DI tengah masyarakat Muslim, perbedaan madzhab merupakan sesuatu yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Ada yang mengikuti madzhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali, atau pendapat ulama lainnya dalam beberapa masalah fikih. Tidak jarang, seorang suami dan istri berasal dari latar belakang madzhab yang berbeda. Pertanyaannya, bagaimana seharusnya pasangan suami istri menyikapi perbedaan tersebut?
Perbedaan madzhab tidak seharusnya menjadi sumber pertengkaran dalam rumah tangga. Justru, jika disikapi dengan ilmu dan kedewasaan, perbedaan itu bisa menjadi sarana untuk saling belajar dan memperluas wawasan keislaman.
BACA JUGA: Apakah Ada Madzhab Ulama yang Memakruhkan Rokok?
Memahami Bahwa Perbedaan Madzhab Bukan Perbedaan Agama
Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa perbedaan madzhab bukan berarti berbeda agama atau berbeda akidah. Para imam madzhab yang terkenal dalam Islam sama-sama berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah. Perbedaan yang muncul umumnya berkaitan dengan cara memahami dalil, metode istinbath hukum, atau kekuatan suatu riwayat hadis.
Karena itu, seorang suami tidak boleh menganggap istrinya sesat hanya karena mengikuti pendapat ulama yang berbeda dalam masalah fikih. Begitu pula sebaliknya.
Mengutamakan Persatuan Rumah Tangga
Tujuan pernikahan adalah membangun keluarga yang sakinah, penuh kasih sayang dan ketenangan. Jangan sampai perbedaan cara beribadah yang masih berada dalam ranah ijtihad merusak keharmonisan rumah tangga.
Misalnya, ada perbedaan dalam cara mengangkat tangan ketika shalat, membaca qunut Subuh, atau hukum menyentuh lawan jenis setelah berwudhu. Hal-hal seperti ini tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menyalahkan.
Rumah tangga yang harmonis jauh lebih penting daripada memenangkan perdebatan yang tidak menghasilkan manfaat.
Mengedepankan Sikap Saling Menghormati
Perbedaan pendapat di kalangan ulama merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam. Oleh karena itu, pasangan suami istri perlu belajar menghormati keyakinan fikih masing-masing selama memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jika istri terbiasa membaca qunut dan suami tidak, keduanya tidak perlu saling mengejek. Jika suami memiliki pendapat tertentu dalam masalah fikih dan istri mengikuti pendapat lain yang juga diakui para ulama, maka hendaknya saling menghormati.
Belajar Bersama dan Menambah Ilmu
Perbedaan madzhab bisa menjadi kesempatan untuk memperdalam ilmu agama. Daripada berdebat tanpa ilmu, lebih baik bersama-sama mempelajari dalil dan penjelasan para ulama yang terpercaya.
Dengan belajar, seseorang akan menyadari bahwa banyak persoalan yang diperselisihkan para ulama sebenarnya memiliki landasan ilmiah yang kuat. Kesadaran ini biasanya membuat seseorang lebih rendah hati dalam menyikapi perbedaan.
Mengikuti Suami dalam Hal yang Membutuhkan Kesatuan
Dalam beberapa urusan rumah tangga dan ibadah bersama, terkadang diperlukan keseragaman agar tidak menimbulkan kebingungan. Dalam kondisi seperti ini, istri dapat mengikuti arahan suami selama tidak bertentangan dengan syariat dan bukan dalam perkara yang haram.
Namun hal ini tidak berarti suami boleh memaksa istrinya meninggalkan keyakinan fikih yang selama ini dipegang. Pendekatan yang bijaksana dan penuh musyawarah tetap harus dikedepankan.
Jangan Membahas Perbedaan di Depan Anak dengan Cara yang Buruk
Anak-anak yang melihat orang tuanya terus-menerus berdebat tentang masalah agama dapat menjadi bingung. Bahkan mereka bisa kehilangan minat belajar agama karena menganggap agama hanya berisi pertengkaran.
Jika ada perbedaan pendapat, sampaikan kepada anak bahwa para ulama terkadang memiliki pandangan yang berbeda dalam sebagian masalah fikih, dan hal itu adalah sesuatu yang telah dikenal dalam sejarah Islam.
Fokus pada Hal-Hal yang Disepakati
Jauh lebih banyak hal yang disepakati oleh kaum Muslimin dibandingkan yang diperselisihkan. Semua sepakat tentang kewajiban shalat, puasa Ramadan, zakat, berbakti kepada orang tua, menjaga akhlak, dan menjauhi dosa.
Karena itu, pasangan suami istri sebaiknya lebih fokus memperbaiki kualitas ibadah, akhlak, dan hubungan keluarga daripada terus memperbesar masalah perbedaan madzhab.
BACA JUGA: Bolehkah Mengusap Kepala saat Wudhu Hanya Sebagian Saja, Tidak Seluruhnya?
Perbedaan madzhab dalam rumah tangga bukanlah musibah yang harus ditakuti. Yang berbahaya bukan perbedaannya, melainkan sikap fanatik, merasa paling benar, dan merendahkan pendapat orang lain. Selama perbedaan tersebut masih berada dalam koridor ajaran Islam yang diakui para ulama, suami dan istri hendaknya saling menghormati, saling belajar, dan menjaga persatuan keluarga.
Rumah tangga yang dipenuhi kasih sayang, ilmu, dan sikap saling menghargai akan jauh lebih kokoh daripada rumah tangga yang dipenuhi perdebatan tanpa akhir hanya karena perbedaan pendapat dalam masalah fikih. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

