Memupuk Keberanian Anak

Nasrulloh Baksolahar
15 Min Read
Foto: Freepik

BANYAK orang tua memandang anak sebagai seseorang yang belum memiliki kepribadian, pendapat, dan pikiran sendiri.

Karena persepsi itu, mereka berinteraksi dengan anak secara sepihak. Dalam banyak hal, anak tidak pernah ditanya pendapatnya, tidak diajak berdiskusi, bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan sederhana.

Anak hanya diminta menurut.

Lama-kelamaan, tanpa disadari, pola seperti ini dapat membuat anak tumbuh dengan rasa percaya diri yang lemah. Ia terbiasa menunggu perintah, takut mengemukakan pendapat, dan ragu mengambil tanggung jawab.

Padahal, sejak usia dini seorang anak telah memiliki kepribadian dan pandangan tentang banyak hal. Bahkan dalam keadaan tertentu, seorang anak dapat menangkap sebuah gagasan dengan cara yang tidak kalah tajam dibandingkan orang dewasa.

Karena itu, mendidik anak bukan berarti mematikan suaranya.

Mendidik anak berarti membimbing suaranya agar mampu menyampaikan kebenaran dengan baik.

 

RASULULLAH MENGHARGAI PENDAPAT ANAK

Rasulullah ﷺ. memberikan teladan yang sangat indah dalam menghargai anak.

Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ. diberi minuman. Di sebelah kanan beliau terdapat seorang anak kecil, sedangkan di sebelah kiri beliau terdapat beberapa orang tua.

Rasulullah ﷺ. kemudian bertanya kepada anak tersebut:

«”Apakah engkau mengizinkanku memberikan minuman ini kepada mereka?”»

BACA JUGA:  Tanamkan Iman di Rumah Sebelum Anak Bergelut dengan Dunianya

Anak itu menjawab:

«”Tidak. Demi Allah, aku tidak rela orang lain mengambil bagianku dari Baginda.”»

Rasulullah ﷺ. tidak mengabaikan jawaban anak tersebut. Beliau menghargai hak dan pendapatnya. (HR. Muslim)

Peristiwa ini sederhana.

Namun di balik kesederhanaannya terdapat pendidikan yang sangat dalam.

Rasulullah ﷺ. sedang mengajarkan kepada kita bahwa seorang anak juga memiliki hak untuk didengar.

Anak bukan sekadar objek yang harus selalu menerima keputusan orang dewasa.

Ia adalah manusia yang sedang tumbuh dan membutuhkan ruang untuk belajar menyampaikan kehendak, mempertimbangkan sesuatu, dan memahami konsekuensi dari pilihannya.

Jika sejak kecil pendapatnya selalu dianggap tidak penting, bagaimana ia akan belajar menjadi orang dewasa yang mampu mengambil keputusan?

Sebaliknya, ketika pendapatnya dihargai, anak belajar satu hal penting:

“Aku memiliki suara, tetapi suaraku harus digunakan dengan tanggung jawab.”

 

SALAM KEPADA ANAK: MEMBANGUN KEPERCAYAAN DIRI

Rasulullah ﷺ. juga biasa mengucapkan salam kepada anak-anak ketika berpapasan dengan mereka. (HR. Bukhari)

Perbuatan yang tampak sederhana ini sesungguhnya mengandung pendidikan sosial yang besar.

Rasulullah ﷺ. tidak menciptakan jarak yang membuat anak merasa tidak berarti.

Beliau menyapa mereka.

Beliau mengakui keberadaan mereka.

Beliau memperlakukan mereka sebagai bagian dari masyarakat.

Anak yang sejak kecil terbiasa berinteraksi dengan orang dewasa secara sehat akan lebih mudah tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Ia tidak mudah minder.

Ia tidak merasa bahwa dirinya selalu terlalu kecil untuk berbicara.

Ia belajar bahwa menghormati orang dewasa tidak berarti harus kehilangan keberanian untuk menyampaikan pendapat.

https://s.shopee.co.id/6pyvYXqrJk

JANGAN BIARKAN RASA SUNGKAN MEMATIKAN POTENSI ANAK

Umar bin Khaththab biasa mengajak putranya, Abdullah, menghadiri majelis Rasulullah ﷺ.

Pada suatu kesempatan, Rasulullah ﷺ. bertanya kepada para sahabat:

«”Pohon apa yang menyerupai manusia? Jika dahannya dipotong, ia mati, tetapi daunnya tidak gugur?”»

Para sahabat terdiam.

Kemudian Rasulullah ﷺ. menjawab:

«”Itulah pohon kurma.”»

Setelah keluar dari majelis, Abdullah berkata kepada ayahnya bahwa sebenarnya sejak awal ia sudah mengetahui jawabannya.

Namun ia tidak berani menjawab karena merasa sungkan kepada para sahabat Rasulullah ﷺ.

Umar kemudian berkata bahwa seandainya Abdullah menjawab saat itu, hal tersebut lebih berharga baginya daripada dunia beserta segala isinya.

Apa yang dapat kita renungkan dari kisah ini?

Kadang-kadang masalah anak bukan karena ia tidak mengetahui jawabannya.

Masalahnya adalah ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya.

Di sinilah tugas orang tua.

Bukan hanya membuat anak pintar.

Tetapi juga membuat anak berani menggunakan kepintarannya dengan benar.

Ilmu yang tidak pernah berani disampaikan tidak banyak memberi manfaat.

Namun keberanian juga harus dibimbing agar tidak berubah menjadi kesombongan.

 

KEBERANIAN BUKAN KURANG AJAR

Ada perbedaan yang sangat jelas antara keberanian dan kurang ajar.

Keberanian berarti tidak takut melakukan dan mengatakan sesuatu yang benar.

Kurang ajar berarti kehilangan adab.

Seorang anak dapat berani mengemukakan pendapat, tetapi tetap menghormati orang yang lebih tua.

Ia dapat mengkritik kesalahan, tetapi tidak merendahkan orang yang dikritiknya.

Ia dapat mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang salah, tetapi tetap menggunakan bahasa yang baik.

Rasulullah ﷺ. bersabda:

“Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua, tidak menyayangi anak kecil, dan tidak mengetahui hak orang alim.”
(Hadis hasan, riwayat Tirmidzi)»

Karena itu, jangan mendidik anak menjadi pemberani dengan cara mengajarinya melawan siapa saja.

Ajarkan kepadanya sesuatu yang lebih tinggi:

berani mengatakan benar, tetapi tetap beradab.

 

KETIKA ANAK MENGKRITIK ORANG DEWASA

Sebagian orang salah memahami penghormatan kepada orang tua.

Mereka mengira bahwa jika anak mengkritik kesalahan orang dewasa, berarti anak tersebut tidak menghormati orang tua.

Padahal, tidak demikian.

Jika seorang anak menemukan kesalahan dan menyampaikannya dengan sopan, keberaniannya justru patut dihargai.

Yang harus diperbaiki mungkin bukan keberaniannya, tetapi cara penyampaiannya jika memang kurang tepat.

Sebaliknya, orang dewasa juga harus belajar menerima kebenaran meskipun kebenaran itu datang dari seorang anak.

Rasulullah ﷺ. bersabda:

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)»

Tidak ada manusia yang terlalu tua untuk menerima kebenaran.

Dan tidak ada anak yang terlalu kecil sehingga kebenaran yang keluar dari lisannya harus otomatis diabaikan.

Kebenaran tetaplah kebenaran.

Yang perlu kita ajarkan kepada anak adalah bagaimana menyampaikannya dengan hikmah.

Yang perlu kita ajarkan kepada orang dewasa adalah bagaimana menerimanya dengan kerendahan hati.

 

MEMBENTUK KEBERANIAN DENGAN TANGGUNG JAWAB

Pendidikan keberanian tidak berhenti pada keberanian berbicara.

Anak juga perlu belajar bertanggung jawab.

Pada masa Rasulullah ﷺ., terdapat anak-anak yang memiliki semangat besar untuk berkontribusi dalam perjuangan kaum Muslimin. Sebagian ingin ikut dalam peperangan, tetapi Rasulullah ﷺ. tidak serta-merta menerima semuanya.

Beliau mempertimbangkan usia dan kemampuan mereka.

Dalam Perang Uhud, misalnya, Samurah bin Jundub dan Rafi’ bin Khudaij yang masih sangat muda ingin ikut bersama kaum Muslimin. Mereka awalnya belum diizinkan karena usia mereka.

Ketika diketahui bahwa Rafi’ memiliki kemampuan memanah, pertimbangan pun berubah. Samurah kemudian menunjukkan kemampuan fisiknya melalui gulat hingga akhirnya ia juga diizinkan.

Riwayat ini memperlihatkan bahwa keberanian anak tidak dipandang sebelah mata.

Namun keberanian juga tidak dilepaskan dari kemampuan, usia, kesiapan, dan tanggung jawab.

Ini penting bagi pendidikan anak masa kini.

Jangan hanya berkata:

“Dia masih kecil.”

Tetapi jangan pula berkata:

“Dia harus diperlakukan seperti orang dewasa dalam segala hal.”

