Menimbang Bisikan Hati dengan Syariat

Nasrulloh Baksolahar
1 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

SUATU hari Utsman bin Mazhum mendatangi Rasulullah ﷺ untuk mengadukan berbagai lintasan yang muncul dalam hatinya. Ia tidak langsung mengikuti bisikan tersebut, tetapi memilih menimbangnya dengan bimbingan wahyu.

Utsman berkata, “Wahai Rasulullah, hatiku membisikkan agar aku menceraikan istriku.”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Jangan tergesa-gesa. Sesungguhnya di antara sunnahku adalah menikah.”

Utsman melanjutkan, “Hatiku membisikkan agar aku memutuskan syahwatku (mengebiri diri).”

Beliau menjawab, “Jangan tergesa-gesa. Cara menahan syahwat bagi umatku adalah dengan berpuasa.”

Utsman berkata lagi, “Hatiku membisikkan agar aku mengasingkan diri dari manusia.”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Jangan tergesa-gesa. Uzlah bagi umatku adalah dengan jihad dan haji.”

Ia kembali berkata, “Hatiku membisikkan agar aku meninggalkan daging.”

Beliau menjawab, “Jangan tergesa-gesa. Sesungguhnya aku menyukainya.”

Kisah ini menunjukkan bahwa tidak setiap lintasan hati harus diikuti. Ada bisikan yang sekadar melintas tanpa disertai tekad kuat untuk melaksanakannya. Untuk memastikan kebenarannya, Utsman bin Mazhum tidak bersandar pada perasaannya sendiri, tetapi bermusyawarah dengan Rasulullah ﷺ.

Dengan demikian, bisikan hati harus ditimbang dengan syariat, bukan diikuti secara tergesa-gesa. []

Sumber: Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Asy-Syifa Press, 2009

https://s.shopee.co.id/9UvZZtsPsK

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *