BAGI seorang Muslim, pergi haji adalah salah satu impian terbesar dalam hidup. Banyak orang ingin sekali menjadi tamu Allah di Tanah Suci, tetapi sering muncul pertanyaan:
“Haruskah saya mulai menabung untuk haji sekarang, atau tunggu kaya dulu?”
Pertanyaan ini penting, karena kemampuan berhaji dalam Islam memang berkaitan dengan kemampuan finansial dan kondisi seseorang.
Jangan menunggu kaya raya untuk mulai menabung
Banyak orang berpikir, “Nanti saja kalau sudah kaya, baru daftar haji.”
Masalahnya, kita tidak pernah tahu kapan kondisi ekonomi akan benar-benar membuat kita merasa kaya.
BACA JUGA: Aisyah r.a. Haid Saat Berhaji
Hari ini penghasilan cukup, besok ada kebutuhan keluarga. Ketika penghasilan meningkat, pengeluaran pun bisa ikut meningkat.
Akibatnya, niat berhaji selalu ditunda.
Padahal, kalau memang memiliki kemampuan untuk menyisihkan sebagian penghasilan, tidak ada salahnya mulai mempersiapkan dana haji sejak sekarang.
Menabung bukan berarti memaksakan diri berhaji ketika belum mampu. Menabung adalah bentuk ikhtiar mempersiapkan kemampuan.
Haji diwajibkan bagi yang mampu
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 97 bahwa kewajiban haji berlaku bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Artinya, haji bukan kewajiban yang dibebankan kepada orang yang benar-benar tidak mampu.
Kalau seseorang masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, memiliki utang yang harus segera dibayar, atau memiliki tanggungan keluarga yang belum terpenuhi, tentu persoalannya harus dipertimbangkan secara matang.
Jangan sampai seseorang mengejar biaya haji tetapi kebutuhan wajib keluarganya justru terbengkalai.
Menabung haji berbeda dengan memaksakan haji
Ini yang perlu dipahami.
Menabung untuk haji boleh menjadi ikhtiar. Tetapi memaksakan diri berangkat haji dengan utang atau mengorbankan kebutuhan pokok bukanlah sesuatu yang harus dilakukan.
Misalnya seseorang memiliki penghasilan pas-pasan.
Daripada mengatakan, “Saya belum kaya, jadi tidak usah memikirkan haji,” lebih baik membuat rencana sederhana:
“Setiap bulan saya sisihkan sebagian penghasilan untuk persiapan haji.”
Tidak perlu jumlahnya besar. Yang penting konsisten dan tidak mengganggu kebutuhan wajib.
Jangan sampai biaya haji berasal dari rezeki yang haram
Keinginan pergi ke Tanah Suci tentu sangat mulia.
Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat seseorang menghalalkan segala cara.
Jangan korupsi demi biaya haji.
Jangan mengambil uang orang lain.
Jangan melakukan penipuan.
Jangan mengandalkan pinjaman berbunga yang mengandung riba tanpa memahami hukumnya.
Jangan pula menggunakan harta yang jelas-jelas haram untuk membiayai ibadah.
Kita ingin menjadi tamu Allah dengan membawa bekal yang baik, bukan sekadar mengejar status sudah pernah berhaji.
Bagaimana kalau masih punya utang?
Ini perlu diperhatikan.
Tidak semua utang memiliki kondisi yang sama. Ada utang yang harus segera dibayar, ada pula kewajiban pembayaran yang masih berjalan dengan kondisi berbeda.
Jika seseorang memiliki utang yang mendesak dan kemampuan finansialnya terbatas, jangan sampai dana untuk haji membuat kewajiban kepada orang lain terabaikan.
Karena itu, sebelum serius mempersiapkan keberangkatan, sebaiknya hitung terlebih dahulu:
- kebutuhan pokok keluarga,
- utang dan kewajiban yang harus dibayar,
- biaya pendidikan dan kesehatan,
- dana darurat,
- serta kemampuan menanggung biaya perjalanan haji.
Jika semua sudah diperhitungkan, barulah membuat target dana haji secara realistis.
Jangan merasa harus kaya terlebih dahulu
Kaya dan mampu berhaji adalah dua hal yang tidak selalu sama.
Seseorang tidak harus menjadi miliarder untuk bisa menunaikan haji.
Yang penting adalah adanya kemampuan yang cukup sesuai kondisi dan tanggungannya.
Ada orang yang penghasilannya sederhana tetapi mampu mengatur keuangan dengan baik sehingga bisa mempersiapkan haji.
Sebaliknya, ada orang berpenghasilan besar tetapi selalu merasa kurang karena gaya hidupnya juga tinggi.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Kapan saya kaya?”
Tetapi tanyakan juga:
“Apakah penghasilan saya bisa saya kelola dengan lebih baik agar suatu hari saya mampu berhaji?”
Jangan iri melihat orang lain sudah berangkat
Kadang kita merasa sedih ketika melihat tetangga, saudara, atau teman sudah berangkat haji.
Sementara kita masih bekerja, menabung, dan menunggu.
Jangan jadikan itu sebagai alasan untuk berputus asa.
Setiap orang memiliki rezeki dan waktunya masing-masing.
Ada yang mendapat kesempatan berhaji di usia muda. Ada yang baru mampu setelah usia lanjut.
Tugas kita adalah berusaha sesuai kemampuan, bukan membandingkan perjalanan hidup kita dengan orang lain.
Mulailah dari nominal yang realistis
Kalau ingin mulai menabung, tidak perlu langsung memasang target yang membuat keuangan keluarga berantakan.
Tentukan nominal yang realistis setiap bulan.
Misalnya setelah kebutuhan pokok dan kewajiban terpenuhi, sebagian uang disisihkan khusus untuk tujuan haji.
Dana tersebut sebaiknya dipisahkan dari uang belanja agar tidak mudah terpakai.
Yang paling penting bukan seberapa besar tabungan pertama kita, tetapi konsistensi dalam mempersiapkannya.
Jangan lupa berdoa
Selain menabung, jangan lupakan doa.
Kita bisa meminta kepada Allah agar diberikan rezeki yang halal, kesehatan, kesempatan, dan kemampuan untuk menjadi tamu-Nya.
Sebab pada akhirnya, kemampuan berhaji bukan hanya tentang jumlah uang yang kita miliki.
Ada banyak orang yang secara finansial mampu tetapi belum mendapatkan kesempatan. Ada pula yang secara ekonomi sederhana tetapi Allah bukakan jalan.
Karena itu, ikhtiar dan doa harus berjalan bersama.
Tidak perlu menunggu kaya raya untuk mulai mempersiapkan haji.
Jika kebutuhan pokok sudah terpenuhi dan ada kemampuan menyisihkan sebagian penghasilan, menabung untuk haji merupakan bentuk ikhtiar yang baik.
BACA JUGA: Haji Seorang Presiden
Namun, jangan pula memaksakan diri berhaji dengan mengorbankan kebutuhan keluarga, menelantarkan kewajiban, atau mengambil jalan yang bertentangan dengan prinsip syariat.
Mulailah dari kemampuan yang ada.
Sedikit demi sedikit, sisihkan rezeki yang halal. Perbaiki pengelolaan keuangan. Lunasi kewajiban yang mendesak. Perbanyak doa.
Sebab kita tidak tahu kapan Allah memanggil kita menjadi tamu-Nya.
Yang penting bukan menunggu kaya baru punya niat berhaji, tetapi mulai mempersiapkan diri dengan cara yang halal sambil terus memohon agar Allah memberikan kemampuan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

