ADA sesuatu yang mengganggu setiap kali platform digital yang digembar-gemborkan sebagai “teman baru” bagi generasi muda ternyata menjadi ladang ranjau. Media sosial – yang seharusnya menjadi ruang kreativitas dan koneksi – sering kali berubah menjadi ruang pengawasan setengah diam, setengah predator.
Instagram, milik Meta Platforms, adalah salah satu contoh paling mencolok.
—
Janji Besar, Kenyataan Pahit
Selama berbulan-bulan, Instagram telah berusaha meyakinkan orang tua, advokat, dan pejabat bahwa platform tersebut aman bagi anak-anak. Kendati demikian, segudang bukti justru menunjukkan sebaliknya.
Mulai minggu ini, semua pengguna di bawah usia 18 tahun akan secara otomatis ditempatkan dalam pengaturan “13+” (Teen Account), yang membatasi umpan mereka pada konten yang memenuhi standar peringkat film AS “PG-13”.
Tetapi melihat rekam jejak perusahaan ini — janji demi janji yang gagal ditepati — pembatasan konten baru ini terasa seperti sikap berpura-pura yang tidak berguna agar mereka tampak sedang melakukan sesuatu.
—
“Saya Diabaikan, Mereka Fokus pada Keterlibatan”
Penelitian independen mengungkap realitas yang lucu dan tragis: dari 47 fitur keamanan yang diuji di Instagram, hanya 8 yang benar-benar efektif. Sisanya ternyata “tidak lagi tersedia, atau secara substansial tidak efektif.”
Lebih ekstrem: 64 % fitur tersebut gagal total dalam praktiknya.
Seorang pakar keselamatan daring Inggris, Andy Burrows (Chief Executive, Molly Rose Foundation), menegaskan:
“Kegagalan-kegagalan ini menunjukkan budaya perusahaan di Meta yang mengutamakan keterlibatan dan keuntungan daripada keselamatan.”
Dan memang, Meta sendiri memperkirakan bahwa sekitar 100.000 anak menggunakan Facebook dan Instagram mengalami pelecehan seksual daring setiap hari.
BACA JUGA: Tas Tangan Hermione dan Arsitektur Semesta: Renungan atas Nobel Kimia 2025
Pedoman PG-13: Solusi atau Sekadar Retorika?
Instagram menyatakan bahwa “mulai hari ini” mereka akan membatasi akun remaja ke standar layaknya film PG-13: larangan konten seks eksplisit, obat-obatan, aksi berbahaya, atau bahasa kasar.
Mereka menekankan bahwa pengguna di bawah 18 tahun akan otomatis masuk ke pengaturan itu — tidak bisa keluar tanpa persetujuan orang tua.
Tapi skeptisisme tetap tinggi. Kritik utamanya:
Fitur “penyaringan” semacam ini baru dibuat setelah tekanan publik dan litigasi.
Efektivitasnya belum terbukti di lapangan.
Meski ada pengaturan baru, algoritma rekomendasi tetap mendorong konten berbahaya.
Dan: tanggung-jawab utama masih diletakkan pada orang tua, bukan pada desain platform.
Pakar teknologi dan psikolog pun bertanya: apakah cukup hanya menetapkan rating ala film? Apakah algoritma yang memprioritaskan keterlibatan bisa diubah hanya lewat filter?
—
Perspektif Pakar: Antara Harapan dan Kenyataan
Dr Jinkyung Katie Park, peneliti di Stanford yang meneliti perilaku remaja di media sosial, menyebut:
“Instagram disebut paling sering dalam konteks body-shaming oleh remaja; platform ini jadi panggung terbesar untuk image-anxiety.”
Sementara itu, Dr Laura Edelson dari Northeastern University menyatakan:
“Banyak alat keamanan Instagram hanya di permukaan. Ketika kami test akun remaja, blok-filter dapat dilewati dalam waktu kurang dari tiga menit.”
Di sisi ekonomi, seorang mantan insinyur Meta, Arturo Bejar, mengungkap:
“Saya menyaksikan langsung bagaimana ide keamanan yang bagus disusutkan oleh manajemen — karena bertabrakan dengan tujuan engagement.”
—
Kenapa Ini Menjadi Masalah Universal?
Karena kita berbicara tentang generasi yang hidup terhubung secara digital—hari ini, masa depan mereka tidak hanya dibentuk oleh sekolah atau rumah, melainkan oleh algoritma yang menentukan apa yang muncul di layar mereka.
Ketika konten-bias yang mengangkat citra tubuh sempurna, aksi berbahaya, atau komunikasi langsung dengan dewasa asing terus muncul, maka platform tidak lagi netral — mereka menjadi pemain dalam sistem yang membiarkan kerusakan terjadi.
Studi menunjukkan: remaja yang sering merasa buruk tentang tubuhnya melihat lebih banyak konten “mendekati gangguan makan” (10.5 % vs 3.3 %) dibandingkan teman mereka yang tidak.
Harapan, kepercayaan diri, bahkan kebahagiaan remaja kini bisa dipengaruhi oleh algoritma.
—
Rantai Kerugian: Dari Layar ke Nyata
Pesan yang tidak diinginkan: Hampir 47 % pengguna remaja mengalami pesan atau konten tak aman dalam sebulan; 37 % dalam sepekan.
Eksposur konten self-harm, minuman keras, narkoba yang seharusnya disaring — tapi tetap muncul.
Anak-anak di bawah usia 13 tahun juga menggunakan platform meski dilarang — Instagram pun sering menawarkan konten seksual atau berbahaya.
Kebijakan yang diubah demi publisitas—sedangkan desain platform tetap mengikuti logika “engagement maksimum”.
Dengan demikian, pertanyaan bukan lagi “apakah Instagram aman?” tetapi “siapa yang benar-benar mengendalikan keamanan platform ini?”
—
Orang Tua, Regulator & Platform: Siapa yang Bertanggung Jawab?
Pertama, orang tua tidak bisa lagi berperan sebagai satu-satunya benteng. Anak-anak di dunia hiper-terhubung butuh edukasi digital yang setara dengan pelajaran keselamatan di jalan raya.
Kedua, regulator mulai bergerak. Di AS, misalnya, legislatif seperti Kids Online Safety Act (KOSA) mengusulkan kewajiban “duty of care” bagi perusahaan media sosial.
Di Inggris, lembaga seperti Ofcom diperintahkan memperkuat Undang-Undang Keselamatan Daring.
Ketiga, Instagram dan Meta harus berubah dari janji ke bukti. Filter PG-13 mungkin tampak simbolik—tetapi jika algoritma dan desain produk tetap berorientasi keuntungan tanpa memperhitungkan keselamatan, maka perubahan tetap sebatas “retorika”.
BACA JUGA: Jennifer Lopez: Tak Pernah Merasa Dicintai
Kesimpulan: Akankah Ada Perubahan Nyata?
Instagram menghadapi titik kritis:
Apakah mereka akan benar-benar mengubah desain platform agar aman dengan sendirinya, atau tetap bergantung pada filter tambahan yang bisa dilewati?
Gaya naratif media sosial—scroll tanpa henti, rekomendasi otomatis, tekanan sosial—harus dipertanyakan ulang.
Karena ketika anak-anak kita mendapatkan trauma dari layar yang seharusnya menghibur, maka platform bukan hanya gagal teknologi—melainkan gagal moral.
Pedoman PG-13 bukan jaminan keselamatan. Ia hanya langkah awal—dan jika tidak diikuti dengan transparansi, audit independen, dan desain yang benar-benar memprioritaskan kesejahteraan anak, maka kita hanya akan menyaksikan retorika lain yang gagal ditepati.
—
“Anak Anda mungkin terlindungi oleh pengaturan—tetapi apakah platform yang mereka gunakan dirancang untuk menghormati kemanusiaan mereka?”
Tanya ini kepada diri Anda, sebelum layar-layarnya jadi saksi bisu penderitaan generasi muda. []
SUMBER: THE GUARDIAN
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
