AL-RABI’ bin Sulaiman, salah satu murid terdekat Imam Syafi‘i, menceritakan bahwa gurunya membagi malam menjadi tiga bagian utama:
waktu untuk menulis, waktu untuk shalat malam, dan waktu untuk beristirahat. Pembagian ini menunjukkan disiplin spiritual dan intelektual yang menjadi ciri khas Imam Syafi‘i sepanjang hidupnya.
Husain al-Karabisi juga meriwayatkan pengalaman pribadinya ketika suatu malam ia menginap bersama Imam Syafi‘i. Ia menyaksikan bahwa Imam Syafi‘i bangun pada saat mendekati sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan shalat malam.
Dalam shalatnya itu, Imam Syafi‘i membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan kekhusyukan yang luar biasa. Setiap kali menemukan ayat tentang rahmat, beliau berhenti sejenak untuk memohon kepada Allah, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk seluruh umat Muslim.
Begitu pula ketika membaca ayat-ayat tentang azab, beliau segera memohon perlindungan kepada Allah dan memohon keselamatan bagi dirinya dan bagi kaum mukmin.
BACA JUGA: Imam Syafi‘i: Mesir, Wasiat, dan Surat Ali ‘Imran
Keterangan para muridnya menggambarkan bagaimana diri Imam Syafi‘i menjadi tempat berkumpulnya rasa harap dan takut, dua sayap yang membuat ibadah seorang mukmin terbang tinggi. Malam-malamnya bukan hanya waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga menjadi ruang doa yang ia tujukan bagi muslimin—mereka yang mungkin tak pernah ia kenal, namun selalu ia sertakan dalam munajatnya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
