Nasihat untuk Orang yang Enggan Keluarkan Zakat Harta Meski Sudah Wajib

Yudi
By Yudi
5 Min Read
Foto: Freepik

ZAKAT bukan sekadar angka yang dikeluarkan dari saldo tabungan. Ia adalah perintah Allah, rukun Islam, dan tanda bahwa harta yang kita miliki benar-benar bersih dan berkah. Dalam Al-Qur’an, Allah berulang kali menggandengkan perintah shalat dengan zakat. Ini menunjukkan bahwa zakat bukan amalan tambahan, tetapi kewajiban utama bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat.

Namun, realitasnya, tidak sedikit orang yang hartanya sudah mencapai nisab dan haul, tetapi masih menunda, bahkan enggan menunaikan zakat.

1. Ingat, Zakat Itu Bukan Sedekah Sukarela

Banyak orang mengira zakat sama dengan sedekah biasa. Padahal berbeda. Sedekah itu sunnah, sedangkan zakat adalah kewajiban. Jika ditinggalkan tanpa uzur, ia bukan hanya kelalaian, tapi dosa.

Dalam ajaran Islam, harta yang mencapai nisab dan telah tersimpan selama satu tahun (haul) wajib dikeluarkan 2,5% untuk zakat mal. Itu bukan “mengurangi kekayaan”, melainkan membersihkannya.

Allah berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 34–35 bahwa orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah akan mendapatkan azab yang pedih. Harta itu kelak dipanaskan dan disetrikakan ke dahi dan punggung mereka.

Ayat ini bukan untuk menakut-nakuti tanpa alasan, tapi sebagai peringatan serius.

BACA JUGA: Hukum Zakat Profesi: Pandangan Ulama Kontemporer

2. Harta Itu Ada Hak Orang Lain

Sering kali kita merasa, “Ini hasil kerja keras saya.” Benar, kita bekerja. Tapi siapa yang memberi kesehatan? Siapa yang memberi kesempatan? Siapa yang menumbuhkan bisnis kita?

Di dalam setiap harta, ada hak fakir miskin, ada hak anak yatim, ada hak orang yang kesulitan hidup. Zakat bukan kebaikan kita kepada mereka. Justru itu adalah hak mereka yang Allah titipkan melalui harta kita.

Menahan zakat sama saja dengan menahan hak orang lain.

3. Takut Miskin Karena Zakat? Itu Bisikan Setan

Salah satu alasan terbesar orang menunda zakat adalah takut berkurang hartanya. Padahal Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa harta tidak akan berkurang karena sedekah, apalagi zakat.

Logikanya sederhana: 2,5% yang dikeluarkan justru menjaga 97,5% yang tersisa agar lebih berkah. Banyak orang yang secara angka hartanya besar, tetapi hidupnya penuh masalah. Sebaliknya, ada yang hartanya sederhana, tetapi terasa cukup dan tenang.

Zakat adalah sebab datangnya keberkahan.

4. Jangan Tunggu Bangkrut atau Sakit

Ada orang yang menunda zakat dengan alasan, “Nanti saja kalau sudah lebih mapan.” Padahal bisa jadi, sebelum merasa mapan, ia sudah diuji dengan sakit, kerugian, atau bahkan kematian.

Harta yang tidak dizakati bisa menjadi sebab tertahannya keberkahan. Bahkan dalam sejarah Islam, di masa kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau sampai memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat. Ini menunjukkan betapa seriusnya kewajiban ini. Zakat bukan perkara kecil.

https://s.shopee.co.id/20pLWwsJjd

5. Kematian Tidak Menunggu

Bayangkan jika seseorang wafat dalam keadaan hartanya belum dizakati selama bertahun-tahun. Zakat itu tetap menjadi tanggungan yang harus dibayar dari harta warisnya.

Apakah kita rela menghadap Allah dengan membawa kewajiban yang belum ditunaikan?

Kita sering sibuk menghitung keuntungan bisnis, tetapi jarang menghitung kewajiban zakat. Padahal di akhirat, bukan omzet yang ditanya, tapi amanah.

6. Zakat Membersihkan Jiwa dari Cinta Dunia

Zakat bukan hanya membersihkan harta, tetapi juga membersihkan hati. Ia melatih kita agar tidak diperbudak oleh dunia. Karena sejatinya, yang membuat seseorang berat mengeluarkan zakat bukanlah nominalnya, tapi keterikatan hatinya pada harta.

Jika hati sudah terlalu cinta dunia, 2,5% terasa berat. Tapi jika hati sadar bahwa dunia hanya titipan, 2,5% terasa ringan.

7. Mulailah Sekarang, Jangan Tunda Lagi

Jika hari ini Anda sadar bahwa harta sudah mencapai nisab dan haul, jangan tunggu esok. Hitung, keluarkan, dan tunaikan.

Lebih baik sedikit terlambat daripada terus menunda.

Datangi lembaga zakat terpercaya, atau salurkan langsung kepada yang berhak. Pastikan zakat itu benar-benar sampai kepada delapan golongan yang berhak (asnaf) sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 60.

BACA JUGA: Zakat Fitrah dan Zakat Harta: Fondasi Solidaritas di Pesisir dan Kesultanan Nusantara

Harta Akan Pergi, Amal Akan Tinggal

Pada akhirnya, harta yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan. Tidak ada satu rupiah pun yang kita bawa ke kubur, kecuali yang sudah kita infakkan dan zakatkan.

Zakat bukan membuat kita miskin. Justru ia menyelamatkan kita dari kemiskinan di akhirat.

Jika hari ini Allah sudah memberi kelapangan rezeki, maka balaslah dengan ketaatan. Jangan sampai kelapangan itu berubah menjadi hisab yang berat. Karena kelak, yang kita sesali bukanlah harta yang keluar untuk zakat, 
tetapi zakat yang tidak pernah kita keluarkan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *