Bagaimana Cara Sembuhkan Penyakit Hati Senang Melihat Orang Susah, Susah Melihat Orang Senang?

Yudi
By Yudi
11 Min Read
Foto: Freepik

PERNAHKAH kita merasa senang ketika melihat orang yang tidak kita sukai mengalami kesulitan, tetapi justru merasa gelisah ketika melihat orang tersebut mendapatkan kesuksesan? Bahkan, ketika tetangga membeli kendaraan baru, teman memperoleh pekerjaan bagus, atau saudara mendapatkan rezeki berlimpah, hati kita malah dipenuhi rasa iri. Kita mungkin tidak mengatakannya secara langsung, tetapi diam-diam berharap kebahagiaan orang lain segera berakhir. Jika kebiasaan ini terus dipelihara, bisa jadi kita sedang berhadapan dengan penyakit hati yang perlu segera diobati.

Dalam kehidupan sehari-hari, sifat senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang sering disebut sebagai iri dengki. Dalam Islam, salah satu bentuk penyakit hati ini dikenal dengan istilah hasad, yaitu menginginkan nikmat yang dimiliki orang lain hilang atau tidak lagi dimilikinya. Orang yang memiliki sifat hasad bukan hanya sulit menikmati kebahagiaannya sendiri, melainkan juga merasa terganggu oleh kebahagiaan orang lain. Akibatnya, hidup terasa seperti perlombaan tanpa akhir yang membuat hati terus-menerus gelisah.

BACA JUGA: Masih Numpang di Rumah Mertua, Apa yang Harus Diperhatikan Saat Pasutri Jima?

1. Menyadari Bahwa Iri Dengki Merugikan Diri Sendiri

Langkah pertama untuk menyembuhkan penyakit hati adalah mengakui bahwa kita memilikinya. Sebagian orang merasa dirinya baik-baik saja, padahal ia sering meremehkan pencapaian orang lain, mencari kesalahan mereka, atau merasa puas ketika mengetahui mereka mengalami kegagalan. Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat merusak hubungan persaudaraan, menumbuhkan kebencian, dan membuat seseorang sulit merasakan ketenangan hidup.

Kita perlu memahami bahwa iri dengki tidak mengurangi rezeki orang yang kita dengki. Ketika seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, membeli rumah, atau meraih keberhasilan, kebencian kita tidak akan mengubah kenyataan tersebut. Sebaliknya, kita sendiri yang kehilangan ketenangan karena terus memikirkan kehidupan orang lain. Oleh sebab itu, tanyakan kepada diri sendiri, apakah kita ingin menghabiskan waktu untuk memperbaiki kehidupan sendiri atau justru sibuk berharap kehidupan orang lain menjadi lebih buruk?

2. Memahami Bahwa Rezeki Setiap Orang Berbeda

Salah satu penyebab iri dengki adalah kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Kita melihat teman sudah memiliki rumah, sedangkan kita masih mengontrak, atau melihat saudara memiliki penghasilan besar sementara kebutuhan keluarga sendiri masih terasa berat. Perbandingan semacam ini dapat membuat kita lupa bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup, kesempatan, tanggung jawab, dan ujian yang berbeda.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 32 agar manusia tidak iri terhadap kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian orang atas sebagian yang lain. Ayat ini mengajarkan bahwa setiap orang hendaknya memohon karunia kepada Allah dan tidak menjadikan nikmat orang lain sebagai alasan untuk membenci mereka. Kita boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik, tetapi jangan sampai keinginan tersebut membuat kita berharap orang lain kehilangan kebahagiaannya.

Perlu diingat pula bahwa kehidupan orang lain yang terlihat menyenangkan belum tentu bebas dari masalah. Orang yang memiliki banyak uang mungkin sedang menghadapi persoalan keluarga, sedangkan orang yang terlihat sederhana mungkin memiliki ketenteraman yang tidak kita miliki. Kita tidak selalu mengetahui seluruh kenyataan di balik kehidupan seseorang. Karena itu, lebih baik mensyukuri apa yang ada sambil terus berusaha daripada menyiksa diri dengan membandingkan segala sesuatu.

3. Melatih Diri Ikut Bahagia atas Kebahagiaan Orang Lain

Cara berikutnya adalah membiasakan diri memberikan respons positif ketika orang lain memperoleh nikmat. Ketika teman mendapatkan pekerjaan, ucapkan selamat dengan tulus, meskipun kita sendiri masih mencari pekerjaan. Ketika saudara berhasil membeli rumah, doakan agar rumah tersebut membawa kebaikan bagi keluarganya. Pada awalnya, tindakan ini mungkin terasa berat, terutama jika hati sudah terbiasa membandingkan diri dengan orang lain, tetapi kebiasaan baik dapat membantu membentuk sikap yang lebih sehat.

Kita tidak harus menunggu sampai perasaan iri hilang sepenuhnya untuk mulai berbuat baik. Justru, ketika rasa iri muncul, gunakan kesempatan tersebut untuk melatih diri melakukan tindakan yang berlawanan dengan dorongan negatif itu. Jika biasanya kita ingin meremehkan keberhasilan seseorang, cobalah memberikan apresiasi yang jujur. Jika biasanya kita ingin menyebarkan kabar buruk tentangnya, tahan lisan dan jangan ikut menyebarkan sesuatu yang dapat merusak nama baiknya.

Dalam Islam, mendoakan kebaikan bagi orang lain juga merupakan latihan yang sangat bermanfaat. Kita dapat memohon agar Allah memberkahi rezekinya sekaligus memberikan rezeki yang baik kepada diri sendiri. Dengan begitu, kita belajar bahwa keberhasilan orang lain tidak harus menjadi ancaman bagi kebahagiaan kita. Nikmat Allah sangat luas, dan kita tidak perlu berharap orang lain jatuh agar kehidupan kita dapat meningkat.

https://s.shopee.co.id/2Vrx5sXv0j

4. Memperbanyak Syukur dan Mengurangi Kebiasaan Membandingkan Diri

Orang yang kurang bersyukur sering kali lebih mudah melihat apa yang dimiliki orang lain daripada menyadari nikmat yang ada pada dirinya sendiri. Ia mungkin memiliki keluarga yang menyayanginya, tubuh yang masih mampu beraktivitas, tempat tinggal, atau pekerjaan yang halal, tetapi seluruh nikmat tersebut terasa tidak berarti karena ia terus membandingkan hidupnya dengan orang yang lebih kaya. Akibatnya, semakin banyak yang dilihat, semakin banyak pula hal yang membuatnya merasa kekurangan.

Cobalah membiasakan diri mengingat nikmat yang sudah dimiliki setiap hari. Tidak harus berupa kekayaan besar, karena kesehatan, kesempatan beribadah, makanan yang tersedia, dan hubungan baik dengan keluarga juga merupakan nikmat yang patut disyukuri. Rasa syukur bukan berarti berhenti berusaha memperbaiki keadaan, melainkan menyadari bahwa kita masih mempunyai banyak hal yang layak dihargai sambil terus mengejar tujuan yang baik.

Kurangi pula kebiasaan memantau kehidupan orang lain hanya untuk membandingkannya dengan kehidupan sendiri. Jika media sosial membuat kita terus merasa tertinggal, batasi penggunaannya dan alihkan waktu untuk belajar, bekerja, beribadah, atau mengembangkan kemampuan. Kita tidak harus mengetahui semua pencapaian orang lain untuk bisa menjalani kehidupan dengan baik. Fokus pada kemajuan diri sendiri akan membuat energi kita lebih bermanfaat.

5. Membersihkan Hati dengan Ibadah dan Memohon Pertolongan Allah

Penyakit hati tidak cukup diatasi dengan mengubah perilaku di hadapan orang lain, tetapi juga perlu dibersihkan melalui perbaikan hubungan dengan Allah. Perbanyak istigfar, jaga shalat wajib, baca Al-Qur’an, dan berdoalah agar Allah membersihkan hati dari kesombongan, kebencian, serta iri dengki. Ibadah hendaknya tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga kesempatan untuk mengevaluasi sikap dan memperbaiki diri.

