Saat Kamu Bangun di Akhir Sepertiga Malam untuk Tahajjud

Yudi
By Yudi
3 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

SAAT kamu bangun di akhir sepertiga malam, sunyi seperti sajadah panjang yang digelar langit, dunia mengecil, dan hanya detak jantungmu yang terdengar menyebut nama-Nya.

Lampu redup, udara dingin, dan kantuk yang tersisa menjadi saksi bahwa langkah ini bukan langkah biasa, melainkan langkah jiwa yang rindu pulang kepada Rabb-nya.

Hasan al-Bashri pernah berkata, “Aku tidak menemukan ibadah yang lebih berat bagi jiwa selain bangun malam,” dan kalimat itu terasa hidup di tulang-tulangmu.

Namun justru di berat itulah manisnya iman menetes perlahan, seperti embun yang jatuh tanpa suara.

BACA JUGA: Sehatnya Shalat Tahajjud buat Tubuh

Saat kakimu menyentuh lantai, niatmu bergetar di antara lelah dan harap, sementara waktu seakan berhenti menghormati kesungguhan itu.

Kau berwudhu, air dingin menyadarkan dosa-dosa yang mengeras, mengalir bersama gemetar yang jujur.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Jika engkau mampu dikenal Allah di malam hari, maka lakukanlah,” dan hatimu mengangguk tanpa ragu.

Malam bukan lagi gelap, ia menjadi lorong cahaya yang hanya dibuka bagi yang mengetuk.

Dalam rakaat pertama, ayat-ayat itu turun pelan, bukan dari mushaf, tapi dari langit ke dadamu.
Setiap huruf terasa lebih berat, lebih dalam, seolah Allah ingin didengar tanpa perantara suara dunia.
Sufyan ats-Tsauri berkata, “Aku dihalangi dari shalat malam karena dosa yang aku lakukan,” maka kau pun menunduk lebih lama.
Air mata jatuh bukan karena sedih, tapi karena malu yang akhirnya menemukan tempatnya.

Rakaat demi rakaat, waktu kehilangan arti, hanya ada dialog rahasia antara hamba dan Tuhannya.
Doa-doa yang siang hari kaku, kini mengalir jujur tanpa perlu dirangkai indah.
Imam Malik berkata, “Telah berlalu suatu kaum, dunia bukanlah tujuan mereka,” dan kau paham mengapa mereka ringan meninggalkannya.
Di malam ini, dunia benar-benar terasa jauh, seperti tamu yang tak diundang.

BACA JUGA: Kenapa Seorang Muslim Meninggalkan Tahajjud?

Saat sujud terpanjang, punggungmu memikul semua beban yang tak sempat kau ceritakan kepada manusia.
Nama-nama yang kau sebut satu per satu, harapan yang kau bisikkan, semua terasa didengar.
Ibnul Qayyim berkata, “Shalat malam memuliakan orang beriman,” dan kemuliaan itu terasa sederhana namun utuh.
Bukan di pujian manusia, tapi di ketenangan yang tak bisa dibeli.

Ketika doa penutup terucap, kau tahu malam ini akan segera pergi, digantikan fajar dan hiruk pikuknya.
Namun bekasnya tertinggal, seperti aroma sujud yang melekat di hati.
Al-Auza’i berkata, “Shalat malam adalah kehormatan bagi orang-orang shalih,” dan kau berharap termasuk meski hanya sesaat.
Maka saat kau bangun di akhir sepertiga malam untuk tahajjud, sesungguhnya bukan kau yang mendatangi Allah, tapi Allah yang memanggilmu pulang. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *