menemukan rumah.
Namun dalam dua dekade terakhir, terutama sejak Intifada Kedua (2000) dan perang Gaza, wacana global mulai berubah.
Lembaga-lembaga akademik, media independen, dan kini Wikipedia, mulai menggunakan bahasa yang menyingkap dimensi kekuasaan dan kolonisasi di balik narasi “pembebasan nasional”.
Inilah yang ditakuti elite Zionis: bukan peluru, tapi bahasa — karena bahasa membentuk legitimasi.
Dan ketika Wikipedia menulis bahwa Zionisme adalah kolonialis, itu berarti dunia mulai menulis ulang sejarah dengan lensa yang berbeda.
BACA JUGA: Genosida di Gaza: Pencipta Konflik Antara Yahudi, Zionisme, Israel, dan Dunia
7. Zionisme di Persimpangan Etika
Pertanyaan besar muncul:
Apakah Zionisme masih dapat disebut sebagai gerakan pembebasan, ketika ia menindas bangsa lain untuk merealisasikannya?
Bagi banyak Yahudi progresif sendiri — seperti kelompok Jewish Voice for Peace atau akademisi Judith Butler — jawaban moralnya kini berubah.
Mereka melihat keadilan universal sebagai nilai Yahudi sejati, bukan dominasi etno-nasionalis.
Sementara itu, bagi rakyat Palestina, label “kolonialis” bukan semata teori, melainkan pengalaman sehari-hari: rumah yang dirampas, tanah yang disita, dan kebebasan yang dikekang.
—
8. Penutup: Siapa yang Berhak Menulis Sejarah?
Revisi Wikipedia hanyalah satu bab kecil dalam perang yang lebih besar: perang atas memori, legitimasi, dan bahasa.
Namun seperti semua perang wacana, ia memiliki dampak simbolik yang dahsyat.
Karena pada akhirnya, siapa yang menulis sejarah, ia pula yang menentukan siapa yang bersalah dan siapa yang sah.
Dan ketika laman paling dibaca di dunia kini menulis bahwa Zionisme adalah proyek kolonialis, dunia sedang menyaksikan pergeseran besar — dari narasi penebusan menuju pengakuan penindasan.
Sejarah, rupanya, mulai menagih kejujuran. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
