WALIGSONGO dikenal sebagai jaringan dakwah paling berpengaruh di Jawa pada masa akhir Majapahit. Mereka hidup dalam fase transisi: ketika Islam telah berkembang luas di pesisir, tetapi sebagian elite keraton dan masyarakat Majapahit masih memeluk Hindu-Buddha. Dalam konteks sosial seperti ini, interaksi (muamalah) antara komunitas Muslim dan non-Muslim tidak terhindarkan.
Salah satu contoh paling nyata terlihat pada pembangunan Masjid Agung Demak, yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Jawa. Sejumlah kajian arkeologi dan sejarah arsitektur—seperti yang dibahas oleh Slamet Muljana serta penelitian tentang arsitektur tradisional Jawa—menunjukkan bahwa bentuk masjid ini masih kuat dipengaruhi gaya bangunan era Hindu-Jawa.
Jejak Arsitektur Majapahit
Ciri khas Masjid Demak antara lain atap bertumpang (tajug) berlapis dua atau tiga, denah persegi empat, serta keberadaan serambi. Model bertingkat ini memiliki kemiripan dengan struktur bangunan suci pada masa Majapahit, meskipun fungsi dan maknanya berbeda. Dalam Islam, struktur tersebut tidak bermakna kosmologis seperti dalam candi, tetapi difungsikan sepenuhnya sebagai ruang ibadah.
BACA JUGA: Wayang, Gamelan, dan Suluk: Jalan Walisongo Memasuki Jiwa Masyarakat Jawa
Dengan demikian, yang diadopsi adalah bentuk arsitekturalnya, bukan sistem keyakinannya. Arah kiblat, tata ruang salat berjamaah, dan fungsi masjid tetap mengikuti prinsip-prinsip syariat.
Literatur seperti karya Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya menjelaskan bahwa proses islamisasi di Jawa berlangsung melalui adaptasi kultural, bukan pemutusan total terhadap tradisi arsitektur lokal.
Peran Tukang Majapahit
Tradisi lokal, terutama dalam Babad Cirebon, menyebut nama Raden Sepat sebagai arsitek yang terlibat dalam pembangunan Masjid Demak. Ia digambarkan sebagai ahli bangunan asal Majapahit yang saat itu belum memeluk Islam.
Dalam narasi tersebut, para wali bertindak sebagai konseptor—menentukan fungsi, arah kiblat, dan peran masjid sebagai pusat dakwah—sementara pengerjaan teknis dipercayakan kepada tenaga profesional dari Majapahit. Bahkan disebutkan bahwa sebagian komponen bangunan, termasuk serambi, berkaitan dengan tradisi arsitektur Majapahit.
Kisah yang sama menyebut bahwa arsitek tersebut kemudian dipercaya membantu pembangunan kota dan pusat pemerintahan Cirebon oleh Sunan Gunung Jati ketika mendirikan Kesultanan Cirebon. Terlepas dari unsur legenda dalam babad, narasi ini memperlihatkan pola kolaborasi lintas identitas pada masa transisi itu.
Prinsip yang Dijaga, Budaya yang Diolah
Membangun masjid adalah perkara sakral. Namun dalam praktiknya, terdapat aspek-aspek yang bersifat prinsipil dan tidak dapat ditawar—seperti tauhid, arah kiblat, dan fungsi ibadah. Di luar itu, hal-hal teknis seperti bahan bangunan, teknik konstruksi, dan gaya arsitektur termasuk wilayah ijtihad budaya.
Para wali tampaknya memahami batas ini dengan jelas. Mereka menjaga akidah dan fungsi syariat, tetapi tidak menutup diri terhadap keahlian profesional dari kalangan non-Muslim. Sikap ini menunjukkan penghargaan terhadap kompetensi sekaligus strategi dakwah yang bijak.
BACA JUGA: Pengaruh Islam terhadap Corak Batik Jawa: Walisongo dan Kesultanan Jawa
Pendekatan tersebut selaras dengan tesis banyak sejarawan—termasuk M.C. Ricklefs—bahwa islamisasi Jawa berlangsung melalui proses akulturasi yang halus. Islam tidak datang untuk menghapus budaya Jawa, melainkan mengisinya dengan makna baru dan menyelaraskannya dengan tauhid.
Kesimpulan
Masjid Demak dan perkembangan Cirebon memperlihatkan model dakwah yang adaptif dan terstruktur. Walisongo bertindak sebagai perancang visi keagamaan dan sosial, sementara tenaga ahli Majapahit mengerjakan sisi teknis arsitektur.
Hasilnya bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol peralihan peradaban: dari Majapahit menuju era kesultanan Islam. Sebuah contoh bahwa transformasi sejarah tidak selalu terjadi melalui konfrontasi, tetapi juga melalui kolaborasi, profesionalisme, dan pengelolaan budaya yang cermat. []
Sumber: Tiar Anwar Bachtiar, Jas Mewah, penerbit Pro-U Media, 2018
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

