DI sebuah majelis kecil, seorang murid muda duduk bersila di hadapan gurunya. Dengan wajah penuh kerinduan akan ilmu, ia bertanya lirih:
“Guru, siapakah para sahabat yang paling dalam menafsirkan Al-Qur’an? Bagaimana mereka menampung ilmu dari Rasulullah ﷺ hingga menjadi mata air tafsir bagi umat?”
Sang guru menutup matanya sejenak. Senyum teduh menghiasi wajahnya. Lalu dengan suara bergetar, ia berkata:
“Anakku, Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an menyebut sepuluh sahabat yang masyhur dalam tafsir. Mereka bukan hanya penghafal, bukan hanya pembaca, tapi saksi hidup turunnya wahyu. Mari kita susuri jejak mereka satu per satu.”
—
1. Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.
Ia adalah sahabat paling dekat dengan Nabi ﷺ, bahkan sejak awal dakwah. Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Seandainya aku boleh menjadikan seorang khalil (sahabat sejati), niscaya aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku.”
Para sahabat berkata: “Abu Bakar adalah yang paling bertakwa di antara kami dan yang paling dicintai Rasulullah ﷺ.”
Abu Bakar menampung ilmu tafsir dengan penuh kehati-hatian. Ia jarang menafsirkan secara rinci, takut berkata tentang Al-Qur’an tanpa ilmu. Namun, setiap ayat baginya adalah cahaya yang menuntun.
Ketika mendengar ayat: “Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit…” (QS. Thaha: 124)
Abu Bakar menangis tersedu-sedu. Hatinya takut menjadi hamba yang berpaling dari kalam Allah.

2. Umar bin al-Khattab r.a.
Umar dikenal dengan ketegasan dan firasatnya. Banyak ayat turun sesuai dengan pendapatnya, di antaranya:
Ayat tentang hijab (QS. al-Ahzab: 53).
Ayat tentang tawanan perang Badar (QS. al-Anfal: 67).
Ayat menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat (QS. al-Baqarah: 125).
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan dan hati Umar.”
Para sahabat sering berkata: “Kami selalu melihat seolah Al-Qur’an turun mengikuti pandangan Umar.”
Suatu malam, Umar shalat malam membaca ayat: “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan…” (QS. al-Fatihah: 5)
Beliau menangis lama, suaranya terisak hingga terdengar ke rumah tetangga. Begitulah Umar, keras di hadapan manusia, lembut dan luluh di hadapan Al-Qur’an.
—
3. Utsman bin ‘Affan r.a.
Penghimpun mushaf, menantu Nabi ﷺ, lelaki yang malaikat pun malu kepadanya. Nabi ﷺ bersabda: “Tidakkah aku merasa malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya?”
Utsman sangat tekun membaca Al-Qur’an. Para sahabat memujinya: “Utsman adalah orang yang paling banyak membaca Al-Qur’an di malam hari.”
Dalam shalat malamnya, ia sering menangis ketika membaca ayat: “Cukuplah Allah bagiku; tiada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal…” (QS. at-Taubah: 129)
Tafsir Utsman berakar dari kedekatan dengan mushaf. Ia menampung ilmu dari Rasulullah ﷺ lewat pendengaran dan penulisan, hingga menjadi penjaga bacaan umat.
—
4. Ali bin Abi Thalib r.a.
Nabi ﷺ bersabda: “Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.”
Ali memahami ayat zahir dan batin. Ia dibesarkan di rumah Nabi ﷺ, mendengar wahyu sejak kecil. Para sahabat berkata:
“Tidak ada satu ayat pun turun melainkan Ali tahu tentang apa dan di mana ia diturunkan.”
Ali sering menangis membaca ayat: “Setiap jiwa akan merasakan mati…” (QS. al-Ankabut: 57)
Baginya, setiap ayat adalah peringatan yang mengetuk hati. Tafsir Ali penuh hikmah, menyelami lapisan makna hingga ke kedalaman batin.
—
5. Abdullah bin Mas’ud r.a.
Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa ingin membaca Al-Qur’an sebagaimana ia diturunkan, bacalah menurut bacaan Ibnu Umm ‘Abd (Ibnu Mas’ud).”
Ia dekat sekali dengan Rasulullah ﷺ. Bahkan sering dipercaya memegang siwak dan sandal beliau. Umar berkata: “Ibnu Mas’ud adalah orang yang paling tahu tentang Al-Qur’an.”
Suatu kali ia membaca surah an-Nisa di hadapan Rasulullah ﷺ, hingga sampai pada ayat: “Maka bagaimana nanti (keadaan orang kafir) ketika Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka?” (QS. an-Nisa: 41)
Rasulullah ﷺ meneteskan air mata. Ibnu Mas’ud pun ikut menangis, merasa ayat itu begitu berat.
—
6. Abdullah bin Abbas r.a.
Ia masih muda, namun Nabi ﷺ mendoakannya: “Ya Allah, berilah ia pemahaman agama dan ajarkanlah ia tafsir Al-Qur’an.”
Umar sering memujinya: “Ibnu Abbas adalah pemuda yang matang akalnya.”
Ia sering menangis membaca ayat: “Hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. asy-Syu‘ara: 88–89)
Ilmunya luas, tafsirnya mendalam, hingga digelari Tarjuman al-Qur’an.
—
7. Ubay bin Ka‘b r.a.
Nabi ﷺ bersabda: “Ambillah Al-Qur’an dari empat orang: Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu‘adz, dan Ubay bin Ka‘b.”
Bahkan suatu hari Nabi ﷺ berkata kepadanya: “Allah memerintahkan aku membacakan ayat kepadamu.”
Ubay pun menangis haru mendengar kehormatan itu. Para sahabat berkata: “Ubay adalah yang paling tahu tentang qira’at.”
Setiap bacaan Al-Qur’an darinya terasa hidup, seolah turun kembali saat itu juga.
—
8. Zaid bin Tsabit r.a.
Sekretaris wahyu. Ia menulis ayat dari lisan Nabi ﷺ langsung ke lembaran. Umar dan Abu Bakar mempercayainya memimpin kodifikasi mushaf.
Nabi ﷺ pernah bersabda: “Zaid adalah yang paling tahu tentang ilmu waris.”
Zaid menangis ketika mendengar ayat: “Jika Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada gunung, niscaya kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah…” (QS. al-Hasyr: 21)
Betapa hati manusia harus lebih tunduk daripada gunung yang keras.
—
9. Abu Musa al-Asy‘ari r.a.
Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh ia diberi suara indah seperti keluarga Dawud.”
Para sahabat berkata: “Tidak ada suara lebih indah dari bacaan Abu Musa.”
Suatu malam Nabi ﷺ mendengar bacaannya, lalu bersabda: “Sungguh, malam ini aku mendengar bacaanmu, dan sungguh engkau telah diberi seruling dari seruling keluarga Dawud.”
Air matanya sering menetes saat membaca ayat tentang akhirat, membuat orang lain pun ikut tersentuh.
—
10. Abdullah bin Zubair r.a.
Ia tumbuh di rumah Nabi ﷺ, keponakan Aisyah, cucu Abu Bakar. Aisyah berkata: “Ibnu Zubair adalah yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ dalam ucapan dan shalat.”
Ia sering menangis membaca ayat: “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana yang menimpa orang-orang sebelum kalian?” (QS. al-Baqarah: 214)
Sejak kecil ia menampung ilmu tafsir melalui Aisyah, yang meriwayatkan banyak penjelasan Nabi ﷺ.
—
Penutup Reflektif
Sang guru menatap muridnya dengan mata basah.
“Anakku, sepuluh sahabat ini menampung Al-Qur’an dengan cara berbeda-beda:
Ada yang dengan kehati-hatian (Abu Bakar).
Ada yang dengan firasat tajam (Umar).
Ada yang dengan amanah mushaf (Utsman).
Ada yang dengan kedalaman batin (Ali).
Ada yang dengan kedekatan lahir-batin (Ibnu Mas’ud).
Ada yang dengan doa khusus Nabi ﷺ (Ibnu Abbas).
Ada yang dengan suara qira’at (Ubay dan Abu Musa).
Ada yang dengan pena wahyu (Zaid).
Ada yang dengan lingkungan keluarga Nabi ﷺ (Ibnu Zubair).
Mereka semua menangis bersama Al-Qur’an, hidup bersama wahyu, dan menjadi pintu tafsir bagi umat. Ayat-ayat turun menyertai mereka, pengalaman hidup mereka bercampur dengan wahyu, dan dari merekalah lahir warisan tafsir yang kita nikmati hingga kini.”
Sang murid termenung, lalu berbisik: “Guru, betapa beruntungnya mereka yang hidup bersama Al-Qur’an, bukan hanya di lisan, tapi di hati dan amal…”
Guru tersenyum: “Ya, nak. Tafsir bukan hanya ilmu, ia adalah cinta. Dan cinta itu diwariskan oleh para sahabat, agar kita pun bisa merasakan cahaya yang sama.” []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

