PRESIDEN Soeharto, yang memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade (1967–1998), dikenal sebagai sosok penuh kontroversi. Namun, di balik kritik yang muncul, tak dapat dipungkiri bahwa ia juga meninggalkan sejumlah kebaikan dan warisan penting bagi bangsa ini.
Salah satu kebaikan terbesar Soeharto adalah keberhasilannya membawa stabilitas politik dan keamanan setelah masa penuh gejolak pasca-G30S/PKI. Di masa pemerintahannya, situasi negara relatif aman dan terkendali, sehingga pembangunan dapat berjalan lebih terencana. Rasa aman yang dirasakan masyarakat saat itu membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi dan sosial.
Dalam bidang ekonomi, Soeharto dikenal lewat era yang disebut sebagai “Orde Baru”, yang berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Program transmigrasi yang digagas pemerintahannya membuka wilayah-wilayah baru dan membantu penyebaran penduduk ke luar Pulau Jawa. Meski menuai pro dan kontra, program ini juga membantu pemerataan pembangunan dan membuka banyak lahan pertanian baru.
Soeharto juga dikenal melalui kebijakan swasembada pangan. Pada 1984, Indonesia pernah dinyatakan swasembada beras oleh Food and Agriculture Organization (FAO), sebuah pencapaian yang sangat membanggakan kala itu. Berkat pembangunan irigasi, peningkatan teknologi pertanian, dan pendampingan bagi petani, produksi beras nasional meningkat pesat.
BACA JUGA: 2 Dekade Irak setelah Kejatuhan Saddam: Harapan, Luka, dan Jalan Panjang Menuju Pemulihan
Di samping itu, lahirnya berbagai program kesejahteraan seperti Inpres Desa Tertinggal, pembangunan puskesmas, dan sekolah-sekolah dasar di pelosok negeri menjadi bukti nyata upaya pemerintah Orde Baru dalam memperbaiki taraf hidup masyarakat. Soeharto juga mendorong berdirinya koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional, membantu usaha kecil, serta menggerakkan perekonomian desa.
Meski sejarah selalu menyimpan catatan baik dan buruk, kebaikan-kebaikan yang diwariskan Soeharto patut dikenang sebagai bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Dari stabilitas hingga swasembada, ia ikut membangun fondasi yang masih terasa manfaatnya hingga kini. Warisan ini menjadi pengingat bahwa setiap pemimpin selalu memiliki dua sisi: keberhasilan dan kekurangan.
Berikut adalah beberapa kisah mengharukan Presiden Soeharto, yang jarang diketahui orang, namun menggambarkan sisi lain dari sosok yang dikenal sebagai “Bapak Pembangunan” Indonesia:
1. Menangis Saat Menguburkan Ibu Tercinta
Presiden Soeharto dikenal sebagai pribadi yang tegas dan pendiam. Namun, saat sang ibu, Ibu Sukirah, wafat pada tahun 1981, Soeharto tampak sangat terpukul.
Saat proses pemakaman berlangsung di dusun Kemusuk, Yogyakarta, Soeharto tampak tidak kuasa menahan air mata. Ia bahkan menunduk lama di sisi makam sang ibu.
“Saya ini orang desa, Bu. Tapi saya akan buktikan bahwa orang desa pun bisa memimpin bangsa,” katanya dulu pada sang ibu. Momen kehilangan itu mengingatkan Presiden Soeharto pada janji masa kecilnya.
2. Tetap Kunjungi Sahabat Lamanya Meski Sudah Jadi Presiden
Presiden Soeharto tidak pernah melupakan masa lalunya. Salah satu kisah mengharukan adalah saat ia diam-diam mengunjungi sahabat lamanya di desa setelah menjadi Presiden.
Tanpa pengawalan berlebihan, ia menyambangi rumah sahabat masa kecilnya hanya untuk sekadar bersilaturahmi, mengenang masa lalu, dan menunjukkan bahwa kekuasaan tak mengubah segalanya.
3. Mengadopsi Anak dari Keluarga Tak Mampu
Di luar sorotan media, Presiden Soeharto pernah mengadopsi seorang anak dari keluarga tidak mampu. Ia membiayai sekolah dan kehidupan anak itu hingga dewasa. Ketika ditanya alasannya, ia berkata, “Kalau kita bisa bantu satu anak untuk hidup lebih baik, itu berarti kita telah menolong masa depan bangsa.”
BACA JUGA: Detik-detik Pemakaman Buya Hamka
4. Sering Mengirim Uang Diam-diam ke Veteran dan Janda Pejuang
Banyak yang tidak tahu, Presiden Soeharto secara pribadi sering mengirimkan bantuan finansial kepada para veteran perang dan janda-janda pejuang kemerdekaan. Ia merasa punya hutang moral kepada para pejuang yang telah berkorban demi negeri ini. Namun bantuan itu kerap diberikan tanpa publikasi.
5. Meminta Maaf di Akhir Kepemimpinannya
Di tengah krisis 1998 yang memaksanya mundur, Presiden Soeharto akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat Indonesia. Dalam pidatonya, ia mengakui kekurangan dan kesalahan selama memimpin. Meskipun bagi sebagian orang terlambat, namun itu adalah momen langka dari seorang pemimpin yang telah berkuasa selama 32 tahun. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

