Tidak Hanya di Palestina: Eksistensi Yahudi di Amerika pun Mulai Dikhawatirkan?

Nasrulloh Baksolahar
11 Min Read
Olah foto dari: The New York Times

Ketika Sayap Kanan Israel Mempertaruhkan Masa Depan Negara pada Nasionalis Kristen Amerika — dan Itu Menjadi Bumerang

ADA sebuah ironi yang perlahan menjadi kenyataan pahit: Israel, yang selama puluhan tahun berdiri sebagai simbol kekuatan dan identitas Yahudi global, kini menemukan dirinya berada di tepi jurang yang digali oleh tangannya sendiri.

Di Gaza, mereka membangun tembok untuk memisahkan diri dari yang dianggap musuh; di Washington, mereka membangun jembatan dengan kelompok yang mereka yakini sebagai sahabat sejati. Tapi hari ini, baik tembok maupun jembatan itu mulai retak — satu karena darah, yang lain karena kepentingan.

—

Jembatan yang Dibangun dari Ideologi

Sejak era Donald Trump, strategi politik Israel mengalami pergeseran yang signifikan. Benjamin Netanyahu dan diplomat kepercayaannya, Ron Dermer, melihat peluang emas dalam gelombang populisme kanan Amerika.

Mereka menemukan basis dukungan yang militan, religius, dan vokal: para evangelis Kristen dan pengikut gerakan MAGA (Make America Great Again).

Bagi mereka, kelompok ini bukan sekadar sekutu politik, melainkan pilar ideologis baru bagi masa depan Israel di dunia yang semakin tidak bersahabat.

Kaum evangelis Amerika memang dikenal sebagai salah satu kelompok paling pro-Israel di dunia Barat. Namun, alasan di balik dukungan itu tidak sederhana: mereka percaya bahwa keberadaan Israel adalah prasyarat bagi kedatangan kembali Yesus Kristus — sebuah visi apokaliptik yang secara teologis menempatkan Yahudi bukan sebagai mitra abadi, melainkan instrumen dalam rencana akhir zaman.

“American evangelicals maintain that the continued existence of Israel is key to their understanding of the end times,” tulis Global Affairs (2025).

Israel menyambut dukungan itu tanpa terlalu peduli pada motifnya. Dalam politik realis, siapa pun yang mendukung — diterima. Tapi di sinilah jebakan itu dimulai.

—

Persahabatan yang Berubah Arah

Tulisan Yosua Leifer di The Guardian (5 November 2025) menyebutkan bahwa Netanyahu dan Dermer gagal membaca arah perubahan ideologis yang terjadi di Amerika.

Tokoh-tokoh berpengaruh di kalangan kanan Amerika, seperti Tucker Carlson dan Nick Fuentes, kini tak lagi menutupi retorika antisemitik mereka. Ironisnya, sebagian besar dari mereka dulu dielu-elukan sebagai “pembela Israel” karena keras menentang Palestina dan kelompok progresif Yahudi di AS.

Leifer menulis, “Israel telah menaruh masa depan moral dan politiknya pada koalisi yang kini semakin memusuhi Yahudi liberal dan diaspora Yahudi di AS.”

Di titik ini, muncul paradoks yang menakutkan: dukungan yang dulu menjadi fondasi kekuatan diplomatik Israel, kini menjadi sumber ancaman baru bagi keamanan identitas Yahudi di Amerika sendiri.

Para pemimpin Yahudi liberal di New York dan Los Angeles mulai merasakan tekanan. Mereka kini diserang dari dua arah: dari kiri karena membela Israel dalam perang Gaza, dan dari kanan karena dianggap bagian dari “elit global Yahudi” yang menguasai media dan keuangan dunia.

—

Dari Pro-Israel ke Antisemitisme Baru

Dalam sebuah artikel di New Lines Magazine berjudul “MAGA Zionism and Its Discontents” (Januari 2025), dijelaskan bahwa apa yang disebut “Zionisme MAGA” sebenarnya adalah bentuk aliansi politik yang rapuh dan transaksional.

Ia bersandar bukan pada solidaritas spiritual antara Yahudi dan Kristen, tetapi pada kalkulasi kekuasaan, isu budaya, dan politik identitas.

Bagi kelompok MAGA, Israel adalah simbol dari “peradaban Barat” yang harus dipertahankan dari “invasi Islam” dan “liberalisme global”.

Namun, di balik dukungan itu tersembunyi juga keyakinan bahwa Yahudi adalah bagian dari jaringan global yang menggerogoti “identitas kulit putih” Amerika.

Inilah yang disebut Itamar Mann dan Lihi Yona dalam The Guardian (Maret 2025) sebagai “antisemitisme yang dimodifikasi” — sebuah upaya kelompok nasionalis Kristen untuk mendefinisikan ulang siapa Yahudi yang diterima, dan siapa yang tidak.

Mereka menulis:

“The new definition of antisemitism is transforming America — not to protect Jews, but to serve a Christian nationalist plan.”

Artinya, dukungan terhadap Israel kini digunakan bukan untuk melindungi komunitas Yahudi, melainkan untuk memperkuat agenda teokratis Kristen di Amerika.

—

Para Pakar Yahudi yang Mulai Gelisah

Beberapa intelektual Yahudi ternama mulai menyuarakan kekhawatiran yang sama.

Daniel Levy, mantan negosiator perdamaian Israel dan analis politik Yahudi liberal, menegaskan bahwa Netanyahu telah mempersonalisasi hubungan Israel–Amerika secara berbahaya.

Menurutnya, “Israel kini lebih dikenal sebagai proyek ideologis sayap kanan global, bukan lagi sekutu demokrasi liberal.”

Peter Beinart, editor Jewish Currents, bahkan menulis bahwa “dukungan evangelis terhadap Israel adalah dukungan yang berakar pada teologi yang secara inheren anti-Yahudi.”

Sebab, dalam visi apokaliptik Kristen, keselamatan hanya datang jika Yahudi akhirnya menerima Kristus — atau binasa.

Sementara Yehuda Kurtzer, presiden Shalom Hartman Institute of North America, memperingatkan bahwa pergeseran ini membuat Yahudi diaspora berada dalam posisi yang paling sulit dalam sejarah modern Amerika: mereka terjebak antara kebanggaan etnis dan rasa malu moral terhadap tindakan Israel di Gaza.

—

Gaza di Barat: Bayangan Konflik yang Meluas

Ketika Gaza dibombardir tanpa ampun, dunia menyaksikan Israel kehilangan simpati moralnya. Namun, di balik layar, ada pertarungan lain yang tak kalah serius: pertarungan citra Yahudi di dunia Barat.

Di kampus-kampus Amerika, protes terhadap perang Gaza berubah menjadi ketegangan rasial dan identitas.
Spanduk “Ceasefire Now” berdiri berdampingan dengan grafiti “Zionists Out!”

Bagi banyak mahasiswa Yahudi progresif, keadaan ini menimbulkan dilema: bagaimana mempertahankan identitas Yahudi tanpa membela negara yang mereka anggap melanggar nilai-nilai kemanusiaan?

Dan di sinilah paradoksnya menjadi lengkap: Israel, yang dulu menjadi benteng simbolik bagi keamanan Yahudi global, kini justru menjadi sumber kecemasan baru bagi Yahudi diaspora.

—

Cermin dari Politik yang Mengkhianati Nilai-Nilai

Leifer menulis bahwa Netanyahu telah mengubah hubungan Israel-Amerika menjadi arena perang budaya. Israel kini bukan lagi representasi “negara Yahudi demokratis”, tetapi ikon bagi para pejuang culture war Amerika — dari anti-LGBT hingga anti-imigran.

Di Washington, bendera Israel berkibar di rapat umum MAGA bukan sebagai simbol solidaritas keagamaan, tetapi sebagai tanda perlawanan terhadap “liberal globalis”.

Ironisnya, kaum kanan Amerika yang mengibarkan bendera Israel itu, sering kali juga memeluk teori konspirasi bahwa “elit Yahudi” mengontrol media dan bank dunia.

Dalam pandangan akademisi Yahudi Mairav Zonszein dari International Crisis Group, fenomena ini bukan kebetulan:

“Israel menjadi cermin bagi ilusi kekuasaan Amerika. Mereka yang menyembah kekuatan akan mencintai Israel ketika kuat — dan akan membencinya ketika melemah.”

—

Bumerang yang Sudah Kembali

Sekarang, bumerang itu mulai berputar balik.

Ketika tokoh-tokoh MAGA seperti Tucker Carlson memberi ruang bagi ideolog supremasi kulit putih seperti Nick Fuentes di platform mereka, para pemimpin Yahudi Amerika tahu bahwa peringatan lama sejarah sedang terulang.

Di Eropa abad ke-20, Yahudi pernah bersekutu dengan kekuatan otoriter demi keamanan jangka pendek — hanya untuk berakhir sebagai korban dari mesin yang mereka bantu bangun.

Kini, sebagian pengamat melihat pola yang sama di Amerika: Israel bersekutu dengan kaum Kristen nasionalis demi kekuasaan, tapi justru mempercepat kebangkitan antisemitisme yang lebih berbahaya.

—

Krisis Identitas Ganda

Situasi ini menimbulkan krisis identitas bagi dua komunitas sekaligus:

Bagi Yahudi diaspora, mereka harus menjelaskan kepada dunia bahwa menjadi Yahudi tidak selalu berarti mendukung kebijakan Israel.

Bagi Israel sendiri, mereka harus memilih antara menjadi negara Yahudi yang demokratis atau menjadi negara yang hanya kuat karena aliansi dengan kekuatan politik ekstrem.

Di sinilah refleksi moral yang lebih dalam diperlukan.

Apakah Israel, dalam usahanya mempertahankan eksistensi, justru sedang menggadaikan jiwanya kepada kekuatan yang tidak mengenal kasih?

Apakah mereka sedang mengulang kesalahan bangsa-bangsa dahulu — mempercayai kekuasaan Caesar lebih dari janji Tuhan?

—

Antara Gaza dan Atlanta

Peristiwa di Gaza dan retorika di Atlanta — tempat Tucker Carlson menyiarkan pidato MAGA — sebenarnya dua wajah dari satu krisis yang sama: krisis moral kekuasaan.

Yang satu menunjukkan kehancuran kemanusiaan karena kekuatan militer; yang lain memperlihatkan kehancuran nilai karena kekuatan politik.

Dan keduanya membawa akibat yang sama: hilangnya simpati, kepercayaan, dan rasa aman.

Seorang rabi Yahudi liberal di New York, Sharon Brous, pernah menulis,

“Kami membangun Israel untuk melindungi orang Yahudi dari kebencian. Tapi jika Israel justru membuat dunia kembali membenci kami, apa yang tersisa dari mimpi itu?”

—

Kesimpulan Reflektif: Diri yang Tercabik oleh Aliansi

Israel kini sedang menghadapi bentuk isolasi baru: bukan karena dunia membencinya, tetapi karena ia memilih sahabat yang perlahan menelannya.

Ketika dukungan menjadi jebakan, dan kekuatan berubah menjadi cermin bagi kebutaan moral, maka sejarah sedang menulis ulang dirinya di depan mata.

Sejarah Yahudi selalu dipenuhi pengkhianatan — dari Firaun hingga Romawi, dari Inkuisisi hingga Holocaust. Namun kali ini, pengkhianatan itu datang bukan dari luar, melainkan dari dalam persekutuan yang dulu dianggap suci.

Apakah bangsa Yahudi, di tanah airnya sendiri, sedang menyiapkan panggung bagi tragedi baru?

Ataukah ini hanya babak purgatif — masa ujian untuk kembali menemukan makna sejati dari perjanjian Tuhan yang dulu mereka bawa di padang gurun: bahwa kekuatan tanpa kebenaran hanyalah bentuk lain dari kelemahan?

—

Dari Gaza hingga Gereja Texas

Sementara bom masih jatuh di Gaza, mikrofon di Texas masih mengumandangkan khotbah tentang “Israel pilihan Tuhan”.

Tapi semakin banyak yang sadar: di balik retorika dukungan itu, ada proyek politik yang jauh lebih besar — membangun dunia di mana agama menjadi alat kekuasaan, bukan cermin keadilan.

Israel kini harus memilih: apakah ingin berdiri di sisi iman yang menghidupkan, atau di sisi ideologi yang mematikan?

Sebab sebagaimana setiap bangsa yang menukar nilai dengan kekuasaan, harga yang harus dibayar selalu sama: kehilangan diri. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *