BUMI yang kita pijak hari ini adalah satu-satunya tempat persinggahan manusia sebelum menuju kehidupan yang kekal. Di atas tanah inilah kita berjalan, bekerja, tertawa, bersenang-senang, dan berbuat dosa. Namun sering kali manusia lupa bahwa keberadaannya di bumi hanyalah sementara. Cepat atau lambat, kita semua akan kembali ke dalam perut bumi, merasakan kesendirian, kegelapan, dan balasan atas apa yang telah kita perbuat.
Para ulama salaf telah lama mengingatkan tentang hakikat bumi dan kubur. Dalam kitab Tanbihul Ghafilin karya Abu Laits As-Samarqandi rahimahullah, disebutkan bahwa bumi setiap hari memanggil manusia dengan lima panggilan yang sarat peringatan. Panggilan ini bukan sekadar kisah, melainkan nasihat bagi hati yang masih hidup.
1. “Wahai manusia, kamu berjalan di punggungku dan tempat kembalimu adalah perutku.”
Panggilan ini menegaskan bahwa sekuat apa pun manusia berdiri di atas bumi, sejatinya bumi pula yang akan menelannya. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:
“Engkau bukanlah diciptakan untuk tinggal di dunia, tetapi dunia diciptakan untuk menguji dirimu.”
BACA JUGA: Dari Mana Saja Sumber Uang Haram di Akhir Zaman Ini?
Di akhir zaman, manusia berlomba membangun rumah megah dan menancapkan ambisi seolah tak akan mati. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kubur adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Jika selamat darinya, maka setelahnya lebih mudah; jika tidak, maka setelahnya lebih dahsyat.
2. “Wahai manusia, kamu memakan berbagai makanan di punggungku, tetapi kamu akan dimakan ulat di dalam perutku.”
Ini adalah tamparan keras bagi manusia yang tenggelam dalam syahwat perut dan kemewahan hidup. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap hari berlalu, sebagian dari dirimu ikut hilang.”
Makanan lezat yang dinikmati hari ini tak akan menyelamatkan jasad dari kehancuran. Di dalam kubur, tubuh yang dahulu dibanggakan akan hancur dimakan tanah dan ulat, kecuali amal shalih yang menjadi penolong.
3. “Wahai manusia, kamu tertawa di punggungku, tetapi kamu akan menangis di dalam perutku.”
Di akhir zaman, tawa semakin banyak, sementara tangis karena takut kepada Allah semakin jarang. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Seandainya manusia mengetahui apa yang menantinya setelah mati, niscaya sedikitlah tawa dan banyaklah tangisnya.”
Tangisan di dunia karena taubat adalah rahmat, sedangkan tangisan di kubur karena penyesalan adalah azab. Bumi mengingatkan bahwa tawa tanpa iman hanya akan berujung tangis panjang di alam barzakh.
4. “Wahai manusia, kamu bersuka ria di punggungku, tetapi kamu akan bersedih di dalam perutku.”
Kesenangan dunia sering membuat manusia lupa akhirat. Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:
“Jika dunia membuatmu lalai dari akhirat, maka ia adalah musuhmu.”
Kesedihan di kubur bukan karena kehilangan dunia, tetapi karena hilangnya kesempatan beramal. Di akhir zaman, manusia bersedih karena urusan dunia, namun jarang bersedih karena dosa-dosanya.
5. “Wahai manusia, kamu berbuat dosa di punggungku dan kamu akan disiksa di dalam perutku.”
Inilah panggilan paling menggetarkan. Dosa yang dilakukan secara sembunyi maupun terang-terangan akan dimintai pertanggungjawaban. Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Seorang mukmin melihat dosanya seperti gunung yang akan menimpanya, sedangkan orang fasik melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya.”
Di akhir zaman, dosa dianggap biasa, maksiat dipertontonkan, dan rasa takut kepada Allah semakin memudar. Padahal bumi mencatat setiap langkah dan kelak menjadi saksi.
BACA JUGA: 14 Hal “Gila” yang Terjadi di Akhir Zaman
Penutup: Jangan Tertipu oleh Dunia yang Sementara
Itulah panggilan bumi bagi manusia yang terlena oleh gemerlap dunia. Tidak ada harta, jabatan, atau manusia yang dapat menemani kita di dalam kubur, kecuali amal shalih. Oleh karena itu, janganlah kita terlalu bersenang-senang di dunia ini, seakan-akan kita akan hidup selamanya.
Kita harus menjaga diri agar tidak melampaui batas, sebab murka Allah bukan hanya mendatangkan azab di akhirat, tetapi juga menjadikan bumi yang kita pijak hari ini membenci kita, lalu membalasnya saat kita kembali ke dalam perutnya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengambil pelajaran sebelum penyesalan datang. Na‘udzu billahi min dzalik. []
Sumber:
Terjemah Tanbihul Ghafilin (Peringatan bagi Orang-orang yang Lupa)
Karya: Abu Laits As-Samarqandi rahimahullah
Penerbit: PT Karya Toha Putra Semarang
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


