PERNAH melewati jalan tua di Pulau Jawa yang dinaungi pepohonan besar? Di sejumlah ruas jalan peninggalan kolonial, pohon asam masih bisa ditemukan. Pohonnya rindang, batangnya kokoh, dan usianya dapat mencapai puluhan hingga ratusan tahun.
Keberadaan pohon asam di tepi jalan bukan sekadar hiasan. Pohon ini memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya cocok ditanam di wilayah tropis, terutama di sepanjang jalan yang dahulu dilalui pejalan kaki, kereta kuda, dan kendaraan pengangkut barang.
Lantas, apakah pemerintah kolonial Belanda sengaja menanam pohon asam di sepanjang jalan Jawa? Apa alasannya, dan apakah ada kaitannya dengan proyek pembangunan jalan pada masa itu?
Peneduh bagi Pengguna Jalan
Alasan paling masuk akal adalah untuk memberikan keteduhan. Pada masa itu, jalan raya digunakan oleh pejalan kaki, kuda, kereta kuda, hingga pengangkut barang. Perjalanan jauh di bawah terik matahari tentu melelahkan.
Pohon asam memiliki tajuk yang lebar sehingga dapat memberikan naungan cukup luas. Kehadirannya membuat perjalanan lebih nyaman, terutama di daerah tropis seperti Jawa. Menurut penjelasan sejarawan Universitas Sebelas Maret, Harto Juwono, fungsi pohon asam di tepi jalan juga berkaitan dengan manfaat lingkungan, termasuk membantu penyerapan air hujan dan mengurangi erosi.
BACA JUGA: Ternyata Kue Odading Itu Asalnya dari Bahasa Belanda “O, Dat Ding?”
Bayangkan perjalanan dari satu kota ke kota lain pada abad ke-19. Belum ada mobil berpendingin udara, dan perjalanan bisa berlangsung berjam-jam. Barisan pohon rindang tentu sangat membantu.
Pengganti Pohon yang Biasa Ditanam di Eropa
Ada penjelasan menarik mengenai pemilihan pohon asam. Menurut Harto Juwono dalam wawancara dengan Kompas, penanaman pohon asam merupakan kelanjutan kebiasaan tata ruang Eropa yang menggunakan pohon ara sebagai penghias dan peneduh jalan.
Karena pohon ara sulit ditemukan dan tidak mudah tumbuh di Jawa, pohon asam digunakan sebagai alternatif yang dianggap memiliki fungsi serupa. Dengan demikian, pemilihan pohon asam bukan semata-mata karena buahnya, melainkan juga karena karakter pohonnya cocok untuk menghiasi jalan.
Pohon asam juga berumur panjang dan relatif tahan terhadap kondisi kering. Karakter tersebut membuatnya cocok untuk penanaman di sepanjang jalan yang membentang jauh dan membutuhkan pohon yang tidak harus sering diganti.
Berkaitan dengan Pembangunan Jalan Raya Pos
Pembahasan pohon asam juga tidak bisa dilepaskan dari pembangunan jalan pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, yang memerintah pada 1808–1811.
Daendels memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos atau Groote Postweg, yang menghubungkan Anyer di Banten hingga Panarukan di Jawa Timur. Panjang jalurnya sekitar 1.000 kilometer. Jalan ini dibangun untuk menunjang komunikasi, administrasi pemerintahan, dan kepentingan pertahanan kolonial.
Penting dicatat, pembangunan Jalan Raya Pos tidak hanya meninggalkan infrastruktur, tetapi juga sejarah kelam kerja paksa yang menimbulkan penderitaan dan korban jiwa. Karena itu, kisah pohon peneduh di sepanjang jalan tidak seharusnya menutupi sisi tragis pembangunan tersebut.
BACA JUGA: Bila Kapal Haji Dibom Belanda
Meski pohon asam banyak dikaitkan dengan jalan-jalan peninggalan kolonial, tidak berarti setiap pohon asam tua yang kita jumpai pasti ditanam pada masa Daendels. Untuk memastikan usia dan asal penanamannya, diperlukan catatan sejarah atau penelitian setempat.
Bukan Sekadar Pohon Pinggir Jalan
Pohon asam memiliki fungsi lain di luar keteduhan. Buahnya digunakan sebagai bahan masakan dan minuman, sedangkan bentuk tajuk serta batangnya yang kokoh membuatnya menarik sebagai penghias lanskap. Dalam penjelasan sejarawan yang dikutip Kompas, pohon asam juga memiliki makna simbolis dalam budaya Jawa.
Jadi, pohon asam banyak ditanam di tepi jalan pada masa kolonial terutama karena fungsinya sebagai peneduh, kecocokannya dengan iklim Jawa, dan nilai estetikanya. Pohon ini menjadi bagian dari tata ruang jalan pada masa itu, bukan sekadar tanaman yang tumbuh secara kebetulan.
Kini, ketika sebagian jalan lama sudah berubah menjadi jalan raya yang padat, pohon-pohon asam tua yang masih bertahan menjadi pengingat bahwa infrastruktur bukan hanya soal jalan dan kendaraan. Ada pula jejak sejarah, lingkungan, dan kehidupan manusia yang menyertainya. []
SUMBER: KOMPAS | TIRTO | RRI.CO.ID |
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE






Tulis komentar