Salah satu doa yang relevan terdapat dalam Surah Al-Hasyr ayat 10. Dalam ayat tersebut, orang-orang beriman mengajarkan doa agar Allah mengampuni mereka dan saudara-saudara mereka yang telah beriman serta tidak menjadikan kedengkian dalam hati terhadap orang-orang beriman. Doa ini menunjukkan pentingnya memohon pertolongan Allah agar hati tidak dipenuhi kebencian kepada sesama Muslim.

Selain berdoa, lakukan pula tindakan nyata untuk memperbaiki hubungan yang rusak akibat iri dengki. Berhentilah menggunjing, jangan menyebarkan fitnah, dan mintalah maaf apabila pernah merugikan orang lain. Jika seseorang pernah menyakiti kita, berusahalah mengelola kemarahan tanpa harus membalas keburukan dengan keburukan. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan atau membiarkan diri terus disakiti, melainkan berusaha melepaskan kebencian sambil tetap menjaga batas yang sehat.

6. Mengubah Rasa Iri Menjadi Motivasi untuk Memperbaiki Diri

Tidak semua keinginan untuk memiliki sesuatu seperti yang dimiliki orang lain merupakan hasad. Dalam Islam, ada perbedaan antara menginginkan nikmat serupa tanpa berharap nikmat orang lain hilang dan menginginkan nikmat orang lain lenyap. Keinginan untuk menjadi lebih berilmu, lebih rajin beribadah, atau lebih mampu menafkahi keluarga dapat menjadi motivasi yang baik selama tidak disertai kebencian terhadap orang yang lebih dahulu berhasil.

Misalnya, ketika melihat teman berhasil membangun usaha, kita dapat mempelajari kedisiplinan, keterampilan, dan cara kerjanya. Ketika melihat seseorang rajin bersedekah, kita bisa terdorong untuk meningkatkan kepedulian kepada sesama sesuai kemampuan. Dengan cara ini, keberhasilan orang lain menjadi sumber inspirasi, bukan sumber penderitaan. Kita tetap berusaha meraih kehidupan yang lebih baik tanpa harus menjatuhkan siapa pun.

Namun, penting untuk diingat bahwa perubahan hati tidak selalu terjadi dalam sehari. Ada kalanya rasa iri muncul kembali meskipun kita sudah berusaha memperbaiki diri. Ketika itu terjadi, jangan menyerah atau menganggap diri tidak mungkin menjadi lebih baik. Akui perasaan tersebut, jangan menuruti dorongan untuk menyakiti orang lain, lalu kembalilah melatih syukur dan mendoakan kebaikan.

BACA JUGA: Tubuh Perlu Istirahat, Pikiran Perlu Ketenangan, Hati Perlu Kedekatan kepada Allah

Penyakit hati berupa senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang dapat merusak ketenangan diri, hubungan sosial, dan kualitas kehidupan beragama. Cara mengobatinya dimulai dengan menyadari adanya iri dengki, memahami bahwa rezeki setiap orang berbeda, membiasakan diri ikut bahagia atas kebahagiaan orang lain, memperbanyak syukur, serta meningkatkan ibadah dan doa. Kita juga perlu mengubah kebiasaan membandingkan diri menjadi semangat untuk memperbaiki kehidupan sendiri.

Pada akhirnya, keberhasilan orang lain tidak mengurangi kesempatan kita untuk mendapatkan kebaikan. Kita tidak menjadi lebih kaya hanya karena tetangga jatuh miskin, tidak menjadi lebih mulia hanya karena teman gagal, dan tidak menjadi lebih bahagia hanya karena orang yang kita benci mengalami kesulitan. Kemuliaan seseorang justru terlihat dari kemampuannya menjaga hati dan tetap berbuat baik ketika melihat orang lain memperoleh nikmat.

Mari kita renungkan satu pertanyaan sederhana: jika hari ini kita merasa sedih melihat orang lain bahagia, sebenarnya siapa yang sedang kita rugikan? Jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain hingga lupa mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada diri sendiri. Sebab, hati yang bersih bukanlah hati yang tidak pernah diuji oleh rasa iri, melainkan hati yang terus berusaha melawan kedengkian dan belajar mencintai kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *