INDONESIA dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Lebih dari 85% penduduk Indonesia beragama Islam. Namun di balik angka besar itu, ada satu fakta yang cukup menggelisahkan: tidak semua Muslim Indonesia mampu membaca Al-Quran.
Gambaran Umum Angka Literasi Al-Quran
Berbagai survei dan kajian dari lembaga keagamaan, akademisi, hingga pernyataan resmi tokoh Kementerian Agama menunjukkan bahwa sekitar 50–65% Muslim Indonesia belum mampu membaca Al-Quran dengan baik dan benar.
Artinya, dari 10 Muslim Indonesia, sekitar 5 hingga 6 orang masih terbata-bata atau bahkan sama sekali tidak bisa membaca huruf hijaiyah.
BACA JUGA: Kenapa Orang Lebih Banyak Baca Berita Viral di HP daripada Baca Al-Quran?
Angka ini tentu bukan angka mutlak, karena:
-
Metode survei berbeda-beda
-
Definisi “bisa membaca Al-Quran” tidak selalu sama (lancar, terbata, atau sekadar mengenal huruf)
-
Rentang usia responden beragam
Namun satu kesimpulan besarnya jelas: masalah buta huruf Al-Quran masih sangat serius di Indonesia.
Mengapa Angkanya Masih Tinggi?
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan tingginya jumlah Muslim yang belum bisa membaca Al-Quran:
1. Pendidikan Al-Quran Terputus Sejak Kecil
Banyak anak belajar mengaji hanya saat usia TK atau SD. Ketika remaja, pelajaran Al-Quran berhenti total dan tidak pernah dilanjutkan.
2. Rasa Malu di Usia Dewasa
Tidak sedikit orang dewasa yang sebenarnya ingin belajar, tetapi malu karena merasa sudah terlambat atau takut dianggap bodoh.
3. Kesibukan Duniawi
Pekerjaan, gawai, media sosial, dan hiburan sering kali mengalahkan waktu untuk belajar Al-Quran, meski hanya 10–15 menit sehari.
4. Lingkungan yang Tidak Mendorong
Di sebagian lingkungan, bisa atau tidak bisa membaca Al-Quran tidak dianggap sebagai masalah, sehingga tidak ada dorongan sosial untuk memperbaikinya.
5. Minimnya Akses Guru yang Ramah Dewasa
Sebagian metode mengaji masih berfokus pada anak-anak, bukan orang dewasa yang butuh pendekatan berbeda dan lebih manusiawi.
Dampak Serius bagi Kehidupan Muslim
Tidak bisa membaca Al-Quran bukan sekadar persoalan teknis, tapi berdampak luas:
-
Al-Quran hanya menjadi simbol, bukan pedoman hidup
-
Ibadah terasa kering dan rutin tanpa makna
-
Mudah terpengaruh tafsir agama dari media sosial tanpa dasar
-
Jarak emosional dengan Allah semakin jauh
Padahal Al-Quran adalah sumber utama hidayah dan petunjuk hidup seorang Muslim.
Kabar Baik: Masih Bisa Diperbaiki
Kabar baiknya, belajar membaca Al-Quran tidak mengenal kata terlambat. Banyak orang baru lancar mengaji di usia 40, 50, bahkan 60 tahun.
Hari ini:
-
Metode belajar makin sederhana
-
Kelas online tersedia
-
Guru privat mudah ditemukan
-
Waktu belajar bisa disesuaikan
BACA JUGA: Siapa Istri Abu Lahab yang Disebutkan dalam Al-Quran Surat Al-Lahab?
Yang paling penting bukan usia, tapi kerendahan hati untuk memulai.
Jika benar lebih dari separuh Muslim Indonesia belum bisa membaca Al-Quran, maka ini bukan sekadar masalah individu, melainkan tantangan umat.
Belajar Al-Quran bukan soal gengsi, bukan soal umur, dan bukan soal latar belakang pendidikan.
Ini soal hubungan seorang hamba dengan kitab Tuhannya.
Mungkin kita tidak bisa mengubah statistik nasional, tapi kita bisa mengubah angka dalam diri kita sendiri. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE





