Oleh: Ernydar Irfan
Kontributor Islampos
RUMAH tangganya super harmonis, istrinya diperlakukan layaknya ratu. Gak kurang-kurang suaminya selalu memuji istrinya di depan orang banyak. Bahkan istrinya sering menasehati bagaimana caranya agar suami menurut pada istri dan gak berpaling ke lain hati.
Hari itu suaminya ijin ke luar kota, ada rapat project. 5 jam sejak keberangkatannya, tiba – tiba dapat telepon kalau suaminya di larikan ke rumah sakit, karena serangan jantung. Di rumah sakit, suaminya sudah gak sadar. Disitu juga dia bertemu seorang wanita, yang hampir sebaya dengannya, dan anak perempuan yang menangisi suaminya. Ternyata wanita itu adalah madunya, dan anak itu anak dari suaminya. Anaknya sudah gadis, sudah kuliah. Jadi paling enggak suaminya sudah menikahi madunya 20 tahun lalu dan tersimpan rapat. Gak hitungan menit, suaminya meninggal.
Skenario itu termyata cara Tuhan menunjukan bahwa anak laki-lakinya punya tanggungan adik perempuan dari istri yang lain.
Sejak suaminya meninggal dan semua orang tahu kalau ternyata dirinya dimadu, dia menarik diri dari lingkungan sosial, dan di dunia maya account medsosnya ditutup semua. Aku ingat persis ucapannya saat berduka, aku gak bisa nangis. Aku gak tau rasaku… sakitku karena ternyata suamiku selama ini menikah lagi itu menyakitkan, tapi lebih sakit lagi aku menanggung malu terlalu bangga untuk sesuatu yang ternyata aku sendiri gak mampu… menaklukan penuh hati suamiku untuk tidak berpaling hati.
Beberapa bulan kemudian dia pulang ke kota asalnya. Tinggal disana dan gak pernah kontak lagi.
Tiba -tiba dapat kabar kalau dia sudah berpulang 2 minggu yang lalu karena kanker. Prosesnya cepat sekali.
Aku tercenung, jadi ingat ucapan seorang theraphist bahwa kanker/tumior Rahim atau Payudara itu sebabnya ada kemarahan dan kekecewaan yang disimpan kepada sosok laki laki, entah itu ayah, suami, anak laki-laki yang belum bisa didamaikan dengan diri.
BACA JUGA: Wanita Harus Tahu, Ini 5 Penyebab Tangan Kasar, Salah Satunya karena Bisa Jadi dari Deterjen Sabun!
Jadi, pesanku bagi tiap wanita yang pernah tersakiti dan dikecewakan, memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri adalah salah satu jalan untuk tetap hidup sehat dan bahagia. Walau itu gak mudah, tapi jangan rugi dua kali, rugi stelah hati tersakiti, rugi pula badan menanggung sakit fisik.
Sehat-sehat para wanita, sehat fisik, sehat mental. Kita juga berhak untuk bahagia. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE





