“Apakah ada sesuatu di dunia ini yang benar-benar tidak bisa dikendalikan manusia?”
PERTANYAAN itu sering muncul diam-diam, bukan dalam forum ilmiah, tetapi dalam batin manusia yang lelah. Di hadapan harta, manusia masih bisa bekerja. Di hadapan kekuasaan, manusia masih bisa merancang siasat. Di hadapan teknologi, manusia bahkan bisa menantang batas alam. Namun ada satu hal yang sejak awal hingga akhir sejarah tetap berdiri tegak, tak bisa disuap, tak bisa ditundukkan, tak bisa diperintah: waktu.
Waktu tidak bisa ditambah. Tidak bisa dikurangi. Tidak bisa dibeli, dicuri, diwariskan, atau dimiliki.
Ia hanya berjalan.
Dan manusia—siapa pun dia—hanya ikut berjalan di dalamnya.
Allah membuka Surah Al-‘Aṣr dengan satu sumpah yang singkat, tetapi mengguncang:
> وَالْعَصْرِ
Demi masa.
Bukan demi matahari.
Bukan demi langit.
Bukan demi gunung.
Melainkan demi masa—sesuatu yang terus bergerak, terus menghabiskan, terus mengikis, tanpa pernah menoleh ke belakang.
Seakan Allah sedang mengajak manusia berhenti sejenak dan bertanya pada dirinya sendiri:
“Tidakkah kau sadar, hidupmu sedang berjalan, dan engkau tak pernah bisa menghentikannya?”

Masa sebagai Saksi, Bukan Pelaku
Dalam tafsir tahlili, para ulama menjelaskan bahwa sumpah Allah dengan masa bukan sekadar penegasan retoris. Masa adalah wadah kejadian, panggung di mana segala peristiwa berlangsung. Di dalamnya terjadi pergantian siang dan malam, lahir dan mati, naik dan jatuh, jaya dan runtuh.
Allah berfirman dalam ayat lain:
> وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ
Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan.
(QS. Fuṣṣilat: 37)
Malam dan siang bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah tanda. Tanda bahwa ada Pengatur yang Maha Teliti. Tanda bahwa hidup ini tidak berjalan liar. Tanda bahwa waktu bukan tuhan, tetapi makhluk.
Namun, di sinilah manusia sering keliru.
Ketika tertimpa bencana, sebagian manusia berkata,
“Beginilah nasib zaman.”
“Aturan alam memang kejam.”
“Waktu memang tidak berpihak.”
Al-Qur’an meluruskan kesalahpahaman ini dengan tegas:
waktu tidak pernah berbuat apa-apa.
Ia tidak mencelakakan, tidak menolong, tidak membenci, dan tidak mengasihi.
Waktu hanyalah tempat berlalunya akibat dari perbuatan manusia sendiri.
Jika seseorang menuai kesedihan, itu bukan karena waktu bersekongkol melawannya. Jika sebuah peradaban runtuh, itu bukan karena zaman membencinya. Semua terjadi karena hukum Allah bekerja—melalui sebab dan akibat—di dalam wadah yang bernama waktu.
Dialog Batin Manusia dengan Masa
Manusia sering berdialog dengan waktu, meski jarang disadari.
“Seandainya aku punya waktu lebih banyak…” “Dulu aku masih sempat…” “Nanti saja, waktuku belum tepat…”
Tetapi waktu tidak pernah menjawab.
Ia tidak menunggu kesiapan manusia.
Ia tidak peduli pada penyesalan.
Ia tidak berhenti demi harapan.
Dalam keheningan itu, waktu justru menjadi cermin paling jujur. Ia memperlihatkan siapa manusia sebenarnya. Bukan dari niatnya, tetapi dari apa yang benar-benar ia lakukan saat waktu diberikan.
Orang yang beriman memandang waktu dengan gentar.
Orang yang lalai memandang waktu dengan angan-angan.
Padahal, setiap detik yang berlalu adalah pengurangan, bukan penambahan.
Umur berkurang.
Kesempatan menyempit.
Pilihan menutup satu demi satu.
Kekuasaan yang Tumbang di Hadapan Waktu
Sejarah adalah saksi paling keras tentang ketidakberdayaan manusia di hadapan waktu.
Sang penguasa zalim, dengan istana megah dan pasukan bersenjata, tidak pernah berhasil memperlambat datangnya ajal. Panglima yang kejam dan pemberani tidak pernah mampu menunda keriput di wajahnya. Diktator yang menindas rakyatnya tidak pernah bisa memerintahkan waktu untuk berhenti saat namanya mulai dilupakan.
Waktu berjalan di atas reruntuhan kekuasaan mereka.
Fir‘aun tenggelam—waktu terus berjalan.
Namrud hancur—waktu tidak terhenti.
Kaum ‘Ād dan Ṡamūd lenyap—waktu tetap melaju.
Yang tersisa hanyalah pelajaran, bukan kekuasaan mereka.
Di sinilah Surah Al-‘Aṣr menemukan klimaksnya. Setelah Allah bersumpah dengan masa, Allah langsung menyatakan hakikat manusia:
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian…
Kerugian itu bukan karena kekurangan harta atau kekuasaan, tetapi karena kehilangan waktu tanpa makna.
BACA JUGA: Mengapa Muslim di Indonesia yang Shalat Fardhu 5 Waktu Disebut Rajin?
Waktu sebagai Amanah, Bukan Milik
Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk mengutuk waktu. Rasulullah ﷺ bahkan melarang mencela masa, karena waktu adalah ciptaan Allah.
Yang dituntut bukan mengendalikan waktu—karena itu mustahil—melainkan menunaikan amanah di dalamnya.
Beriman. Beramal saleh. Saling menasihati dalam kebenaran. Saling menasihati dalam kesabaran.
Empat hal ini bukan kebetulan. Ia adalah jawaban atas ketidakberdayaan manusia di hadapan waktu. Jika waktu tak bisa dikuasai, maka makna harus ditanamkan di dalamnya.
Pada akhirnya, waktu akan terus berjalan, baik manusia siap atau tidak. Yang membedakan hanyalah:
apakah ia menjadi saksi atas kelalaian,
atau saksi atas kesungguhan iman.
Dan ketika waktu selesai menjalankan tugasnya, manusia akan berdiri sendiri—tanpa kekuasaan, tanpa alasan—menghadap Tuhan yang bersumpah atas masa itu.
Di sanalah manusia akhirnya mengerti:
bukan waktu yang kejam,
melainkan manusia yang sering menyia-nyiakannya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


