ISA bin Musa sangat mencintai istrinya. Pada suatu hari, Isa berkata kepadanya,
“Kamu kucerai, bila kamu tidak lebih cantik daripada bulan.”
Sang istri berkata,
“Engkau telah menceraikanku.”
Dia pergi, dan menutup diri dari suaminya.
Pagi menjelang. Isa menghadap kepada Khalifah Al-Mansur. Dia menceritakan apa yang terjadi antara dia dan istrinya.
Dia berkata,
“Wahai Amirul Mukminin, jika cerai (talak) yang kukatakan benar-benar terjadi, maka matilah aku. Rasanya mati lebih aku sukai daripada hidup.”
Khalifah Al-Mansur melihat mendung hitam di wajah Isa. Karena itu, ia memanggil para ahli fikih meminta fatwa mereka.
Seluruh ahli fikih yang hadir mengatakan,
“Telah jatuh talakmu.”
Hanya satu orang yang tidak berpendapat seperti itu. Dia adalah ahli fikih dari kalangan madzhab Hanafi. Dia hanya diam.
Khalifah Al-Mansur bertanya kepada ahli fikih Hanafi itu,
“Mengapa engkau hanya diam?”
Ahli fikih Hanafi itu berkata,
“Bismillahirrahmanirrahim. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tin: 1-4) Tiada makhluk yang lebih cantik daripada manusia.”
Khalifah Al-Mansur berkata kepada Isa bin Musa,
“Allah telah memberikan pertolongan-Nya kepadamu. Kamu benar, istrimu memang lebih cantik daripada bulan. Kembalilah kepada istrimu! Berpesanlah padanya agar selalu mentaatimu!” []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