Yang benar adalah memberikan tanggung jawab sesuai dengan tingkat kematangan dan kemampuannya, lalu meningkatkan tanggung jawab itu secara bertahap.

Celana Sirwal Anak, Ambisi
Foto: Islampos AI

JANGAN MEMPERLAKUKAN REMAJA SEBAGAI ANAK KECIL SELAMANYA

Di zaman sekarang, kita terkadang masih memperlakukan anak yang telah memasuki usia remaja sebagai bocah kecil.

Pendapatnya tidak pernah ditanyakan.

Ia tidak pernah dilibatkan dalam pembicaraan keluarga.

Ia tidak pernah diberi tanggung jawab yang berarti.

Apa pun yang hendak dilakukan orang tua, anak hanya diminta mengikuti.

Padahal pada usia tersebut, kemampuan berpikir, bakat, kecenderungan, dan karakter anak mulai semakin terlihat.

Jika terus-menerus diperlakukan sebagai anak kecil, bagaimana ia akan belajar menjadi pribadi dewasa?

Anak tidak tiba-tiba menjadi matang ketika usianya mencapai angka tertentu.

Kematangan dibentuk melalui latihan.

Ia belajar mengambil keputusan karena pernah diberi kesempatan mengambil keputusan.

Ia belajar bertanggung jawab karena pernah diberi amanah.

Ia belajar memimpin karena pernah dipercaya memimpin sesuatu.

 

SEORANG ANAK YANG BERANI BERBICARA

Dikisahkan bahwa suatu ketika sebuah kaum menghadap Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk membaiatnya.

Mereka menunjuk seorang anak untuk maju berbicara mewakili kaumnya.

Umar bin Abdul Aziz kemudian berkata kepada anak tersebut:

“Anak muda, tidakkah ada orang yang lebih tua di antara kaummu?”

Khalifah bermaksud meminta agar orang yang lebih tua yang berbicara.

Namun anak itu menjawab dengan penuh keberanian:

«”Wahai Amirul Mukminin, nilai seseorang tergantung pada dua anggota tubuhnya yang kecil, yaitu lidah dan hatinya. Jika nilai seseorang hanya bergantung pada usianya, tentu ada orang lain yang lebih berhak menjadi khalifah daripada Anda.”»

Jawaban tersebut menunjukkan bahwa usia tidak selalu menjadi ukuran tunggal bagi kualitas seseorang.

Tentu, kisah seperti ini tidak berarti setiap anak harus selalu ditempatkan di depan orang dewasa.

Pelajarannya adalah bahwa jangan menutup kesempatan hanya karena seseorang masih muda.

Bisa jadi di balik usia yang muda terdapat pemikiran yang matang, keberanian, dan potensi yang besar.

 

KEPERCAYAAN MELAHIRKAN KEMANDIRIAN

Sering kali kita mengeluhkan anak yang tidak mandiri.

Tetapi pada saat yang sama, kita tidak pernah memberinya kesempatan untuk mandiri.

Kita mengeluhkan anak yang tidak percaya diri.

Tetapi setiap kali ia mencoba melakukan sesuatu, kita buru-buru mengambil alih.

Kita menginginkan anak bertanggung jawab.

Tetapi setiap kesalahan kecil langsung kita selesaikan untuknya.

Anak akhirnya belajar satu hal:

“Aku tidak mampu.”

Karena itu, berikanlah kepercayaan.

Biarkan ia mencoba.

Biarkan ia belajar.

Biarkan ia menghadapi konsekuensi yang ringan dari pilihannya.

Jika salah, bimbing.

Jika berhasil, apresiasi.

Jika gagal, jangan langsung merendahkannya.

Kepercayaan harus diberikan secara bertahap.

Anak yang dipercaya akan belajar menjadi orang yang dapat dipercaya.

Namun kepercayaan bukan berarti membiarkan anak tanpa pengawasan.

Orang tua tetap menjadi pembimbing.

Bedanya, orang tua tidak lagi melakukan semuanya untuk anak.

Sedikit demi sedikit, anak diberi ruang untuk mengatur urusannya sendiri.

Dari situlah kemandirian tumbuh.

 

GENERASI MUDA ADALAH PEMIKUL AMANAH

Islam memiliki sejarah panjang tentang generasi muda yang diberi kepercayaan dan tanggung jawab.

Di antara mereka terdapat para pemuda yang kelak menjadi tokoh besar.

Rasulullah ﷺ. bahkan pernah memuji kelayakan Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan:

“Sesungguhnya ia layak menjadi pemimpin, sebagaimana ayahnya dahulu juga layak menjadi pemimpin.”
(Hadis sahih)»

Pelajaran pentingnya bukan sekadar bahwa orang muda dapat memimpin.

Pelajaran yang lebih dalam adalah bahwa kepemimpinan harus dibangun dengan kepercayaan dan latihan sejak dini.

Jika semua tanggung jawab selalu diberikan kepada orang yang sudah tua, kapan generasi berikutnya belajar memikul amanah?

Peradaban tidak dibangun oleh satu generasi.

Peradaban diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karena itu, anak-anak hari ini bukan sekadar anak-anak.

Mereka adalah calon pemikul amanah masa depan.

https://s.shopee.co.id/2LWWIAjXnN

MULAILAH DARI RUMAH

Mendidik keberanian tidak harus dimulai dengan perkara besar.

Mulailah dari hal-hal sederhana.

Tanyakan pendapatnya.

Dengarkan jawabannya.

Ajak ia berdiskusi.

Berikan pilihan yang sesuai usianya.

Mintalah ia menyelesaikan tugasnya sendiri.

Berikan tanggung jawab kecil.

Biarkan ia berbicara di hadapan keluarga.

Ajarkan kepadanya cara menyampaikan ketidaksetujuan dengan sopan.

Ajarkan bahwa berkata benar lebih penting daripada sekadar menyenangkan orang lain.

Dan yang tidak kalah penting:

jangan mempermalukan anak ketika ia salah.

Anak yang takut dipermalukan akan belajar menyembunyikan kesalahan.

Sebaliknya, anak yang merasa aman untuk mengakui kesalahan akan lebih mudah belajar memperbaikinya.

Keberanian bukan hanya keberanian untuk berbicara.

Keberanian juga keberanian untuk mengakui:

“Aku salah.”

Lalu memperbaikinya.

 

KEBERANIAN YANG KITA HARAPKAN

Pada akhirnya, kita tidak sedang berusaha menciptakan anak yang keras kepala.

Kita sedang membentuk anak yang memiliki pendirian.

Bukan anak yang suka melawan.

Tetapi anak yang berani mengatakan yang benar.

Bukan anak yang merasa dirinya paling hebat.

Tetapi anak yang percaya pada kemampuannya tanpa merendahkan orang lain.

Bukan anak yang tidak takut kepada siapa pun.

Tetapi anak yang tidak membiarkan rasa takut menghalanginya dari kebenaran.

Bukan anak yang menolak nasihat.

BACA JUGA:  Mengubah Keingintahuan Anak Menjadi Karya Besar

Tetapi anak yang mampu berpikir, bertanya, menerima nasihat, lalu mengambil keputusan dengan tanggung jawab.

Maka jangan terlalu cepat mengatakan:

“Diam, kamu masih kecil.”

Mungkin justru di balik suara kecil itu terdapat gagasan yang besar.

Jangan selalu berkata:

“Kamu belum mengerti.”

Mungkin ia hanya membutuhkan kesempatan untuk menjelaskan apa yang ia pikirkan.

Dan jangan takut memberikan kepercayaan.

Sebab anak yang tidak pernah dipercaya akan sulit belajar menjadi orang yang dapat dipercaya.

Berikan kepadanya ruang.

Berikan kepadanya tanggung jawab.

Berikan kepadanya kesempatan untuk mencoba.

Dan yang paling penting, berikan kepadanya teladan.

Karena keberanian anak tidak hanya tumbuh dari nasihat.

Ia tumbuh dari apa yang setiap hari ia lihat di rumah.

Jika ia melihat orang tuanya berani mengakui kesalahan, ia belajar kejujuran.

Jika ia melihat orang tuanya berani mengatakan kebenaran dengan santun, ia belajar keberanian.

Jika ia melihat orang tuanya menghargai orang lain, ia belajar adab.

Dan jika ia dipercaya untuk memikul amanah sedikit demi sedikit, ia akan belajar menjadi pribadi yang mandiri.

Anak bukan sekadar seseorang yang harus kita besarkan.

Ia adalah amanah yang sedang kita persiapkan.

Bukan hanya agar ia mampu menjalani hidupnya sendiri,

tetapi agar kelak ia mampu menjadi manusia yang teguh ketika memikul tanggung jawab yang lebih besar.

Maka tugas kita bukan mematahkan keberaniannya.

Tugas kita adalah memupuk keberaniannya, mengarahkannya dengan ilmu, menghiasinya dengan adab, dan mengikatnya dengan ketakwaan.

Sebab keberanian tanpa ilmu dapat menjadi kecerobohan.

Keberanian tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan.

Tetapi keberanian yang dibimbing oleh iman, ilmu, dan akhlak dapat menjadi kekuatan yang mengangkat martabat manusia. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *