Istri Sakit-sakitan, Tak Bisa Laksanakan Kewajiban, Suami Harus Bagaimana?

Dini Koswarini
6 Min Read
Foto: Freepik

PERNIKAHAN bukan hanya tentang menikmati masa-masa ketika semuanya baik-baik saja.

Ada saatnya salah satu pasangan jatuh sakit.

Tubuh yang dulu kuat menjadi lemah. Pekerjaan rumah terbengkalai. Hubungan suami istri pun mungkin terganggu.

Lalu, bagaimana jika istri sering sakit-sakitan sehingga tidak mampu menjalankan sebagian kewajibannya sebagai istri?

Apakah suami boleh marah?

Apakah semua kewajiban tetap harus dilakukan?

Atau justru suami harus mengambil sikap yang berbeda?

1. Sakit Bukan Kesalahan yang Harus Dihukum

Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa sakit bukan sesuatu yang selalu bisa dikendalikan.

Ketika seorang istri sakit, kemampuan fisik dan mentalnya tentu dapat menurun. Ia mungkin tidak sanggup memasak, membersihkan rumah, melayani kebutuhan tertentu, bahkan memenuhi kebutuhan biologis suaminya.

Dalam kondisi seperti ini, suami seharusnya tidak buru-buru menganggap istrinya sebagai orang yang malas atau tidak peduli.

BACA JUGA:  Kenapa Suami Istri Jima Sering Dianjurkan Malam Jum’at?

Allah berfirman,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kemampuan seseorang harus diperhatikan.

2. Suami Tetap Punya Tanggung Jawab Memperlakukan Istri dengan Baik

Pernikahan dalam Islam bukan hubungan antara majikan dan bawahan.

Suami memang memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Tetapi kepemimpinan tersebut bukan tiket untuk berlaku kasar kepada istri.

Allah berfirman,

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)

Ketika istri sakit, salah satu bentuk mu’asyarah bil ma’ruf adalah memberikan perhatian, membantu sesuai kemampuan, dan tidak menambah beban penderitaannya.

Rasulullah Muhammad ﷺ juga bersabda,

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Maka, ketika istri sedang lemah, justru di situlah akhlak seorang suami diuji.

3. Kewajiban Tidak Selalu Hilang, Tetapi Kemampuan Harus Dipertimbangkan

Ini bagian yang sering disalahpahami.

Sakit tidak otomatis membuat semua kewajiban seorang istri hilang. Namun, kewajiban yang berkaitan dengan kemampuan fisik tentu perlu dilihat berdasarkan kondisi nyata.

https://s.shopee.co.id/9V1flGBtVf

Istri yang sedang demam tinggi, menjalani perawatan, mengalami kelelahan berat, atau memiliki penyakit tertentu tidak bisa disamakan dengan istri yang sehat.

Karena itu, suami perlu membedakan antara tidak mau dan tidak mampu.

Tidak mau adalah persoalan yang berbeda.

Tidak mampu karena sakit adalah persoalan yang membutuhkan pertolongan.

Jangan menghukum seseorang atas sesuatu yang memang berada di luar kemampuannya.

4. Bagaimana dengan Nafkah Batin?

Hubungan intim merupakan salah satu hak dalam kehidupan pernikahan.

Namun, hubungan tersebut juga harus mempertimbangkan kondisi pasangan.

Jika istri sedang sakit dan hubungan seksual dapat memperparah kondisinya atau menimbulkan mudarat, suami tidak semestinya memaksakan kehendaknya.

Allah berfirman,

“Allah tidak bermaksud menyusahkan kamu.” (QS. Al-Ma’idah: 6)

Prinsip menghindari mudarat sangat penting dalam kehidupan rumah tangga.

Suami tetap boleh memiliki kebutuhan biologis, tetapi pemenuhannya harus ditempatkan dalam kerangka kasih sayang, kemampuan, dan kondisi kesehatan istri.

5. Jangan Menjadikan Sakit sebagai Alasan untuk Menelantarkan Istri

Ada perbedaan antara istri yang sakit dan istri yang sengaja mengabaikan suami.

Jika istri benar-benar sakit, suami justru memiliki kesempatan untuk menunjukkan kasih sayangnya.

Membantu mengambilkan obat.

Mengantar berobat.

Menyiapkan makanan.

Membantu pekerjaan rumah.

Menemani ketika kondisinya sedang buruk.

Hal-hal sederhana seperti itu mungkin tidak menghasilkan uang, tetapi bisa menjadi bentuk cinta yang sangat berarti.

Bukankah ketika menikah, seseorang berjanji untuk hidup bersama dalam keadaan suka maupun duka?

6. Kalau Sakitnya Berkepanjangan, Bagaimana?

Jika penyakit berlangsung lama, suami dan istri perlu duduk bersama.

Bicarakan apa yang masih mampu dilakukan istri.

Apa yang harus dibantu suami.

Apa yang bisa dikerjakan anggota keluarga.

Dan bagaimana kebutuhan rumah tangga dapat tetap berjalan.

Jika penyakitnya serius, pengobatan harus menjadi prioritas.

Bila diperlukan, pasangan juga dapat meminta bantuan dokter, konselor keluarga, atau ahli fikih yang memahami persoalan rumah tangga.

Jangan mengambil keputusan besar hanya berdasarkan emosi ketika sedang lelah menghadapi penyakit.

Kentut, Kewajiban
Foto: Freepik

7. Suami Perlu Bersabar, tetapi Bukan Berarti Mengabaikan Masalah

Sabar bukan berarti membiarkan masalah tanpa solusi.

Suami tetap perlu mencari jalan agar kehidupan keluarga berjalan dengan baik.

Jika pekerjaan rumah tidak mampu dilakukan istri, suami bisa membantu atau mencari bantuan.

Jika hubungan suami istri terganggu karena penyakit, keduanya perlu mencari solusi yang tidak menzalimi salah satu pihak.

Jika kondisi medis memungkinkan pengobatan, tempuhlah.

Jika dibutuhkan pendampingan psikologis atau konseling, jangan malu mencarinya.

Dan jika persoalan akhirnya menyentuh hak-hak hukum dalam perkawinan, konsultasikan kepada pihak yang kompeten sebelum mengambil keputusan.

BACA JUGA:  Sesudah Jima Boleh Langsung Makan atau Enggak Sih?

8. Ingat, Pernikahan Bukan Hanya Saat Pasangan Sehat

Ada orang yang mudah mencintai ketika pasangannya cantik, sehat, kuat, dan mampu melakukan banyak hal.

Tetapi cinta yang sebenarnya justru terlihat ketika keadaan berubah.

Ketika istri sakit.

Ketika suami kehilangan pekerjaan.

Ketika tubuh tidak lagi sekuat dulu.

Ketika kehidupan rumah tangga tidak berjalan sesuai harapan.

Di situlah makna saling menolong benar-benar diuji.

Allah berfirman,

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Maka jika istri sedang sakit-sakitan, suami tidak perlu langsung bertanya, “Apa kewajibanmu yang belum kamu lakukan?”

Sesekali, mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Apa yang bisa aku bantu agar kamu lebih kuat menghadapi sakit ini?”

Sebab pernikahan bukan hanya tentang mendapatkan hak dari pasangan.

Pernikahan juga tentang tetap menjadi tempat pulang ketika salah satu pasangan sedang tidak berdaya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *