Menu

Pemuda Saleh dan Wanita yang Menaklukkan Cintanya dengan Ibadah

"Wahai pemuda, tolong jangan balik menghindar. Setelah ini, tidak akan ada pertemuan lagi kecuali di hadapan Allah."

Nasrulloh Baksolahar · 5 menit baca
Pemuda Saleh
Foto: Islampos AI

Di Kufah, ada seorang pemuda yang rajin beribadah. Dia selalu berada di masjid jami. Dia adalah sosok pemuda yang berwajah elok, memiliki pembawaan tenang dan berwibawa.

Pada suatu kesempatan, ada seorang perempuan cantik dan cerdas melihat pemuda tersebut dan jatuh cinta kepadanya. Selama beberapa waktu, perempuan tersebut memendam rasa cintanya itu.

Kemudian, pada suatu hari, perempuan tersebut menghadang si pemuda ketika sedang berjalan menuju ke masjid.

“Wahai pemuda, tolong dengarkan, saya ingin berbicara sebentar denganmu. Kemudian setelah itu, silakan engkau lanjutkan kembali aktivitasmu,” sapa si perempuan kepada pemuda itu.

Akan tetapi, si pemuda tidak menggubrisnya dan langsung berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadanya.

Setelah itu, si perempuan kembali mencegat si pemuda ketika dia berjalan pulang ke rumah.

BACA JUGA: Keberkahan yang Tak Terduga: Kisah Halimah dan Pengasuhan Sang Nabi

“Wahai pemuda, saya ingin berbicara dengan engkau sebentar, tolong dengarkan,” kata si perempuan.

Si pemuda diam tertunduk lama, kemudian dia berkata,

“Ini tidak baik, karena akan menimbulkan kecurigaan yang bukan-bukan, dan saya tidak ingin itu terjadi pada diriku.”

Si perempuan berkata,

“Demi Tuhan, saya berdiri di sini sama sekali bukan karena saya tidak tahu siapa engkau. Saya juga yakin bahwa orang-orang sufi dan zahid tidak mungkin memiliki suatu keinginan semacam itu kepada diriku.

Hal yang mendorong saya untuk menemuimu secara langsung adalah karena saya sadar betul bahwa sedikit dari hal ini adalah banyak di mata mereka, bahwa sesuatu yang ringan dan sepele dari masalah ini adalah berat dan serius bagi mereka. Kalian para sufi dan zahid adalah laksana seperti botol kaca yang rawan retak dan kotor.

banner blender

Inti dari apa yang ingin saya sampaikan kepadamu adalah, bahwa jiwa raga ini benar-benar tersita sepenuhnya olehmu.”

Lantas, si pemuda berlalu pergi menuju ke rumahnya. Setelah sampai di rumah, dia ingin shalat, tapi dia tidak bisa konsentrasi. Lantas, dia mengambil secarik kertas dan menulis suatu tulisan. Kemudian, dia pergi ke luar dan ternyata perempuan itu masih tetap berdiri di tempatnya semula.

Lalu, si pemuda memberikan surat tersebut kepada si perempuan dan langsung kembali pulang ke rumah.

Isi dari surat tersebut adalah,

“Bismillahir-rahmanir-rahim.. Perlu engkau ketahui wahai perempuan, bahwa sesungguhnya ketika Allah Tabaraka wa Taala didurhakai, maka Dia bermurah hati.

Lalu, ketika seorang hamba kembali mengulang kedurhakaannya, maka Allah masih berkenan menutupinya.

Akan tetapi, ketika seorang hamba telah mengenakan pakaian kemaksiatan, maka Allah akan murka dengan kemurkaan yang membuat langit, bumi, gunung-gunung, flora dan fauna, semuanya menjadi susah. Memang, siapakah yang kuasa menghadapi murka-Nya?!

Jika apa yang engkau sebutkan itu adalah batil, maka saya ingin mengingatkan engkau akan hari di mana langit laksana seperti luluhan logam yang mencair, gunung-gunung laksana seperti bulu yang berterbangan dan semua makhluk tunduk berlutut kepada kekuasaan Tuhan Yang Mahaagung lagi Mahakuasa.

Sungguh demi Tuhan, saya sendiri belum bisa memperbaiki diri saya sendiri, maka bagaimana mungkin saya bisa memperbaiki orang lain?!

Namun, jika apa yang engkau katakan itu adalah benar, maka saya akan menunjukkan kepada engkau tabib yang paling berkompeten mengobati luka yang menyakitkan dan penyakit yang menyiksa. Tabib itu ialah Allah, Tuhan seru sekalian alam.

Oleh karena itu, datangilah Dia dan berdoalah kepada-Nya dengan penuh kesungguhan dan ketulusan, karena saya sudah sibuk dengan ayat;

Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zhalim tidak mempunyai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya. Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (Al-Mu’min: 18-19)

Tidak ada tempat melarikan diri dari ayat ini. Sekian.”

Beberapa hari setelah itu, si perempuan kembali pergi ke jalan yang biasa dilalui oleh si pemuda. Dari kejauhan, si pemuda sudah melihat keberadaan si perempuan. Untuk itu, dia ingin balik pulang ke rumah untuk menghindar.

Tetapi, si perempuan sudah telanjur memanggilnya dan berkata,

“Wahai pemuda, tolong jangan balik menghindar. Setelah ini, tidak akan ada pertemuan lagi kecuali di hadapan Allah.”

Si perempuan pun menangis tersedu-sedu.

Kemudian dia kembali berkata,

“Saya memohon kepada Allah Yang memegang kunci-kunci hatimu, semoga Dia memudahkan apa-apa yang sulit dari urusanmu.”

Kemudian, si perempuan mengikuti si pemuda dan berkata,

“Tolong, beri saya nasehat yang akan selalu saya ingat, dan pesan yang akan saya amalkan.”

Lantas, si pemuda berkata,

“Saya berpesan kepadamu, jagalah dirimu dari dirimu, dan saya ingin mengingatkanmu akan ayat; Dan Dia-lah Yang menidurkanmu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang engkau kerjakan di siang hari.” (Al-An’am: 60)

Si perempuan pun tertunduk dan menangis tersedu-sedu, bahkan lebih hebat dari tangisannya yang pertama. Kemudian tangisannya mereda, lalu dia pulang ke rumah. Sejak saat itu, dia selalu berada di rumah dan mengisi hari-harinya dengan ibadah dan ibadah.

BACA JUGA:  Kisah Lelaki Sholeh yang Mencuri Ghanimah

Jika dia merasa tertekan dan galau, maka dia akan mengambil surat si pemuda tersebut dan meletakkan di kedua matanya. Melihat hal itu, ada seseorang berkata kepadanya,

“Apakah itu berguna?”

“Apakah ada obat lain untukku selain ini?” Jawabnya.

Setiap malam tiba, si perempuan mulai beranjak ke mihrabnya. Hal itu menjadi rutinitasnya setiap hari hingga dia meninggal dunia dengan memendam rasa kesedihan yang mendalam.

Setiap kali si pemuda teringat kepada si perempuan tersebut, maka dia menangisinya. Lalu, ada orang berkata kepadanya,

“Siapakah yang engkau tangisi, sementara engkau telah membuat dirinya putus asa?”

Si pemuda berkata,

“Pada awalnya, saya telah berhasil mencuri perhatian perempuan tersebut dan membuatnya memiliki harapan kepada saya. Kemudian, saya memutus harapannya itu serta saya jadikan hal itu sebagai sebuah tabungan saya di sisi Allah. Dan, saya merasa malu untuk meminta kembali tabungan itu dari-Nya” []

Sumber:
Ibnu Jauzy, Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah, Pustaka Al-Kautsar, 2017

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Nasrulloh Baksolahar

Penulis di Islampos Media. Artikel lainnya

Ayo donasi untuk Islampos Media
Tulis komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel terkait