Pakaian Umar bin Khattab yang Ditanyakan

3 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

DI suatu siang yang terik di Madinah, Umar bin Khattab berdiri di hadapan kaum muslimin.
Langkahnya tegas, suaranya jernih.
Ia hendak berkhutbah—tentang amanah, tentang keadilan, tentang takut kepada Allah.

Namun mata-mata rakyat lebih dulu menangkap sesuatu yang ganjil.
Pakaian Umar.

Hari itu, Baitul Mal baru saja membagikan jatah kain.
Setiap orang mendapat bagian yang sama.
Sebidang kain yang cukup—jika tubuhmu biasa.
Tapi Umar tidak bertubuh biasa.
Tinggi, bidang, dan panjang.
Kain itu, bila dikenakan seorang diri, tak akan cukup menutupinya.

Sebelum Umar melanjutkan khutbahnya, suara dari barisan jamaah memotong udara.
Dengan berani, seorang lelaki berkata,
“Wahai Amirul Mukminin, kami tidak akan mendengar dan tidak akan taat.”

BACA JUGA: Kenapa Umar bin Khattab Dijuluki Al-Faruq?

Madinah terdiam.
Angin seakan berhenti berembus.

Umar tidak marah.
Ia tidak memanggil algojo.
Ia tidak menyebut jabatan.
Ia bertanya, dengan tenang,
“Mengapa?”

Lelaki itu menjawab,
“Karena engkau mengenakan pakaian yang tidak cukup untuk kami.
Setiap orang mendapat satu jatah kain.
Bagaimana mungkin kain itu cukup untuk tubuhmu?”

Inilah Umar.
Khalifah yang tidak kebal pertanyaan.
Pemimpin yang berdiri setara di hadapan hukum.

Umar tidak membela diri dengan pidato panjang.
Ia menoleh.
Memanggil seorang anak muda dari barisan belakang.

https://shopee.co.id/product/1343587831/27310804639?gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkVHQ3ZkZSUTMrR3pBWmZZNzdrcnRBMGQ5Mk1KZHhtSGtnTWtzVThsYU9vOW9tR2ttNnRJQnBkZzdXbEhLallWVVd0TzlrNHYzQm1QOGxrd1Awcy9PZ0xwMjZMWVZLUXYwa1J6Q0cra0xUbFVWS2VPeGU4dVZFM3R2aVRYV0lrOEgyUzJ1Nk5RVTUxTjVHeVZ0enhPNGRzPQ&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54jrahvh02ke&utm_campaign=id_HSaHp71NrV&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=e8n667egvme1

“Wahai Abdullah,” katanya.
“Jelaskan kepada mereka.”

Abdullah bin Umar melangkah maju.
Wajahnya teduh.
Suaranya jujur.

“Wahai kaum muslimin,” katanya,
“ayahku adalah lelaki yang tinggi.
Kain jatahnya tidak cukup.
Maka aku memberikan jatah kainku kepadanya,
agar ia bisa berpakaian dengan layak.”

Sunyi kembali menyelimuti masjid.
Bukan sunyi karena takut.
Sunyi karena malu.

Lelaki yang tadi bersuara menunduk.
Ia berkata,
“Sekarang kami mendengar.
Sekarang kami taat.”

Umar mengangkat tangannya.
Khutbah pun dimulai.

Tidak ada kemewahan dalam kisah ini.
Tidak ada istana.
Tidak ada protokol.

Hanya seorang ayah yang menerima kain dari anaknya.
Hanya seorang pemimpin yang mau ditanya.
Hanya sebuah negara yang berdiri di atas kejujuran.

Kisah ini diriwayatkan dalam sumber-sumber sirah dan atsar yang kuat.
Di antaranya disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam *Manaqib Umar*,
juga dinukil oleh para sejarawan seperti Ibn Katsir dalam *Al-Bidayah wan Nihayah*,
serta dikuatkan oleh riwayat-riwayat tentang ketegasan Umar dalam menjaga harta publik.

BACA JUGA: Kepada Siapa Umar bin Khattab Bertanya Saat Menghadapi Persoalan?

Umar bin Khattab tahu,
kezaliman sering kali tidak datang dalam bentuk besar.
Ia datang dalam selisih kecil.
Dalam sehelai kain.
Dalam pembenaran yang dibiarkan.

Karena itu ia gemetar bila menyentuh harta umat.
Karena itu ia rela ditanya di tengah khutbah.
Karena itu ia membiarkan anaknya sendiri berkorban,
agar ia tidak berkhianat.

Beginilah Umar.
Ia tidak hanya menaklukkan negeri.
Ia menaklukkan dirinya sendiri.

Dan sampai hari ini,
sehelai kain itu masih lebih berat dari mahkota raja-raja. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *