Pengkhianatan Yahudi terhadap Eropa dan Amerika

Nasrulloh Baksolahar
11 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

“Apakah engkau menyadari bahwa sekutu yang kau anggap kuat bisa menjadi musuh ketika dia lemah, dan pelindung yang kau anggap abadi bisa gigit tanganmu?”
— sang guru menatap muridnya dalam majelis senja.

Penghianatan di era Romawi

DI masa Romawi, Yahudi menjadi kaum minoritas yang dijaga tapi dibenci. Sejarawan Eropa, Edward Gibbon dalam The Decline and Fall of the Roman Empire, menulis bahwa setiap kali kekaisaran memberi hak istimewa kepada Yahudi, mereka menggunakannya untuk memperkaya diri, bukan memperkuat harmoni sosial.

Mereka bersekutu dengan Roma ketika Kristen mulai tumbuh, lalu berkhianat kepada Roma ketika Roma melemah. Sikap “memanfaatkan kekuatan sementara” inilah yang membuat mereka terusir berkali-kali dari Yerusalem hingga Eropa.

Dan ketika mereka lari ke Andalusia — negeri Islam yang damai di bawah kekuasaan khalifah — mereka disambut dan dilindungi. Namun seperti dicatat oleh sejarawan Muslim Ibnu Khaldun, setelah memperoleh posisi ekonomi dan politik, sebagian di antara mereka justru bersekongkol dengan pasukan Kristen Reconquista untuk menggulingkan pemerintahan Islam.

“Mereka mengambil manfaat dari Islam, namun menaruh harapan kepada musuh Islam.”
— Ibnu Khaldun, al-‘Ibar, Juz IV

Mereka berkhianat bahkan dalam kondisi menjadi tamu — karena mereka melihat keamanan hanya sebagai kesempatan, bukan amanah.

Kenangan Lemah yang Terang: Eropa Abad Pertengahan

Pada suatu masa, kaum Yahudi hidup sebagai minoritas dalam kekuasaan Kristen Eropa. Mereka terdesak secara sosial, ekonomi, dan politik — dalam kondisi lemah. Namun walau demikian, mereka tidak serta-merta bersikap setia kepada tuan yang memberi perlindungan; mereka pun menjalin tarik-ulur yang berujung pada pengkhianatan baik secara aktif maupun pasif.

1. Inggris, 1290

Di Inggris abad ke-13, kaum Yahudi yang cukup berpengaruh dalam bidang pinjam-meminjam uang dan keuangan menjadi “harta” raja dalam arti bahwa raja memanfaatkan mereka sebagai sumber pajak dan kredit.

Tapi ketika kondisi berubah — ketika mereka dianggap beban dan target kemarahan publik — maka mereka diusir secara keseluruhan lewat Edict of Expulsion 1290 oleh Edward I.
Dalam majelis guru, sang murid bertanya: “Bukankah mereka diperlakukan dengan buruk?” Gurunya menjawab, “Ya — tapi ingat, dalam kondisi mereka lemah pun mereka melakukan tipu daya terhadap raja, memanipulasi utang, memeras perlindungan, dan tidak membina loyalitas hakiki. Itulah pengkhianatan dalam kelemahan.”

2. Prancis dan Spanyol, 1300-1492

– Prancis mengusir Yahudi dalam gelombang besar mulai awal 1300-an.
– Puncaknya, di Spanyol: Alhambra Decree 1492 memerintahkan seluruh Yahudi yang tidak bersedia berpindah agama atau keluar dari kerajaan Castile-Aragon untuk diusir.
Guru memandang muridnya, “Lihat: mereka hidup diberi tempat, diberi toleransi, tetapi ketika kekuasaan Kristen mulai kuat kembali — mereka justru menjadi musuh negara yang mereka tinggali. Mereka menolak integrasi, mereka mengejar keuntungan sendiri, mereka membiarkan konflik internal tumbuh. Itu pengkhianatan dalam keadaan lemah.”

3. Cara-Cara Pengkhianatan di Saat Lemah

Beberapa metode yang muncul dalam kondisi lemah:

  • Memanipulasi kedudukan sebagai “tuan hutang” sehingga raja terikat utang besar, lalu menekan syarat-syarat perlindungan.
  • Mendorong kebencian lokal untuk keuntungan ekonomi (misalnya dengan menuntut bunga tinggi atau monopoli tertentu) yang kemudian menciptakan keretakan dengan pelindung.
  • Kolusi diam-diam dengan kekuasaan asing atau perubahan rezim untuk melindungi diri sendiri, meskipun merugikan negara tuan.
  • Kurangnya asimilasi: tetap mempertahankan komunitas tertutup, yang membuat kepercayaan tuan rumah menurun, akhirnya menjadi pembenaran pengusiran.
  • Sejarawan Rowan Dorin dalam bukunya No Return: Jews, Christian Usurers, and the Spread of Mass Expulsion in Medieval Europe menelusuri bagaimana hubungan ekonomi kaum Yahudi dengan tuan tanah Eropa sering diwarnai klaim ganda, yang akhirnya menjadi alasan pengusiran besar-besaran.

Kata sang guru: “Dalam kelemahan pun mereka berkhianat — bukan karena kuat, tetapi karena kurang… kurang rasa syukur, kurang integrasi, kurang loyalitas.”

Perubahan Waktu: Dari Kelemahan ke Kekuatan Modern

Seiring berlalunya zaman, kaum Yahudi — atau lebih tepat negara Yahudi dan komunitas Yahudi global — bergeser ke posisi yang lebih kuat. Namun pola pengkhianatan terhadap pelindung atau sekutu tetap muncul, kini dalam wujud berbeda dan skala global.

Setelah Perang Dunia II & Bangkitnya Israel

Negara Israel (1948) muncul dalam konteks perlindungan Barat, khususnya Amerika Serikat dan sekutu Eropa, yang melihat Yahudi sebagai korban Holocaust dan memberi dukungan besar kepada negara baru itu.

Namun sejarawan dan pengamat hubungan internasional mencatat bahwa dalam kondisi “kuat” ini, Israel mulai menampilkan sikap yang mempersoalkan sekutunya sendiri.

Amerika Serikat dan Keluhan Mata Tertutup

– Mantan anggota Kongres AS, Paul Findley, menulis bahwa dukungan AS terhadap Israel telah melewati tahap kemitraan menjadi “ketergantungan” akibat lobi Yahudi yang menurutnya “terlalu kuat.”

– Artikel TIME (2023) menyebut bahwa di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu, Israel “semakin sering bertindak sebagai adversary bagi AS” dalam kebijakan yang melawan kepentingan AS.

– Laporan bahwa intelijen AS menemukan bahwa militer Israel sendiri mengakui potensi kejahatan perang yang menggunakan senjata AS memperkuat keraguan terhadap sekutu kuat itu.

Guru menegaskan: “Ketika mereka kuat di atas meja, mereka lupa bahwa tangan yang memberi mungkin akan mengambil kembali. Pengkhianatan dalam kekuatan lebih berbahaya karena konsekuensinya global.”

Eropa dan Kejengkelan terhadap Sekutu

– Sebuah polling AP-NORC menunjukkan bahwa banyak warga Amerika tidak lagi melihat Israel sebagai “berbagi nilai” dengan AS, meskipun tetap melihatnya sebagai mitra.

– Di Eropa, kritik terhadap Israel meningkat, dan sekutu yang dulu diam-tulus kini mulai mempertanyakan dukungan tanpa syarat.

Cara pengkhianatan dalam kekuatan ini muncul lewat:

Memanfaatkan bantuan Barat untuk kebijakan yang merugikan sekutu.

Menuntut perlindungan militer/politik besar sambil menolak kendali atau transparansi dari sekutu.

Meminimalkan kemitraan sebagai berbagi nilai, menjadi instrumen strategis unilateral.

Urutan Waktu dan Pola

Mari kita rangkum secara kronologis:

1. Abad ke-13–15 (Eropa) – Kondisi Lemah

Inggris 1290: pengusiran Yahudi di tengah posisi mereka sebagai kreditur raja.

Prancis dan Spanyol: 1300-1492: Yahudi diusir atau dipaksa berpindah agama karena menjadi “beban” bagi monarki.
Pola pengkhianatan: manipulasi keuangan, menuntut gagasan keberpihakan, menjaga keunikan komunitas tanpa loyalitas lanjutan.

2. Abad ke-20–21 (Amerika & Israel) – Kondisi Kuat

USA-Israel pasca WWII: bantuan militer dan diplomatik besar.

1967, dan pasca: ketergantungan strategis AS.

Abad ke-21: Amerika dan Eropa mulai merasa jengkel terhadap Israel yang mempergunakan dukungan mereka untuk kebijakan kontroversial.
Pola pengkhianatan: manipulasi sekutu, tuntutan tanpa reciprocation, dominasi agenda sekutu.

Negara Israel lahir bukan dari kekuatan moral, tapi hasil manipulasi politik global. Pada masa awal berdirinya (1948), mereka hanyalah koloni kecil yang bergantung penuh pada simpati Barat. Amerika Serikat dan Inggris membuka pintu emas bantuan ekonomi, senjata, dan diplomasi.

Namun kini, di puncak kekuatannya — dengan teknologi militer, dukungan nuklir, dan lobi internasional — mereka mulai menjengkelkan bahkan sekutu terdekatnya.

Sejarawan kontemporer Ilan Pappé menulis dalam The Ethnic Cleansing of Palestine bahwa Israel lahir dari “strategi pemerasan moral terhadap Eropa”: memanfaatkan rasa bersalah Eropa atas Holocaust untuk menghalalkan kejahatan baru di Palestina.

Ketika kuat, mereka tak segan menipu yang dulu menyelamatkan.

Insiden kapal USS Liberty (1967), di mana angkatan udara Israel menyerang kapal mata-mata milik Amerika Serikat di Laut Tengah, menewaskan 34 pelaut AS. Israel berdalih “salah sasaran”, tapi dokumen CIA kemudian menunjukkan penyerangan itu disengaja — untuk menutupi operasi rahasia di Sinai.

Sejak itu, seperti dicatat oleh sejarawan Amerika John Mearsheimer dan Stephen Walt dalam The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy, hubungan Amerika–Israel bukan lagi kemitraan, melainkan dominasi sepihak Israel terhadap kebijakan luar negeri AS.
Mereka bukan sekutu yang berterima kasih, melainkan pelindung yang dikendalikan oleh pihak yang mereka lindungi.

Di Eropa, sikap yang sama muncul. Dalam laporan majalah Der Spiegel (2024), banyak diplomat Jerman mulai “muak dengan keangkuhan Israel” yang menggunakan luka Holocaust sebagai tameng kebal kritik.
Mereka lupa, kata sejarawan Inggris Arnold Toynbee, bahwa “setiap bangsa yang mengulangi penderitaan yang dahulu ia alami kepada bangsa lain, sedang menulis kehancurannya sendiri.”

Sejarawan Robert C. Lieberman (analisisnya atas buku The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy) menyebut bahwa mekanisme relasi AS-Israel bukan sekadar diplomasi, tetapi “jalur pengaruh yang membuat sekutu menjadi terkunci dalam paradigma yang mereka sendiri sulit kendalikan”.
Dengan kata lain: pengkhianatan dalam kekuatan muncul karena struktur hubungan yang timpang.

Refleksi Dialogis

Murid bertanya lagi,—“Apakah ini artinya kaum Yahudi selalu berkhianat?”
Guru menjawab, “Bukan semata kaum itu, tetapi watak yang muncul: ketika mendapat perlindungan, tapi tidak membangun kepercayaan; ketika mendapat kekuatan, tapi tidak mendirikan amanah. Pengkhianatan bukan kondisi fisik, tetapi kondisi hati dan etik.”

“Dalam keadaan lemah kau takut, maka kau menikam dari belakang. Dalam keadaan kuat kau merasa tak tergantikan, maka kau menekan yang dahulu menolongmu.”
— guru

BACA JUGA:  Kehancuran Yahudi Menurut Taurat dan Rabi Yahudi

Pelajaran Sekarang

– Pelindung bukan selamanya baik: ketika sekutumu memberi, jangan langsung merekayasa relasi tanpa tanggung jawab.

– Kekuatan bukan pembebasan moral: menjadi kuat tidak berarti bebas menzalimi pelindungmu

— karena itulah dasar yang melandasi pengkhianatan besar.

– Riwayat mengulangi pola: kondisi lemah maupun kuat sama-saja kecuali diwarnai rasa syukur, loyalitas, dan kejujuran.

Penutup

Di akhir majelis, sang guru menutup dengan doa:

“Ya Allah, jagalah kami dari menjadi kaum yang bila dilindungi membangkang, bila diperkuat menzalimi. Jadikanlah kami sekutu yang beriman, yang tahu bahwa kekuatan sejati bukan di tangan, tetapi di nurani yang tunduk kepada-Mu.” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *