Menu

Suami Tak Mau Gauli Istri Lagi karena Perubahan Tubuhnya Setelah Melahirkan, Bagaimana?

Istri boleh berusaha menjaga kesehatan dan mengembalikan kebugaran tubuh setelah melahirkan jika hal itu memang menjadi keinginannya.

Yudi · 8 menit baca
Shalat Malam, suami, patriarki, Puasa, bohong, menjaga pandangan, melahirkan
Foto: Freepik

MELAHIRKAN merupakan salah satu pengalaman besar dalam kehidupan seorang perempuan. Setelah mengandung selama berbulan-bulan dan melahirkan seorang anak, tubuh istri dapat mengalami berbagai perubahan, mulai dari perut yang tidak lagi rata, munculnya stretch mark, perubahan bentuk payudara, hingga kenaikan berat badan. Namun, di tengah perjuangan merawat bayi dan memulihkan kondisi fisik, ada sebagian istri yang justru menghadapi persoalan menyakitkan ketika suaminya mulai jarang menyentuh, memeluk, atau mengajaknya berhubungan intim.

Bagi seorang istri, perubahan sikap suami tersebut bisa menimbulkan perasaan sedih, minder, bahkan mempertanyakan apakah dirinya masih menarik di mata pasangan. Padahal, tubuh yang berubah setelah melahirkan merupakan bagian alami dari proses kehamilan dan persalinan. Lantas, suami seperti apa yang sampai tidak mau menyentuh istrinya lagi karena perubahan tubuh tersebut, dan bagaimana sebaiknya persoalan ini diselesaikan dalam rumah tangga?

BACA JUGA: Bolehkah Suami Istri Sepakat Tak Lakukan Jima Lagi Walaupun Tidak Cerai?

1. Suami yang Terlalu Mementingkan Penampilan Fisik

Salah satu tipe suami yang berpotensi menjauh setelah istrinya melahirkan adalah suami yang terlalu menjadikan penampilan fisik sebagai ukuran ketertarikan. Ia mungkin terbiasa melihat perempuan dengan tubuh langsing, perut rata, dan penampilan yang dianggap ideal, sehingga merasa kecewa ketika tubuh istrinya mengalami perubahan setelah kehamilan. Dalam keadaan seperti ini, ia dapat membandingkan kondisi istrinya sekarang dengan penampilan sang istri sebelum menikah atau sebelum memiliki anak.

Masalahnya, pernikahan tidak selalu menghadirkan tubuh pasangan dalam kondisi yang sama sepanjang hidup. Usia, kehamilan, persalinan, penyakit, dan berbagai perubahan alami dapat memengaruhi penampilan seseorang. Jika ketertarikan seorang suami hanya bertumpu pada bentuk tubuh, hubungan mereka berisiko mengalami masalah ketika penampilan tersebut berubah.

Meskipun ketertarikan fisik merupakan bagian yang wajar dalam hubungan suami istri, menjadikannya satu-satunya dasar untuk mencintai pasangan merupakan sikap yang perlu dievaluasi. Seorang istri bukanlah seseorang yang harus mempertahankan bentuk tubuh tertentu agar selalu mendapatkan kasih sayang suaminya. Ia juga merupakan pasangan hidup yang telah menjalani proses kehamilan dan persalinan dengan berbagai tantangan fisik maupun emosional.

2. Suami yang Tidak Memahami Perjuangan Istri Setelah Melahirkan

Ada pula suami yang menjauh bukan semata-mata karena perubahan tubuh, melainkan karena tidak memahami apa yang dialami istrinya setelah melahirkan. Ia mungkin menganggap persalinan telah selesai ketika bayi lahir, sehingga berharap kehidupan rumah tangga segera kembali seperti sebelum kehamilan. Padahal, pemulihan setelah melahirkan membutuhkan waktu dan setiap perempuan memiliki pengalaman yang berbeda.

Sebagian istri mengalami kelelahan berat akibat kurang tidur, menyusui, perubahan hormon, serta tanggung jawab merawat bayi. Ada pula yang masih merasakan nyeri setelah persalinan, terutama jika mengalami luka atau menjalani operasi sesar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kenyamanan, keinginan untuk berhubungan intim, dan kebutuhan istri terhadap sentuhan yang lembut.

Suami yang kurang memahami keadaan ini bisa salah mengartikan perubahan sikap istrinya sebagai penolakan terhadap dirinya. Sebaliknya, istri mungkin merasa tidak dipahami ketika suami terus menuntut kedekatan fisik tanpa memperhatikan kondisi tubuhnya. Padahal, masa setelah melahirkan merupakan waktu ketika keduanya perlu membangun kembali kedekatan melalui komunikasi, perhatian, dan pembagian tanggung jawab yang lebih baik.

3. Suami yang Menganggap Istri Harus Segera Langsing Kembali

Sebagian suami memiliki harapan bahwa istrinya akan segera kembali memiliki bentuk tubuh seperti sebelum hamil. Ketika berat badan belum turun, perut masih membesar, atau muncul stretch mark, ia mulai mengeluh dan meminta istrinya segera memperbaiki penampilan. Sikap semacam ini dapat membuat istri merasa bahwa dirinya tidak lagi dihargai setelah menjalani perubahan fisik yang berkaitan dengan kehamilan.

Padahal, pemulihan tubuh setelah melahirkan tidak memiliki batas waktu yang sama bagi setiap perempuan. Perubahan berat badan, bentuk perut, payudara, dan kulit dapat berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan sebagian perubahan mungkin menetap. Memaksakan penurunan berat badan secara cepat, terlebih ketika istri sedang menyusui dan masih memulihkan diri, bukanlah pendekatan yang bijaksana.

Jika suami mengkhawatirkan kesehatan istrinya, ia dapat mengajak menjalani pola hidup sehat bersama tanpa merendahkan penampilan pasangan. Misalnya, menyediakan makanan bergizi, membantu mengasuh bayi agar istri memiliki waktu beristirahat, atau melakukan aktivitas fisik bersama setelah kondisi kesehatannya memungkinkan. Dukungan seperti ini jauh lebih bermanfaat daripada terus-menerus mengkritik bentuk tubuh istri.

4. Suami yang Kurang Memiliki Kedewasaan Emosional

Ketika seseorang menikah, ia perlu memahami bahwa hubungan suami istri tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal. Ada masa ketika pasangan terlihat menarik dan penuh energi, tetapi ada pula masa ketika salah satunya sakit, kelelahan, bertambah usia, atau mengalami perubahan fisik yang besar. Suami yang belum matang secara emosional mungkin kesulitan menghadapi perubahan tersebut karena mengharapkan hubungan selalu berlangsung sesuai keinginannya.

Sikap tidak mau menyentuh istri sebagai bentuk hukuman karena tubuhnya berubah dapat menunjukkan adanya masalah dalam cara suami memperlakukan pasangan. Terlebih jika ia sengaja membuat istrinya merasa tidak berharga, membandingkannya dengan perempuan lain, atau menggunakan penolakan fisik untuk memaksa istri memenuhi standar penampilannya. Perilaku seperti itu perlu dibicarakan secara serius karena dapat merusak rasa aman dan kepercayaan dalam pernikahan.

Namun, berkurangnya keinginan seksual tidak selalu berarti suami tidak mencintai istrinya atau sengaja menghukumnya. Stres, masalah kesehatan, kelelahan, konflik rumah tangga, dan kecemasan mengenai hubungan seksual setelah persalinan juga dapat memengaruhi hasrat seseorang. Oleh karena itu, pasangan sebaiknya mencari penyebab sebenarnya sebelum menyimpulkan bahwa perubahan tubuh istri merupakan satu-satunya alasan.

banner slingbag

5. Bagaimana Pandangan Islam tentang Suami yang Menjauh karena Tubuh Istri Berubah?

Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar hubungan yang didasarkan pada ketertarikan fisik, melainkan juga ikatan yang menuntut tanggung jawab, kasih sayang, dan perlakuan yang baik. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 19 agar para suami mempergauli istri dengan cara yang patut. Prinsip ini menjadi pengingat bahwa pasangan harus diperlakukan dengan hormat, termasuk ketika mengalami perubahan fisik akibat kehamilan dan persalinan.

Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya berbuat baik kepada keluarga. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi, terdapat ajaran bahwa orang terbaik adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya. Karena itu, suami sepatutnya tidak menjadikan perubahan tubuh istri sebagai alasan untuk merendahkan martabatnya atau menghilangkan seluruh bentuk perhatian dan kasih sayang.

Meski demikian, ketertarikan fisik dan keinginan seksual merupakan persoalan yang dapat berubah dalam perjalanan pernikahan. Tidak setiap penurunan hasrat dapat langsung dianggap sebagai dosa atau bukti buruknya akhlak seseorang. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pasangan menyikapi keadaan tersebut, apakah dengan komunikasi dan usaha memperbaiki hubungan, atau justru dengan penghinaan, penelantaran, dan tindakan yang menyakiti satu sama lain.

6. Apakah Istri Harus Menurunkan Berat Badan agar Suami Kembali Tertarik?

Istri boleh berusaha menjaga kesehatan dan mengembalikan kebugaran tubuh setelah melahirkan jika hal itu memang menjadi keinginannya. Namun, upaya tersebut sebaiknya dilakukan demi kesehatan dan kesejahteraan dirinya, bukan semata-mata karena merasa harus memenuhi tuntutan penampilan suami. Perempuan yang baru melahirkan membutuhkan waktu untuk pulih, dan kondisi setiap orang tidak dapat dibandingkan begitu saja.

Jika istri ingin menurunkan berat badan, ia dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pola makan, aktivitas fisik, dan waktu yang tepat untuk memulainya. Terlebih jika masih menyusui, kebutuhan gizi dan pemulihan tubuh perlu menjadi pertimbangan. Diet ekstrem atau olahraga berlebihan demi memperoleh bentuk tubuh tertentu justru dapat menimbulkan masalah baru.

Di sisi lain, suami juga perlu mengevaluasi harapannya terhadap pasangan. Ia dapat berusaha membangun kembali kedekatan melalui pujian yang tulus, pelukan, percakapan yang hangat, dan bantuan nyata dalam merawat anak. Keintiman tidak harus selalu dimulai dengan hubungan seksual, sebab sentuhan penuh kasih dan perhatian sehari-hari juga dapat membantu pasangan merasa dekat kembali.

7. Apa yang Sebaiknya Dilakukan Jika Suami Benar-Benar Tidak Mau Menyentuh Istri Lagi?

Jika perubahan sikap suami berlangsung lama, istri sebaiknya mengajak berbicara pada waktu yang tenang. Ia dapat menyampaikan perasaannya tanpa langsung menuduh, misalnya dengan menjelaskan bahwa dirinya merasa sedih dan tidak percaya diri ketika suami menjauh setelah persalinan. Percakapan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi suami untuk menjelaskan apakah ia memang kehilangan ketertarikan fisik, sedang mengalami masalah pribadi, atau memiliki kekhawatiran lain mengenai hubungan intim.

Pasangan juga perlu membicarakan kebutuhan dan harapan masing-masing secara jujur. Jika hubungan seksual belum nyaman karena istri masih merasakan nyeri atau belum pulih, jangan memaksakan diri dan pertimbangkan konsultasi dengan tenaga kesehatan. Jika persoalannya lebih berkaitan dengan konflik emosional, ketidakpuasan dalam hubungan, atau komunikasi yang buruk, konseling pasangan dapat membantu menemukan jalan keluar.

Apabila suami terus menghina, merendahkan, atau sengaja menelantarkan kebutuhan emosional istrinya, persoalan tersebut tidak sebaiknya dianggap sepele. Istri berhak mendapatkan perlakuan yang bermartabat dan dapat mencari dukungan dari orang tepercaya atau konselor keluarga. Penyelesaian yang baik bukan berarti istri harus menanggung semua beban perubahan, melainkan kedua pihak bersedia memperbaiki hubungan dengan saling menghormati.

BACA JUGA: Suami Larang Istri Buka HP Miliknya, Apakah Pasti Ada yang Ditutupi?

Suami yang tidak mau menyentuh istrinya lagi setelah melahirkan karena perubahan tubuh mungkin memiliki harapan berlebihan terhadap penampilan fisik, kurang memahami proses pemulihan pascapersalinan, atau menghadapi persoalan emosional dan seksual yang belum dibicarakan. Namun, tidak semua penurunan keintiman disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh istri. Penyebabnya perlu dipahami melalui komunikasi yang terbuka, bukan dugaan sepihak.

Dalam pernikahan, tubuh pasangan dapat berubah seiring waktu, tetapi rasa hormat dan tanggung jawab tidak seharusnya hilang begitu saja. Istri tidak perlu dipaksa segera langsing untuk membuktikan bahwa dirinya layak dicintai, sementara suami juga perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan kesulitan yang dialaminya dengan cara yang baik. Keduanya perlu berusaha membangun kembali kedekatan tanpa saling menyalahkan.

Pada akhirnya, pernikahan yang sehat bukanlah hubungan ketika seseorang hanya menerima pasangannya saat penampilannya sesuai dengan harapan. Pernikahan membutuhkan kesediaan untuk saling mendukung ketika tubuh berubah, kesehatan menurun, atau kehidupan menghadirkan tantangan baru. Sebab, setelah kelahiran seorang anak, yang dibutuhkan keluarga bukan hanya orang tua yang merawat bayi, melainkan juga suami dan istri yang tetap berusaha menjaga kasih sayang serta menghargai perjuangan satu sama lain. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Yudi

Penulis di Islampos Media. Artikel lainnya

Ayo donasi untuk Islampos Media
Tulis komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel terkait