Doa Nabi Syits dan Terpisahnya Dunia Jin dan Manusia

Yudi
By Yudi
3 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

DI masa ketika bumi masih muda dan jejak manusia belum sebanyak daun yang gugur, wafatlah Adam, bapak seluruh insan. Kepergiannya meninggalkan duka yang panjang di ufuk dunia, juga amanah yang berat bagi keturunannya.

Maka Allah menganugerahkan seorang putra yang lahir sebagai penghibur luka: Syits namanya, yang berarti hadiah, sebab kehadirannya adalah rahmat setelah tragedi. Dialah yang dipilih untuk meneruskan cahaya risalah, menjaga warisan tauhid yang hampir padam oleh kabut dosa pertama.

Pada masa itu, dunia belum sepenuhnya berjauhan. Manusia dan jin hidup dalam jarak yang masih bisa disapa. Dua makhluk berkehendak bebas berjalan di bumi yang sama, berbagi ruang yang belum dibatasi tabir.

BACA JUGA: Nabi Adam dan Di Balik Bisikan Pohon Khuldi

Ada jin yang tunduk, ada pula yang membangkang sejak awal. Mereka bergerak lebih cepat dari angin, menjelma tanpa rupa, dan menyusup ke celah kehidupan manusia. Pada mulanya, keseimbangan terasa biasa saja, namun waktu perlahan mengubah arah.

Setelah darah Habil tertumpah oleh tangan saudaranya sendiri, garis keturunan Qabil tumbuh dalam bayang-bayang luka dan kesombongan. Mereka menjauh dari cahaya, memilih jalan yang penuh gemerlap semu. Di situlah jin-jin durhaka menemukan ladang subur untuk berbisik.

Nafsu diperindah, maksiat dinyanyikan, berhala diberi nama, dan kesenangan dijadikan tuhan. Manusia yang rapuh mulai percaya pada bisikan yang dibungkus kenikmatan. Jin pun bukan lagi sekadar makhluk lain—mereka dipuja, disembah, dijadikan tempat bergantung selain Allah.

Syits menyaksikan semua itu seperti melihat retakan pada langit yang seharusnya utuh. Ia berdiri di tengah umat yang kian terbelah: sebagian menjaga cahaya, sebagian larut dalam gelap. Doanya mengalir dalam sunyi malam, penuh kegelisahan seorang nabi yang memikul langit di dadanya. “Wahai Tuhanku,” bisiknya dalam sujud yang panjang, “pisahkanlah kami dari mereka. Jauhkan anak-cucu Adam dari sentuhan yang menyesatkan.” Ia tahu, selama tabir belum diturunkan, luka akan terus menganga.

Allah pun mengabulkan doa yang lahir dari kasih dan tanggung jawab itu. Dunia ditata kembali. Jin dan manusia diberi batas, dipisahkan oleh tirai yang tak kasatmata.

Mata manusia tak lagi mampu menangkap rupa mereka, dan langkah jin tak lagi bebas menjejak kehidupan insan. Bisikan masih ada, tetapi genggaman dilepaskan. Bumi menjadi lebih sunyi, namun juga lebih aman.

BACA JUGA:  Siapa Penghuni Bumi Sebelum Nabi Adam? Ternyata Ada Makhluk Lain

Dalam pemisahan itu tersimpan rahmat yang besar. Manusia diberi ruang untuk menata iman tanpa gangguan yang terlalu nyata. Hati diberi kesempatan untuk memilih dengan lebih jernih. Dan Syits, sang penerus hadiah dari langit, menyaksikan umatnya berjalan di bumi dengan jarak yang lebih aman dari jurang yang dulu menganga.

Sejarah pun mencatat, bahwa kadang sebuah batas bukanlah hukuman, melainkan perlindungan. Dan dari doa seorang nabi yang sederhana, Allah menghadirkan dinding tak terlihat yang menjaga manusia hingga akhir zaman. []

SUMBER: MUSLIMIDIA

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *