Saling Berbangga: Mengejar yang Tak Berguna

5 Min Read

TIDAK emua penyakit manusia berwujud kemiskinan atau kebodohan. Sebagian justru tumbuh subur di tengah kelimpahan. Al-Qur’an sejak awal telah menyingkap salah satu penyakit paling laten dalam sejarah manusia: takāṡur—saling berbangga dalam memperbanyak apa yang sejatinya fana. Penyakit ini bukan sekadar perilaku individual, tetapi pola peradaban.

Surah At-Takāṡur dibuka dengan kalimat singkat namun menghantam kesadaran:

Alhākumut-takāṡur — Berbangga-bangga dalam memperbanyak telah melalaikanmu.

Ayat ini tidak menyebut dosa ritual, tidak pula menyasar satu kelompok tertentu. Ia menelanjangi logika hidup yang keliru: hidup yang dihabiskan untuk menghitung, membandingkan, dan mengungguli—bukan untuk bermakna dan beramal.

—

Takāṡur: Dari Kompetisi Sosial ke Kelalaian Spiritual

Para mufassir menjelaskan bahwa takāṡur mencakup kebanggaan pada harta, keturunan, pengaruh, pengikut, dan status. Manusia sibuk membicarakan jumlah, bukan kualitas. Yang dihitung bukan amal, tetapi aset; bukan akhlak, tetapi angka.

Dalam laporan-laporan sejarah Arab pra-Islam, praktik ini tampak jelas. Kabilah saling membanggakan jumlah anggota, garis keturunan, dan kekuatan ekonomi. Bahkan kuburan leluhur pun dijadikan arena kompetisi: siapa yang lebih banyak, lebih mulia, lebih berpengaruh.

Al-Qur’an tidak menolak kerja, kekayaan, atau keturunan. Yang dikritik adalah orientasi hidup yang berhenti pada kebanggaan, bukan pada tanggung jawab.

Investigasi Nabi: Apa yang Sebenarnya Milik Manusia?

Sebuah riwayat yang dikutip dalam tafsir memberikan kunci pembongkaran ilusi takāṡur. Muṭarrif meriwayatkan bahwa ia datang kepada Nabi Muhammad ﷺ saat beliau membaca Surah At-Takāṡur. Nabi lalu bersabda:

“Anak Adam berkata: ‘Hartaku, hartaku.’ Padahal tidak ada baginya dari hartanya kecuali apa yang ia makan lalu habis, apa yang ia pakai lalu usang, atau apa yang ia sedekahkan lalu kekal.” (HR. Muslim)

Ini adalah audit kepemilikan paling jujur dalam sejarah manusia. Nabi mengubah definisi ‘memiliki’. Yang tidak habis, yang tidak lapuk, yang tidak kembali kepada Allah—itulah yang benar-benar milik manusia.

Segala yang lain hanyalah titipan yang akan berpindah tangan.

—

Ketamakan yang Tak Pernah Kenyang

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ menyingkap tabiat manusia yang paling dalam:

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah harta, ia ingin memiliki dua. Jika dua, ia ingin tiga. Tidak ada yang memenuhi perut anak Adam kecuali tanah.”

Hadis ini bukan celaan biologis, melainkan diagnosis psikologis dan spiritual. Ketamakan bukan soal kurang, tetapi soal tidak pernah cukup.

Masyarakat modern membuktikan kebenaran hadis ini. Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menghadirkan ketenangan. Justru kecemasan bertambah seiring bertambahnya kepemilikan. Takāṡur berubah bentuk: dari kabilah menjadi korporasi, dari keturunan menjadi pengikut digital, dari kebanggaan lisan menjadi pamer visual.

https://shopee.co.id/product/1343587831/27310804639?gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkVHQ3ZkZSUTMrR3pBWmZZNzdrcnRBMGQ5Mk1KZHhtSGtnTWtzVThsYU9vOW9tR2ttNnRJQnBkZzdXbEhLallWVVd0TzlrNHYzQm1QOGxrd1Awcy9PZ0xwMjZMWVZLUXYwa1J6Q0cra0xUbFVWS2VPeGU4dVZFM3R2aVRYV0lrOEgyUzJ1Nk5RVTUxTjVHeVZ0enhPNGRzPQ&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54jrahvh02ke&utm_campaign=id_HSaHp71NrV&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=e8n667egvme1

Takāṡur dalam Perspektif Al-Qur’an yang Lebih Luas

Surah Al-Ḥadīd ayat 20 memberikan bingkai besar:

Kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba dalam harta serta anak.

Al-Qur’an mengurai tahapan jebakan dunia:

1. Bermain (tanpa tujuan)

2. Lalai (tanpa kesadaran)

3. Berhias (tanpa substansi)

4. Berbangga (tanpa amal)

5. Berlomba (tanpa akhir)

Akhirnya, semuanya seperti tanaman yang menguning lalu hancur. Gambaran ini bukan retorika, melainkan laporan alam tentang kefanaan.

—

Hingga Masuk Kubur: Kompetisi yang Terlambat Disadari

Ayat kedua Surah At-Takāṡur menyatakan:

Hattā zurtumul-maqābir — sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Sebagian mufassir memahami ayat ini sebagai sindiran tajam: manusia baru berhenti berbangga ketika tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Kompetisi hidup baru selesai ketika kematian memaksa semua orang menjadi setara.

Kubur adalah ruang yang membungkam seluruh atribut duniawi. Tidak ada gelar, tidak ada jumlah, tidak ada pengikut.

—

Ziarah Kubur: Terapi Kejut bagi Jiwa

Karena itu, Nabi Muhammad ﷺ menjadikan ziarah kubur sebagai terapi kesadaran:

“Aku pernah melarang kalian ziarah kubur. Sekarang ziarahilah, karena ia menjadikan zuhud terhadap dunia dan mengingatkan akhirat.” (HR. Ibnu Mājah)

Ziarah kubur bukan ritual kematian, tetapi pendidikan hidup. Ia memutus ilusi takāṡur dan mengembalikan manusia pada ukuran yang benar.

BACA JUGA: Mengapa Tongkat Nabi Musa Didahulukan Sebelum Sepuluh Perintah Allah?

Kesimpulan Investigatif

Surah At-Takāṡur adalah laporan peringatan lintas zaman. Ia membongkar kesalahan orientasi hidup yang tampak normal, bahkan terpuji, tetapi sejatinya melalaikan.

Manusia tidak dilarang memiliki, tetapi dilarang tertipu oleh kepemilikan. Tidak dilarang unggul, tetapi dilarang bangga tanpa amal.

Takāṡur berakhir di kubur. Amal berlanjut hingga akhirat.

Dan di sanalah, semua yang dikejar tanpa guna akan tampak sebagai apa adanya: waktu yang terbuang, hidup yang tersesat, dan kemenangan yang semu. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *